Bab 1
Ruang kerja Baskoro Danuarta selalu punya aroma kayu manis yang khas. Biasanya aroma itu membuat Aruna merasa tenang setiap kali berkunjung ke sana. Tapi, sakit ini berbeda.
Aruna duduk di sofa panjang sambil menatap kakeknya dengan ekspresi tidak percaya. “Perjodohan?”
Baskoro mengangguk santai.
Aruna menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”
“Iya, kamu.”
“Kek, serius?”
“Serius.”
Aruna mengusap wajahnya kasar. “Ini udah tahun 2026 Kek, bukan zaman Siti Nurbaya lagi.”
“Kalau kamu gak mau, ya sudah.”
Aruna langsung menurunan tangannya. “Beneran?”
“Beneran.”
Seketika Aruna merasa lega. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sekitar tiga detik.
“Tapi kalau kamu menolak,” lanjut Baskoro, “seluruh hak warisanmu akan dicabut.”
Aruna membeku. “...Apa?”
“Rumah yang sekarang kamu tempati, apartemen di Paris, saham yang sudah kakek siapkan untukmu, beberapa aset pribadi, semuanya akan dialihkan.”
“Dialihkan ke siap?”
“Yayasan kanker yang selama ini kakek bantu.”
Aruna menatap kakeknya seperti baru saja mendengar keputusan paling tidak masuk akal di dunia. “Kenapa ke yayasan?”
“Karena kakek lebih percaya mereka akan menggunakan uang itu dengan baik daripada memberikannya kepada cucu yang menolak satu pernikahan.”
“KEK!”
Baskoro malah tersenyum.
Aruna berdiri dari sofa. “Jadi pilihannya cuma dua?”
“Kurang lebih.”
“Nikah atau miskin?”
“Kakek tidak bilang miskin.”
Aruna menunjuk dirinya sendiri. “Kalau rumah diambil, apartemen Paris diambil, saham diambil, terus Runa harus hidup pakai apa?”
“Kamu Masih Bisa Bekerja.”
Aruna terdiam. Secara teori, memang benar. Dia bisa bekerja. Masalahnya, Aruna tidak pernah membayangkan hidup dengan harus menghitung harga makan sebelum memesan, memikirkan uang sewa sebelum tidur, atau menunda membeli sesuatu hanya karena saldo rekening sedang tipis. Dia sudah terbiasa dengan kehidupannya yang nyaman, dan dia tidak berniat turun kelas.
“Siapa orangnya?” tanya Aruna akhirnya.
Baskoro tersenyum kecil. “Rangga Mahendra.”
Aruna langsung mengerutkan kening, nama itu tidak asing.
Rangga Mahendra, dua puluh delapan tahun. CEO Mahendra Group, salah satu pewaris keluarga Mahendra yang namanya cukup sering muncul dalam berita bisnis.
Aruna pernah melihat fotonya beberapa kali, tapi dia tidak pernah tertarik mencari tahu lebih jauh. “Dia mau?”
“Belum tentu.”
“Kalau dia gak mau?”
“Kalian bisa membicarakannya sendiri.”
Aruna menghela napas. “Terus kalau aku gak cok?”
Baskoro mendorong sebuah peta ke arahnya. “Baca perjanjiannya.”
Aruna membuka map tersebut, beberapa halaman pertama membahas hak dan kewajiban kedua keluarga. Ada berbagai ketentuan yang menurutnya terlalu ribet untuk sebuah pernikahan, sampai matanya berhenti di satu bagian.
Pasal 7 — Batas Waktu Pernikahan.
Aruna membaca pertahan.
Pernikahan wajib berlangsung selama minimal tiga tahun. Setelah masa tersebut berakhir, kedua pihak dapat mengajukan perceraian apabila tidak ditemuan kecocokan atau tidak terdapat ikatan emosional yang mengharuskan pernikahan dipertahankan.
Aruna membaca kalimat itu dua kali.
Tiga tahun.
Cuma tiga tahun.
Setelah itu dia bisa bercerai dan tetap mempertahankan hak waris yang sudah diberikan.
Aruna menatap Baskoro. “Ini beneran?”
“Baca sendiri.”
Aruna kembali melihat dokumen. Tiga puluh enam bulan, bukan selamanya. Dia bisa bertahan. Tiga tahun bangun waktu yang sebentar, memang. Tapi kalau dibandingan dengan kehilangan seluruh aset yang sudah disiapkan untuknya?
Aruna bahkan tidak perlu berpikir lama. “Mana pulpen?”
Baskoro tertawa kecil. “Kamu bahkan belum bertemu orangnya.”
“Orangnya bisa dipikirin nanti, warisan dulu yang diamanin.” Aruna langsung membubuhkan tanda tangan.
---
Malam harinya, pertemuan kedua keluarga berlangsung di sebuah restoran privat di kawasan Sudirman. Aruna duduk di samping orang tuanya sambil memainkan ujung gelas.
Di seberangnya, seorang pria dengan setelan hitam duduk tenang. Rangga Mahendra. Berbeda dengan Aruna yang sejak tadi terlihat gelisah, Rangga justru tampak santai.
Sampai Baskoro menyampaikan maksud pertemuan mereka. “Aku dan keluarga Mahendra sudah membicarakan semuanya, pernikahan kalian bisa dilangsungkan dalam waktu dekat.”
Rangga meletakkan gelasnya. “Saya belum menyetujui.”
Suasana langsung hening, Aruna menoleh. Nah, satu masalah lagi.
Rangga bersandar ke kursinya. “Maaf, Kek. Saya menghormati keputusan keluarga, tapi saya tidak tertarik menikah karena sebuah kesepakatan.”
Ayah Rangga menghela napas. “Rangga.”
“Saya sudah bilang dari awal.” Suaranya tetap tenang. Tidak tinggi, tidak kasar. Justru itu yang membuat penolakannya terdengar semakin tegas.
Aruna mulai panik. Kalau Rangga menolak, tamat. Dia kehilangan rumah, apartemen, saham, semuanya.
Aruna langsung berdiri. “Rangga, bisa ngomong sebentar?”
Semua orang menoleh.
Rangga mengangkat alis. “Saya?”
“Iya, lo.”
Aruna langsung berjalan keluar sebelum Rangga sempat menjawab. Beberapa detik kemudian, Rangga menyusul.
Begitu pintu restorasi tertutup di belakang mereka, Aruna langsung berbalik. “Lo jangan nolak dulu.”
Rangga memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Kenapa?”
“Karena gue butuh pernikahan ini.”
Rangga diam.
Aruna menghela napas. “Gue gak peduli soal cinta atau apa pun, gue cuma gak mau kehilangan warisan gue.”
Rangga menatapnya beberapa detik. “Kamu serius?”
“Serius.”
“Jadi kamu mau menikah dengan saya hanya karena warisan?”
“Iya.”
Jawaban Aruna terlalu cepat sampai Rangga hampir tertawa. “Jujur sekali.”
“Gue gak punya waktu buat basa-basi.”
Rangga bersandar ke dinding, sebenarnya dia juga punya masalah sendiri. Keluarganya sudah beberapa kali membicarakan pernikahan dengannya. Bukan karena dia tidak mampu hidup tanpa warisan, tetapi karena keluarga Mahendra punya tradisi dan kesepakatan internal yang membuat pernikahan menjadi salah satu syarat untuk beberapa urusan keluarga.
Namun, bagi Rangga, warisan itu sendiri bukan sesuatu yang dia kejar. Dia sudah membangun Mahendra Group bersama timnya dan memiliki kehidupanan finansial yang jauh lebih dari cukup. Kalau harus memilih antara mengikuti keinginan keluarga atau terus berdebat selama bertahun-tahun, dia sebenarnya tidak terlalu peduli.
Masalahnya hanya satu, ia tak mau menikah dengan seseorang yang berpura-pura mencintainya demi mendapatkan sesuatu. Dan sekarang, perempuan di depannya justru mengaku terang-terangan bahwa dia tak mencintainya sama sekali.
Aneh.
Tapi justru lebih aman.
“Kalau saya setuju,” kata Rangga, “kamu mau apa?”
“Tiga tahun.”
Rangga mengernyit.
“Setelah tiga tahun, kita cerai.”
“Begitu saja?”
“iya.”
Aruna mulai menjelaskan dengan cepat. “Kita tinggal satu rumah karena keluarga pasti bakal curiga kalau kita tinggal terpisah, tapi kehidupannya masing-masing. Lo punya kerjaan, gue kuliah. Kita gak perlu ikut campur urusan masing-masing.”
“Di depan keluarga?”
“Kita pura-pura harmonis.”
Rangga tertawa kecil. “Pura-pura harmonis?”
“Iya.”
“Dan setelah tiga tahun?”
“Cerai.”
Rangga diam beberapa saat, ia memikirkan tawaran itu. Tiga tahun, tidak ada tuntutan untuk saling cintai, tak ada kewajiban untuk mengaorbankan pekan. Mereka hanya perlu menjalani peran sebagai suami istri di depan keluarga.
Bahkan untuk urusan warisan keluarganya sendiri, pernikahan ini bisa menyelesaikan sebagian tekanan yang selama ini datang kepadanya. Sementara Aruna jelas-jelas tidak akan mengganggu hidupnya sama dia juga tidak mengganggu hidup Aruna.
“Baik.”
Aruna langsung melotot. “Serius?”
“Iya.”
“Lo mau?”
“Saya tak melihat alasan untuk menolak.”
Aruna hampir tak percaya. “Jadi kita benar-benar nikah?”
Rangga mengangguk.“Tiga tahun, terus cerai.”
Aruna mengulurkan tangan. “Deal.”
Rangga melihat tangan itu sebentar, lalu menjabatnya. “Deal.”
Aruna tersenyum lega, yang ada di pikirannya hanya satu. Warisannya aman.
Sementara Rangga hanya menganggap pernikahan itu sebagai sebuah kesepakatan yang cukup masuk akal untuk menyelesaikan dua masalah keluarga sekaligus. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, tidak ada alasan untuk membuat semuanya rumit. Setidaknya, begitulah yang mereka pikirkan saat itu.