Bab 1. Wasiat Sahabat
“Aku ingin kamu menikahi Anik jika umurku nggak sampai. Aku ingin dia hidup bahagia dengan segala fasilitas yang selama ini belum pernah dia miliki dan rasakan. Dia sudah lama hidup sengsara, dia juga tidak punya siapa-siapa lagi.”
Seno mendengus kecil mendengar ucapan sahabatnya yang sudah cukup lama mengidap penyakit kanker getah bening, dan dokter sudah menyatakan bahwa usia sahabatnya itu tidak sampai satu bulan ke depan. Tapi dia masih memiliki keyakinan bahwa sahabatnya itu bisa hidup lebih lama. Terlebih, keadaannya cukup menggembirakan hari ini, bisa bicara dengan lancar. Bagaimanapun, kata-kata sahabatnya itu cukup berlebihan dan tidak bisa diterima.
“Ron. Kamu ini ada-ada saja, mana mungkin aku menikah lagi. Aku sudah bahagia dengan keluarga kecilku, aku nggak mau menyakiti hati istriku,” balas Seno dengan santai, meskipun agak kaget dengan kata-kata Ronan, dan dia yang sebelumnya juga tidak menyangka bahwa Ronan yang ternyata memiliki istri muda yang bernama Anik.
“Kamu belum mengenal Anik, dia perempuan yang baik hati, penuh perhatian dan penurut, dia yang selama ini mengurusku,” ujar Ronan pelan sambil memperbaiki kain yang menutup bahunya. “Aku khawatir dia diusir Fara, dan dia yang tidak punya tempat tinggal.”
Seno tersenyum kecil, tetap tidak tertarik, menganggap kata-kata Ronan sebagai curahan hati, dan menurutnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. “Aku bisa memberinya tempat tinggal, tidak harus menikah,” usulnya.
Ronan menoleh dan mengamati Seno, lalu beralih lurus ke depan. Menghela napas panjang dan berkata. “Maaf, aku … berlebihan. Aku melihat kamu adalah pria yang pantas dengannya. Aku tidak bisa percaya dengan orang selain kamu.”
Seno melirik arloji di tangan, “Aku harus pergi, jangan terlalu banyak pikiran, Ron,” ujar Seno, menepuk-nepuk pundak Ronan pelan. Dia berdiri dan pergi setelah seorang suster datang memeriksa keadaan Ronan.
Saat baru saja ke luar dari ruang inap, Seno berpas-pasan dengan seorang perempuan anggun berwajah manis, berjalan tergesa-gesa dan raut khawatir di wajahnya. Dia masuk ke dalam ruangan tanpa melihat Seno.
“Bu Anik, silakan, Bu. Sudah ditanya pak Ronan.”
Seno mendengar seorang suster menyapa perempuan itu, menoleh ke belakang dan melihat sosok yang disebut istri muda Ronan.
***
Seminggu kemudian, kabar menyedihkan datang dari Ronan, dia meninggal dunia di rumah sakit dan disemayamkan di kediamannya. Seno datang bersama Anna, istrinya, dan dia yang sangat terpukul.
“Aku turut berduka, Fara,” ucap Seno, lalu setelahnya giliran Anna yang memeluk erat istri sahabat suaminya itu.
“Kami banyak berbeda pendapat akhir-akhir ini. Tapi aku sangat sedih kehilangan dia,” ujar Fara dan dia menangis sedih.
Seno dan Anna lagi-lagi mengucapkan kata-kata yang menenangkan untuk Fara.
“Kalo ada apa-apa jangan segan berbagi,” ujar Anna, dan Fara yang mengangguk lemah.
Tiba-tiba seorang perempuan muncul dan membawa kehebohan, membuat Fara bereaksi. Dia memburu perempuan itu dan mulai mencaci maki.
“Kamu nggak berhak apapun, untuk apa kamu ke sini, ha? Mau menuntut apa? Nggak ada yang tersisa!” ujar Fara setengah memekik, mengundang perhatian orang-orang sekitar.
Anna dengan cepat menarik Fara, dan seorang perempuan lain yang juga membantu menenangkan. Ada pria lainnya yang mengajak perempuan yang datang membawa kehebohan itu ke luar dari rumah Ronan.
Seno sempat melihat perempuan itu yang tidak lain adalah Anik, istri muda Ronan. Dia mendengus sinis, mengingat kata-kata terakhir Ronan yang menginginkannya menikahi istri mudanya itu. Seno bertekad dalam hati bahwa dia tidak ingin meninggal seperti ini, yang cukup memalukan.
Seno tergerak melihat keadaan di luar sana, kembali terdengar suara wanita lainnya yang mencaci maki, bahkan mendorong Anik ke dalam sebuah mobil. Seno pergi ke luar dan bertemu seorang pria yang berusaha mengendalikan keadaan. Pria itu menghela napas lega saat mobil yang membawa Anik pergi.
“Ah, Pak Seno.” Pria itu menunduk hormat ke Seno. Dia Mulyo, salah satu bawahan Ronan.
“Ya, saya juga kaget mendengar pengakuan Ronan yang ternyata menikah lagi,” ujar Seno pelan.
“Iya, Pak. Pak Ronan menikah dengan Anik tiga tahun lalu, saat dia didiagnosa menderita kanker.”
“Tiga tahun lalu?” Seno lebih terkejut lagi.
“Iya, Pak. Sudah tiga tahun menikah.”
“Ck,” decak Seno, menyesalkan tindakan Ronan.
“Waktu itu juga bu Fara berselingkuh dengan pak Edo.”
Seno menggeleng, dia tidak tahu bagian itu. Ternyata ada banyak hal yang terlewati tentang sahabatnya itu.
“Saya bersumpah, Anik adalah perempuan baik-baik, tidak seperti yang mereka katakan. Dialah yang merawat pak Ronan selama sakit-sakitan, dia juga yang membahagiakan pak Ronan sehingga pak Ronan bisa hidup lebih lama dari yang diperkirakan dokter. Fara malah asyik bersenang-senang dengan berondongnya, sesuka hati di luaran sana. Baru-baru ini saja dia berakting menjadi istri yang baik karena takut harta pak Ronan terbagi-bagi, dan si berondong yang sudah menikah lagi, lalu dia sok menjadi pahlawan, ”
Seno diam beberapa saat sebelum akhirnya bertanya. “Istri kedua Ronan itu selama ini tinggal di mana?”
“Hubungan yang sulit, Pak Seno. Pak Ronan dan Anik memang sudah menikah tiga tahun lebih, sejak Anik bekerja merawat pak Ronan beberapa minggu. Pernikahan itu baru diketahui Fara sebulan lalu.”
“Jadi Anik tetap tinggal di rumah Ronan?”
“Iya, dan saya yakin dia pasti disuruh pergi dari rumah. Sudah ada rencana pengusiran.”
“Oh. Tadi dia ke mana?” tanya Seno, dan dia ikut prihatin akan nasib Anik.
“Panti asuhan, dia itu yatim piatu dan sudah lama di panti asuhan. Dia juga bekerja di panti itu.”
Seno menghela napas panjang, ada banyak hal yang tidak dia tahu tentang Ronan, yang bahkan menyembunyikan penyakit darinya.
Mulyo menepuk-nepuk pundak Seno sebelum pergi.
***
Anik menggeram senang, dia mendapat panggilan wawancara bekerja sebagai babysitter dua anak, usia tiga dan lima tahun, dengan gaji yang sangat besar, mencapai dua digit.
“Wah, selamat ya, Nik,” ucap Desi, sahabat Anik.
“Iya. Tadinya kupikir aku nggak dapat panggilan, ternyata aku dipanggil untuk wawancara.”
“Kapan wawancaranya?”
“Lusa, di kantor Senopati Group.”
“Oh, kantor siapa?”
Anik mengangkat keduabahunya. “Mungkin kantor papa atau mamanya anak-anak yang akan aku jaga.”
“Aku yakin kamu lulus, kamu sudah punya banyak pengalaman, merawat bayi-bayi dan anak-anak di panti asuhan, trus merawat orang sakit.”
Anik menghempaskan napasnya. “Iya,” gumamnya, perasaannya sedih kembali mengingat suaminya yang telah pergi untuk selama-lamanya. Cepat-cepat dia mengusir perasaan sedihnya, khawatir statusnya terendus. Dia menikah diam-diam dengan Ronan tanpa banyak yang tahu, pernikahan yang sangat dirahasiakan.
“Nik.”
“Eh, iya.” Anik tersadar karena seorang pelanggan yang ingin memesan minuman.
Sudah tiga bulan Anik melewati masa dukanya, dan dia yang kini bekerja sebagai barista di café kecil di area Jakarta Selatan. Dia masih sering mengunjungi makam Ronan dan selalu membersihkannya.
“Terima kasih, Kak.” Anik melayani pelanggan dengan senyum ramahnya, dan pelanggan itu tidak lupa membalas ucapannya.
Anik menghela napas lega, mengingat kembali perkenalannya dengan Ronan beberapa tahun lalu. Ronan datang ke panti asuhan sebagai donator dan menyumbang dana yang cukup besar. Anik tergabung dalam tim penyambutan sekaligus melayani makan dan minum untuk Ronan dan rombongan. Ronan saat itu langsung tertarik sosok Anik yang sopan dan tanpa ragu ingin mengadopsi. Proses adopsi yang berujung cinta, lalu mereka menikah diam-diam.
“Nik, semoga sukses ya!” seru Desi ke Anik yang baru saja menyalakan mesin motornya, dan Anik membalasnya dengan anggukkan.
Bersambung