Chapter 4. Mengetahui Sosok Leonard.

1484 Words
Waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari, tetapi Alessia masih terjaga di kamarnya. Wanita itu terus bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri di atas tempat tidur tanpa bisa benar-benar terpejam, meski tubuhnya terasa letih. Dia memang termasuk orang yang pilih-pilih tempat tidur, jika berada di tempat baru akan kesulitan untuk tidur. Selain itu, dia juga memikirkan perkataan terakhir Rosa sebelum keluar tadi. Semakin dipikirkan dia merasa semakin penasaran tentang urusan Tuan Leon. Tak ingin larut dalam pikiran, wanita itu memilih bangkit, lalu menyandarkan tubuh pada kepala ranjang. Lampu tidur yang sempat dimatikan, dia nyalakan kembali. Karena kantuk tak kunjung datang, dia memutuskan untuk bangkit dan berjalan keluar kamar. Suasana temaram menyambutnya ketika membuka pintu. Alessia melangkah pelan menyusuri ruangan sekitar yang dipenuhi dengan berbagai perabotan mewah. Sampai akhirnya, langkah kaki membawanya ke pintu belakang yang langsung terhubung dengan taman. Wanita itu melangkah pelan menyusuri area taman, hingga langkah kaki membawanya ke sebuah danau buatan. Area belakang itu tampak luas dan sepi, lampu-lampu menyala redup menciptakan kesunyian yang menenangkan. Sehingga beberapa menit berselang, ketenangannya terusik ketika mendengar suara-suara pria yang berada tak jauh dari tempatnya. Alessia yang merasa penasaran pun mulai mencari sumber suara itu. Semakin lama mencari suara itu semakin terdengar jelas. Dia segera menyembunyikan tubuh di balik sebuah pohon ketika melihat beberapa pria berjas hitam berdiri mengelilingi seseorang yang berlutut di atas rumput. Leon berdiri di depan mereka semua, hanya mengenakan kemeja putih yang terbuka dua kancing atasnya. Matanya menatap tajam pria yang berlutut itu dengan membawa sebuah pistol yang disodorkan tepat di kepala pria itu. Pria yang berlutut itu tampak memohon pengampunan, suaranya terdengar samar karena terpisah jarak, tetapi Alessia bisa melihat dengan jelas jika pria itu tengah ketakutan. Sampai beberapa menit berselang, suara tembakan memecah kesunyian malam. Tubuh pria yang berlutut ambruk tak bernyawa. Darah mulai merembes membasahi rumput di sekitarnya. Alessia seketika membekap mulutnya menahan teriakan. Matanya membelalak, tubuhnya mundur menjauh, hingga tanpa sadar menginjak sebuah ranting kering yang berhasil mengalihkan perhatian semua orang yang ada di sana, tak terkecuali Leon. Sepersekian detik tubuh Alessia menegang dan bergetar ketakutan. Dia berniat untuk menjauhi tempat itu dan kembali ke kamar. Namun, belum sempat menjauh, tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang menahan lengannya dari belakang. “Kau tidak seharusnya melihat itu,” kata Leon penuh geram. Alessia berbalik dengan wajah penuh ketakutan. "Kau ... kau membunuhnya tanpa ragu ....” “Dia salah satu bawahanku yang berkhianat. Dia telah menggelapkan uangku dari transaksi kokain di Sisilia. Dalam duniaku pengkhianatan dibayar dengan darah.” Alessia terdiam dengan nafas tercekat. “Sekarang kau tahu siapa aku, Al. Aku bukan pria biasa. Hukuman pria itu juga berlaku untukmu kalau kau sampai ketahuan berkhianat di belakangku," lanjut Leon dengan kalimat yang lebih tajam. Alessia menelan ludah dengan susah payah. Ketakutan membelenggu diri hingga nyaris lupa cara bernapas dengan benar. "An-anda tenang saja! Aku ... aku tidak akan berkhianat di belakangmu, Tuan. Aku akan patuh," katanya dengan suara bergetar, hampir seperti bisikan. “Bagus! Itu berarti kau sadar betapa rapuhnya hidupmu di tanganku." Alessia hanya bisa mengangguk dengan tubuh masih bergetar. Di tengah ketakutannya, dia bisa melihat jelas para pria berjas hitam itu mulai menyeret tubuh tak bernyawa ke arah hutan kecil yang ada di ujung taman seolah semua itu hanyalah prosedur biasa. “Sekarang kembali ke kamar, lupakan semua yang kau lihat malam ini!" Alessia mengangguk sambil berjalan pelan masih dengan ketakutan yang sama. Dia tak berani menoleh ke belakang, tak sanggup melihat sisa kebrutalan yang baru saja terjadi di depan matanya. Sesampainya di kamar, Alessia segera menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Dia bersandar pada daun pintu dengan d**a naik turun, perlahan tubuhnya merosot ke lantai sambil memeluk tubuhnya sendiri. Air matanya tumpah tanpa bisa ditahan. Dia merasa menyesal telah menyetujui tawaran itu. Kini, dia telah terperangkap dalam neraka seorang pria kejam seperti Leonard Alvaro tanpa tahu, apakah suatu saat dia bisa keluar dengan selamat atau tidak. *** Pagi menjelang, sinar matahari yang menerobos ke celah tirai berhasil menyilaukan pandangan Alessia. Dia mengerjap perlahan, disaat bersamaan merasakan sebuah beban berat menimpa perutnya. Dilihatnya, sebuah tangan kekar tengah mendekap perutnya dengan erat. Dia segera menoleh ke samping, Leon terlelap dengan bertelanjang d**a. Alessia memandangi wajah lelap itu dengan kening berkerut. Bagaimana cara pria itu masuk, seingatnya dia telah mengunci pintu. Apa di kamar ini ada pintu rahasia, selain pintu utama? "Apa kau sudah puas memandangi wajah tampanku ini?" Suara berat Leon berhasil menyentak kesadaran Alessia. "Kau sudah bangun, Tuan?" tanya wanita spontan. Leon menggumam pelan. "Yeah, aku terbangun saat kau bergerak tadi." Alessia melipat dalam bibirnya, tak mengira jika gerakannya tadi berhasil mengusik tidur pria kejam itu. Sebuah kecupan lembut yang mendarat pada bibirnya berhasil mengejutkan wanita itu. "Kamu cantik," puji Leon dengan tatapan tak lepas dari wajah bantal Alessia. Kelopak mata Alessia mengerjap cepat, entah kenapa pujian itu berhasil membuat jantungnya berdetak tak beraturan. Kegugupan seketika melanda diri. Dia tersipu disertai wajah yang memerah. Dia berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain, menghindari tatapan Leon yang sejak tadi menatap wajahnya. Satu tangan Leon menangkup kedua pipi Alessia, dan menghadapkan paksa wajah wanita agar menatapnya. "Tatap aku! Aku tidak suka orang yang memalingkan muka saat aku ajak bicara." Alessia menurut, matanya membalas tatapan Leon tak kalah lekat. Perlahan namun pasti, pria itu mulai mengikis jarak di antara mereka. Leon menatap dalam mata Alessia. Tak ada sisa kantuk di wajahnya. Matanya menatap sayu wajah wanita itu. Jarak mereka semakin tipis, napas hangat Leon menerpa wajah itu. Alessia menahan napas saat bibir pria itu kembali menempel di bibirnya, kali ini disertai sebuah lumatan. Semakin lama semakin dalam dan menuntut, dan Alessia tentu saja berusaha mengimbanginya. Tak tinggal diam, tangan pria itu mulai menjamah beberapa bagian tubuh Alessia, kemudian meremasnya dengan lembut. "Aku menginginkanmu, Alessia ...." Meskipun ingin menolak, Alessia hanya bisa pasrah dengan perlakuan Leon atas tubuhnya. Tugasnya memang melayani hasrat pria itu, kapanpun dia menginginkan kepuasan. Akan tetapi, saat hendak memulai, tiba-tiba terdengar ketukan pintu beruntun yang berhasil membuyarkan hasrat Leon yang sudah berada di puncak ubun-ubun. Awalnya, pria itu berniat mengabaikan. Namun, semakin dibiarkan ketukan itu terdengar semakin mengganggu, sampai akhirnya dia memilih menyerah. Kemudian bangkit dengan wajah penuh amarah. Ketika membuka pintu, Rosa berdiri di hadapannya dengan wajah cemasnya. "Apa kau ingin mati, Rosa? Berani-beraninya mengganggu kesenangan pagiku," hardik Leon yang membuat wanita paruh baya itu menunduk ketakutan. "Maaf, Tuan ... Don Vittorio menunggu di lantai bawah, meminta bertemu dengan Anda, segera! Don juga sudah tahu mengenai wanita yang Anda bawa semalam, Tuan." Leon mengeraskan rahang mendengar kakeknya berkunjung pagi-pagi seperti ini. Meski merasa kesal dan ingin marah, tapi dia berusaha keras menahannya. Dia tampak menggerakkan satu tangan, memerintahkan pelayannya itu untuk pergi. Setelah kepergian Rosa, Leon kembali masuk ke kamar dan meminta Alessia untuk segera bersiap. "Bangun dan segeralah bersiap! Aku akan mengenalkanmu pada seseorang." *** Setengah jam berlalu, kini Alessia telah siap. Gaun satin berkilau sebatas lutut membalut sempurna tubuhnya. Riasan tipis terpoles di wajahnya, tetapi tak mampu menutupi kesan anggun yang melekat dalam dirinya. Wanita itu melangkah pelan menuruni tangga spiral menuju lantai bawah. Hentakan high heels yang beradu pada lantai marmer menggema lembut memecah kesunyian pagi. Sesampainya di pijakan anak tangga terakhir, Alessia bisa melihat dengan jelas Leon tengah bercengkrama dengan seorang pria tua di ruang makan. Wanita itu menghentikan langkahnya, seketika merasa ragu untuk mendekat. Kehadirannya pun disadari oleh Leon. Pria itu lantas bangkit dan menghampiri Alessia. Dia menyodorkan lengannya, meminta Alessia untuk melingkarkan tangannya pada lengan kekar itu. Kegugupan melanda ketika Leon membawanya mendekati pria tua itu. Seorang pria tua berwajah tegas duduk di ujung meja panjang. Setelan berwarna hitam semakin menambah kesan wibawa dalam dirinya, tongkat kayu berukir terletak di sebelah kursinya. Rambutnya yang putih bersih, disisir rapi ke belakang. Sepasang manik hitam itu memandangi Alessia bak mata elang yang mengintai mangsanya. Dialah Don Vittorio Alvaro, pimpinan tertinggi mafia di negara itu. Seorang pria tua berwajah tenang dan dingin, tapi tak mengenal ampun jika ada yang berani mengusik bisnis gelapnya. “Kek, perkenalkan dia Alessia.” Suara Leon memecah keheningan ruang makan itu. Alessia mengangguk hormat. “Senang bisa bertemu Anda, Don Vittorio.” “Duduk.” Hanya satu kata yang terucap dari bibir pria tua itu, tapi seperti perintah seorang jenderal. Alessia duduk di kursi yang ditarikkan Leon untuknya. Dia mencoba tersenyum meski dalam hati merasakan kegelisahan yang teramat. Don Vittorio menatapnya beberapa detik, kemudian bertanya dengan suara beratnya. "Berapa umurmu?” “22 tahun.” “Sejak kapan kau menjalin hubungan dengan cucuku?” Alessia tak langsung menjawab. Dia justru mengalihkan pandangan ke arah Leon yang duduk di sampingnya. Pria itu tampak mengangguk pelan, memasrahkan jawaban pada Alessia. Bibir Alessia terkatup rapat, bingung harus menjawab apa. Tak mungkin dia mengatakan jika hubungan mereka baru terjalin sejak semalam. Sebelumnya, Leon juga sudah mewanti-wanti dirinya untuk tidak membongkar hubungan mereka di depan sang kakek. "Hubungan kami baru berjalan seminggu ini, Tuan." “Kalau begitu, kau harus tahu konsekuensi menjalin hubungan dengan cucuku.” Don Vittorio berucap sambil menunjuk cucunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD