"Ternyata benar, Bos baru kita tampan luar biasa sesuai gosip yang beredar. Dia mempesona, sumpah. Mata tajamnya yang se dingin es sungguh memikat, akh, aku kelepek-kelepek hanya dengan mendapat satu lirikannya saja." Seorang karyawati memekik tertahan, dia tengah berjalan bersama satu temannya.
Temannya yang ada di samping terkekeh pelan, mengangguk membenarkan apa yang dikatakan sang teman. "Dia memang tampan, tapi terlihat perfectsionis dan arogan. Bukan hanya tatapannya saja yang dingin, cara bicara dan raut wajahnya pun datar seakan apapun yang ada di sekitarnya tak menarik bagi dia. Laki-laki seperti itu susah didekati, alih-alih suka mungkin kita akan kehilangan pekerjaan bila nekat mendekatinya."
"Semakin sulit didekati, semakin menantang. Tipe idealku banget," balasnya, terkekeh saat mendapati ekspresi ngeri sang teman.
Mina yang tengah mengepel lantai tak sengaja mendengar obrolan dua karyawati yang lewat di depannya, mendadak dia jadi penasaran dan takut secara bersamaan akan sang bos baru. Bos lama sudah pensiun, kini diganti oleh anaknya yang masih muda.
"Kira-kira siapa bos baru itu?" gumam Mina penasaran.
Selagi mengepel lantai, sesekali Mina akan melihat ponsel untuk memastikan kalau Tara balik menghubunginya atau tidak. Dia menatap kecewa setiap kali melihat tak ada panggilan balik, padahal dirinya sudah berharap setidaknya satu kali saja Tara menghubunginya.
"Orang gila mana yang tahu suaminya pengecut malah mengharapkan di hubungi balik, malah lebih berharap lagi ngajak bertemu." Dengus Mina, sebelum kemudian dia tertawa dengan ucapannya sendiri.
"Mina, anterin kopi ke ruang bos."
Mina langsung merapatkan bibir saat ada yang memerintahnya, menoleh dan menemukan Iyah sang kepala kebersihan. Buru-buru Mina menjawab, "maaf Bu Iyah, tapi pekerjaanku belum selesai."
"Tak apa, biar nanti orang lain yang kerjakan." Balas Iyah sambil mengambil alih gagang pel dari tangan Mina. "Sana, buatan kopi untuk bos. Ingat jangan sampai telat, kalau tidak kamu sendiri yang tanggung akibatnya."
"Baik," patuh Mina sambil mengangguk sopan, sebelum kemudian melangkah pergi menuju pantry.
Mina sebenarnya enggan membuatkan bos kopi setelah mendengar pembicaraan dua karyawati yang lewat di depannya tadi, dia takut melakukan kesalahan dan berakhir di pecat. Mau bagaimanapun Mina membutuhkan pekerjaan ini, pengobatan ayahnya tidak ditanggung ibu atau saudara tirinya jadi dia harus tetap bekerja. Namun, perintah Iyah tidak dapat dirinya tolak atau kalau tidak dirinya akan menjadi anak buah yang tak menurut pada atasan.
Setelah kopi selesai di buat, Mina memutuskan untuk naik lift agar bisa cepat sampai. Saat dirinya menunggu lift naik, karena muatan terlalu penuh lift malah membunyikan alarem peringatan. Mina berdiri gelisah karena tak ada yang mau keluar, takut tak sempat memberikan kopi untuk bos baru.
Tiba-tiba sebuah ide muncul, dia melihat laki-laki tinggi yang berdiri paling depan dalam lift. Menggigit bibir bawahnya, Mina mendekat dengan cepat meminta maaf. "Maafkan saya, tolong jangan menaruh dendam."
bruk
Belum sempat laki-laki itu merespon, dia shok saat tubuhnya tiba-tiba terdorong keluar dari lift sampai terjatuh.
Mina, pelaku yang mendorong b****g laki-laki tinggi di depan. Begitu laki-laki itu menoleh, Mina melebarkan mata karena rupanya laki-laki itu adalah pemilik mobil yang dia masuki tadi pagi.
"Maaf," Mina memiliki ekspresi hampir menangis saat laki-laki itu balas menatapnya dengan tatapan penuh dendam. Beruntung pintu lift cepat tertutup, setidaknya untuk saat ini Mina bisa terhindar dari sorot mematikan sang laki-laki tinggi.
Di dalam lift, Mina terus berdoa agar tidak bertemu lagi dengan laki-laki itu. Hingga lift terbuka, Mina keluar meninggalkan orang-orang dalam lift yang menatap ngeri ke arah dirinya.
"Bisa jadi laki-laki itu klien bos, jadi kemungkinan untuk bertemu kembali sangat kecil." Monolog Mina sambil berjalan menuju ruangan bos, membawa kopi yang masih panas untuk diberikan pada bos sesuai pesanan. Mina menarik nafas, lalu membuangnya perlahan guna menenangkan diri.
"Tenang Mina, kamu hanya orang kecil. Pasti orang sepertimu akan terlupakan dengan cepat, laki-laki itu tak akan mencarimu untuk balas dendam." hiburnya pada diri sendiri.
tok tok tok
Mina mengetuk pintu.
Tak ada sahutan dari dalam, membuat Mina menoleh ke arah samping di mana sang sekretaris bos yang bernama Nora berada. "Bu Nora, saya diperintah untuk mengantarkan kopi ke ruangan bos. Saya baru saja mengetuk pintu, tapi tak ada sahutan dari dalam. Bagaimana bagusnya? Saya tinggalkan kopi di sini atau bawa lagi ke bawah?"
"Bila bos yang meminta, lebih baik kamu masuk dan taruh kopinya di ruangan bos." Saran Nora, perempuan hamil muda yang masih giat bekerja demi mengumpulkan biaya buat persalinan.
Mina agak sangsi begitu disuruh masuk, takut tiba-tiba sang bos datang dan menyangka yang tidak-tidak pada dirinya. "Boleh gak kalau saya minta tolong Bu Nora saja yang simpan ke dalam ruangan bos?"
Nora memiliki ekspresi menyesal saat mendengar permintaan Mina, memperlihatkan pekerjaannya yang menumpuk. "Maaf, Mina. Saya sepertinya tak bisa, pekerjaanku banyak sekali dan bos memintanya untuk diserahkan sebelum jam istirahat tiba."
"Hm," Mina merengut kecewa. "Kalau begitu saya masuk, ya."
"Iya," Nora mengangguk mengiyakan.
Perlahan Mina memutar handle pintu, lalu mendorongnya masuk ke dalam. Tanpa menutup pintu, Mina melangkah dan menyimpan kopi ke atas meja. Saat Mina hendak buru-buru pergi, tak sengaja dia melihat papan nama yang terdapat di atas meja.
'"Argan-TARA Pramugiya Widoyo," Mina mengeja nama yang terdapat pada papan nama dengan sedikit linglung.
Nama bos baru terdengar tak asing di telinga Mina, dia berpikir sesaat sambil memperhatikan papan nama dengan seksama. Satu kesimpulan muncul dalam pikirannya, pantas dirinya merasa tak asing dengan nama sang bos sebab terdapat nama yang sama dengan suami misteriusnya.
TARA
Terdapat kata 'Tara' pada nama sang bos, tapi Mina tahu itu bukan berarti bosnya adalah suami misteriusnya. Bisa saja nama yang hampir sama, di dunia ini banyak orang yang memiliki nama sama jadi tak menutup kemungkinan kalau nama suami misteriusnya dan nama bosnya juga hampir sama.
"Lagi pula Tara suami misteriusku seorang yang duduk di kursi roda dan pendiam, tak mungkin dia menjadi pemimpin perusahaan menggantikan ayahnya yang pensiun," ujar Mina sambil terkekeh, geli karna sempat menyangka kalau bos barunya adalah suami misteriusnya.
Setelah memikirkan ulang tentang nama yang dia baca di papan nama, Mina membalik badan guna keluar dari ruangan. Namun, begitu membalik badan, mata Mina malah melotot horor saat melihat seseorang kini berdiri di ambang pintu dengan mata tajam mengeluarkan laser.
"Ka-kamu mengikutiku hingga kesini?" Hampir saja Mina berteriak andai tidak ingat tengah berada di mana saat ini dirinya, beruntung dia memiliki pengendalian diri cukup baik sehingga mampu menahan teriakannya akibat shok.
Laki-laki ini pedendam sekali, pikir Mina.
Tak mau memperpanjang masalah, apa lagi posisinya saat ini berada di ruangan bos yang katanya arogan buru-buru Mina ingin menyelesaikan masalahnya dengan laki-laki di depan. "Untuk kejadian di lift, saya mohon tolong maafkan saya. Saya tak punya pilihan selain mendorong Anda keluar, sebab bila tidak lift tak akan bergerak maju dan saya akan telat mengantarkan kopi ke sini."
Laki-laki itu bergeming, tampak tak berminat mendengar ocehan Mina.
"Ayo, kita selesaikan masalah di luar. Jangan di sini, saya takut bos datang dan berakhir memarahiku." Seru Mina, mengajak laki-laki di depannya untuk keluar dari ruangan.
"Ck," laki-laki yang kini masih berdiri di ambang pintu berdecak malas dengan seruan Mina. Tanpa kata melenggang masuk, lalu dengan gaya santai pembawaan tenang duduk di kursi kebesaran sang bos.
Melihat laki-laki di depannya sangat santai duduk di kursi bos, bibir Mina terbuka lalu tertutup lagi. Jantungnya berdebar keras, tak berhenti menatap papan nama dan laki-laki itu secara bergantian. Mina menelan ludah, wajahnya mendadak pucat pasi saat otaknya mengantarkan sebuah alarem berbahaya yang berbunyi memberi peringatan.
"Ka-kamu Pak Arga bos baru di sini?" Cicit Mina dengan suara tergagap.
"Menurutmu?" Suara bernada rendah itu menimpali, mengejek Mina dengan sinis.
Seketika Mina berharap punya jurus Shunshin no Jutsu milik Naruto, setidaknya walau masih bisa dicari tapi untuk saat ini dia bisa menghilang dari laki-laki yang dikira cuma orang lain ternyata bos yang terkenal perfectsionis dan arogan.
Matilah sudah, alamat jadi pengangguran beberapa menit lagi. Mina membatin nelangsa.
***