“Anna menginap di hotel bersama pria lain,” ungkap Seno pelan, jari-jarinya menari-nari di bibir cangkir kopinya yang isinya tinggal sedikit. Dia lalu menyesap kopi hingga habis.
“Pasti menyakitkan,” tanggap Anik datar.
Napas Seno seolah tertahan melihat Anik yang tampak tenang, tidak begitu kaget dengan kata-katanya mengenai istrinya. Dia menduga Anik yang mungkin sudah tidak heran dengan keadaannya, mengingat hidup Ronan yang juga memiliki istri yang tidak setia. “Kamu … merasa dejavu?”
Anik tersenyum tipis. “Iya.”
“Ronan yang cerita tentang istrinya?”
Anik menghela napas panjang, dia yang sebenarnya sedih jika disinggung tentang mendiang suaminya.
“Maafkan saya, Anik.”
“Saya merasa dejavu karena bu Anna, bukan soal pak Ronan yang curhat. Dia nggak pernah cerita tentang rumah tangganya. Saya yang langsung melihat keadaan rumah tangganya, menyaksikan sendiri bagaimana sikap bu Fara ... lalu pak Ronan menginginkan saya untuk menjadi istrinya.”
“Tapi kamu tau Ronan sakit hati.”
“Pak Ronan memang sakit hati karena bu Fara yang berkhianat. Tapi saya yakin dia sangat bahagia saat bersama saya," ujar Anik yakin.
Sepertinya ada banyak hal yang belum Seno ketahui tentang Ronan.
“Orang-orang bilang pak Ronan sakit karena ulah bu Fara, padahal dia memang sudah sakit lama, dan diperparah dengan perselingkuhan itu, juga memikirkan perusahaannya yang bangkrut. Saya tahu dia bahagia bersama saya, dan kami yang saling mencintai.”
“Begitu.”
“Ya, bu Fara mengira pak Ronan menikah dengan saya karena dendam, tapi pak Ronan yang memang sangat mencintai saya dan tidak lagi mencintainya.”
“Kamu kesal dengan bu Fara sepertinya.”
“Tentu saja, dia menguras harta pak Ronan, mempergunakannya untuk bersenang-senang dengan pria lain, tidak peduli dengan pak Ronan. Sebenarnya yang terjadi pak Ronan sudah menceraikannya tapi tidak tercatat, karena pak Ronan masih mengasihaninya. Bu Fara … dia memang keterlaluan. Terserah … Bapak mau percaya atau tidak.”
“Danika … Anik. Hei.” Seno berpindah tempat duduk ke samping Anik yang gusar.
“Maaf, Pak.” Anik melap pipinya yang basah, menangisi mendiang suaminya.
“Saya tau kamu yang sangat kecewa.”
Anik mengangguk. “Ya, saya nggak mengharapkan apapun … saya senang pak Ronan memberi saya kasih sayangnya … menjaga saya.”
Seno mengusap-usap bahu Anik. Keadaan yang berbalik, dia yang sebenarnya ingin mencurahkan perasaannya, tapi justru Anik yang menceritakan kisahnya.
“Bapak … pasti sangat kecewa dengan bu Anna," ujar Anik pelan.
Seno mendengus. “Sangat kecewa, Nik. Tapi saya nggak tau saya yang bisa setenang ini.”
Anik mendengus tersenyum. “Sama seperti pak Ronan. Dia juga bilang begitu, kecewa karena bu Fara, tapi dia tetap bisa tenang.”
“Karena kamu," balas Seno cepat.
Anik mengangguk, entah kenapa dia senang dengan keadaan ini, berdekatan dengan Seno, berduaan di dapur. Ibu jari kakinya refleks bergerak saat mengingat Seno mengulumnya semalam, dan dadanya yang berdesir hebat.
“Jadi kamu tau bu Anna—"
“Saya pernah mendengar dia menghubungi seseorang yang bernama Panca.”
“Oh. Memang dia orangnya.”
Sepertinya Seno tidak perlu panjang lebar bercerita karena Anik yang sudah tahu tentang skandal istrinya. “Maafkan saya semalam, Nik,” ucapnya tiba-tiba.
Anik mendelik heran, lalu dia merasakan kaki Seno yang menyentuh betisnya. “Oh, nggak apa-apa, Pak,” balasnya seraya menarik kaki dari kaki Seno.
“Kamu … menyukainya?”
“Ha?”
“Maksud saya ... apa kamu suka berenang bersama saya.”
“Oh, ya … saya senang berlomba.”
“Meskipun kalah.”
Anik tertawa dan Seno yang terpesona melihatnya.
“Kamu dan Ronan sering berenang bersama, saya tau Ronan sangat pandai berenang.”
“Iya, Pak. Pak Ronan yang mengajarkan saya berenang lebih baik, dan lebih tenang. tapi saya nggak tau kenapa akhir-akhir ini saya kurang menguasai diri.”
“Kamu masih mengenangnya.”
“Saya selalu mengenangnya.”
Seno menghela napas panjang, tak menyangka Anik yang memiliki perasaan yang begitu dalam kepada Ronan. “Kamu mencintainya.”
“Dia cinta pertama saya.”
“Begitu.”
Anik mengangguk. “Ya.”
Seno meraih tangan Anik dan Anik yang membiarkannya. “Anik.”
“Ya, Pak Seno?”
“Kita bisa membuat jadwal berenang bersama.”
“Ya, tentu saja.”
Seno mengusap-usap punggung tangan Anik, dan Anik menatapnya dengan menantang. “Malam?” usul Seno.
“Hm … nggak baik sebenarnya berenang terlalu malam … terlalu sering.”
“Apa alasan kamu berenang semalam?”
“Ingin memanfaatkan waktu, Bapak pergi dan Ibu juga pergi. Anak-anak sudah saya urus dan mereka tidur nyenyak.”
Seno terkekeh, sepertinya Anik lebih suka diajak berbicara tanpa harus menyinggung Ronan atau menyinggung kelakuan istrinya, lalu mereka berdua yang sama-sama tahu keadaan masing-masing.
“Kamu … cantik.”
“Ah, Pak Seno.”
“Ya, apalagi saat di saat-saat begini. Akhirnya saya tahu kenapa Ronan menyukaimu, kamu yang telaten merawatnya.”
Anik mengangguk.
“Maaf, saya yang lagi-lagi menyebut namanya.”
“Nggak apa-apa, Pak. Hm.” Anik malah membalas usapan tangan Seno dengan memegangnya. “Apa saya boleh minta waktu dua jam free Sabtu minggu ini?”
“Kamu mau apa?”
“Saya ingin pergi ke makam pak Ronan. Sejak saya bekerja di sini saya nggak pernah menjenguknya.”
Seno tertegun. “Saya bisa temani kamu.”
“Nggak perlu, Pak. Saya bisa sendiri.”
“Naik angkutan umum?”
“Saya ke panti, mengambil motor dan ke sana.”
“Saya juga ingin menjenguk Ronan … ingin meminta izin.”
“Meminta izin?”
“Ya, minta izin biar bisa … lebih dekat denganmu.”
“Haha, Pak Seno bisa saja. Kita bisa … maksud saya … kita bisa begini asalkan keadaan tenang. Saya yakin bu Anna pasti marah jika melihat saya berduaan dengan Bapak. Saya ingat dulu bu Fara marah-marah saat melihat saya berpelukan dengan pak Ronan, dia cemburu, padahal dia berselingkuh. Waktu itu dia belum tahu kami sudah menikah.”
“Oh.”
“Saya menyuruh pak Ronan untuk tidak sembarangan memeluk saya, untuk menjaga perasaan istrinya.”
Seno merasa sedikit aneh dengan sikap tenang Anik, yang seolah memahami apa yang dia inginkan. Dia langsung menduga Anik adalah sosok apa adanya dan ingin semuanya mengalir begitu saja. Atau mungkin Ronan pernah memberitahunya tentang wasiat untuk menikah dengan seseorang yang sudah dia pilih. “Anik, apa Ronan pernah mengatakan sesuatu kepadamu … terkait pria yang akan mendampingimu kelak?”
Bersambung