Alessia duduk bersandar pada kepala ranjang seraya mendekap erat selimut tebal yang membalut tubuh polosnya. Wajahnya terus tertunduk dengan tubuh gemetar. Ketakutan tergambar jelas di wajahnya.
Keadaan kamar tak ubahnya seperti habis terkena sapuan banjir bandang. Gaun seksi yang semula melekat di tubuhnya telah teronggok tak berbentuk di lantai berbaur dengan pakaian milik Leon. Percintaan panas mereka telah usai, suasana ruangan menjadi hening dengan keheningan yang terasa mencekam layaknya berada di villa angker.
Leon duduk di hadapannya di sebuah sofa single sembari menghisap cerutu di tangannya. Sepasang manik tajamnya menatap penuh intimidasi. Tatapan itu seolah ingin menguliti Alessia hidup-hidup.
“Menarik ... kamu sangat menarik, Alessia." Suara berat pria itu terdengar lebih lembut, tapi mampu membuat bulu kuduk Alessia meremang.
Pria itu perlahan bangkit setelah mematikan cerutu ke wadahnya, kemudian dengan langkah pelan mulai mendekati Alessia. Setiap langkahnya seolah membawa tekanan tak kasat mata yang membuat Alessia semakin menunduk ketakutan sampai memeluk tubuhnya sendiri.
"Dari sekian banyak gadis perawan yang kunikmati, hanya kau yang bisa menarik perhatianku," bisik Leon ketika berada tepat di depan Alessia.
Tangannya terulur, mengangkat dagu wanita itu agar menatap wajahnya.
"Angkat kepalamu, Alessia! Jangan pernah tunjukkan wajah takutmu ini di depan orang lain. Wanita Leonard Alvaro tidak boleh lemah."
Kedua mata Alessia membelalak sempurna dengan sorot mata yang memancarkan kebingungan.
"Apa itu artinya saya berhasil memuaskan Anda, Tuan?" tanyanya disertai tatapan sayu, memandang wajah tampan di depannya.
"Yeah ... kamu berhasil memuaskanku, dan mulai sekarang kamu akan menempati posisi istimewa di sisiku. Tidak hanya menjadi sugar baby, tapi sebagai wanitaku." Leon melepaskan cekalan tangannya yang ada pada dagu Alessia.
Pria itu kemudian membuka sebuah laci pada meja kecil yang ada di samping ranjang. Dia mengambil sebuah map, lalu meletakkannya ke pangkuan Alessia.
"Baca dan pahami itu! Setelah itu tanda tangan. Setelah tanda tangan hidupmu sepenuhnya menjadi milikku, bahkan nyawamu sekali pun, dan jangan pernah berpikir untuk lepas."
Alessia menelan ludah kelat. Setiap kata yang keluar dari bibir Leon memang terdengar pelan, tapi dalam waktu bersamaan mengandung sebuah ancaman mematikan.
Dengan tangan gemetar, dia segera membuka map tersebut yang ternyata berisi surat perjanjian. Wanita itu tertegun sejenak saat membaca sederet tulisan tercetak tebal.
Perjanjian Pribadi: Leonard Alvaro dan Alessia Giovani
Dia segera membaca poin-poin penting yang tertera dalam surat perjanjian itu. Dia bahkan sempat menahan nafas karena kebanyakan isi perjanjian tersebut terlalu mengekang dirinya.
Ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara detak jam di dinding dan hembusan napasnya yang berat terdengar memenuhi udara.
Tangannya terasa dingin saat menyentuh lembaran itu. Setiap kalimat yang dia baca seperti cambuk tak kasat mata yang memukul batinnya. Dia membaca perlahan poin demi poin yang tercantum, matanya menelusuri setiap kata yang tertera.
"Dilarang memiliki hubungan dengan pria lain, baik pertemanan maupun asmara. Dilarang bepergian tanpa izin. Semua kontak sosial dikendalikan."
Jantung Alessia berdebar tak beraturan. Satu sisi dari dirinya berteriak memerintahkannya untuk kabur, tidak menyerahkan kebebasan hidupnya begitu saja. Tapi di sisi lain, dia teringat dengan segala masalah yang menghantuinya.
Tatapannya kemudian tertuju pada angka yang tertera di dalam sana €100.000 per bulan, belum termasuk pelunasan utang dan segala kemewahan yang dijanjikan.
Wanita itu kembali memejamkan mata berusaha menepis segala ragu yang kembali bersarang dalam benaknya.
"Apa aku siap hidup seperti ini?"
Ingatannya mengembara, menampilkan gambar unit apartemennya yang hampir disita dan nasibnya yang terancam menjadi wanita malam di sebuah casino. Kemudian ingatan tentang perkataan Elena juga berkelebat dalam benaknya bagai kaset rusak.
"Kamu hanya melayani dia seorang. Bayangkan kalau kamu benar-benar masuk casino itu! Berapa banyak pria yang harus kamu layani dalam semalam?"
Leon masih setia berdiri angkuh di depannya, memandangi wajah Alessia dengan tatapan tajamnya. Tidak ada desakan dan paksaan secara lisan. Tapi aura kuasanya memenuhi ruangan mewah itu.
“Tak ada yang memaksamu menanda tanganinya, Signorina," ujarnya dengan nada yang santai. “Tapi begitu kamu membubuhkan tanda tangan di atas namamu, kamu telah resmi menjadi milikku."
Alessia perlahan membuka mata. Dia melihat pena hitam yang terselip rapi pada map itu, seolah mengundangnya untuk menentukan nasibnya.
“Boleh aku tanya satu hal, Tuan?” Suara wanita itu terdengar parau dan bergetar.
Leon mengangkat sebelah alisnya. "Apa?"
“Bagaimana kalau suatu saat nanti aku tidak sanggup menjalani semua aturan ini?”
Tatapan Leon tak berubah, nada suaranya sedikit lebih berat saat menjawab, “Kalau kau menyerah sebelum waktunya, aku akan mengambil semuanya termasuk nyawamu, sebagai ganti atas apa yang telah kau dapatkan dariku."
Alessia menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya gemetar disertai keringat dingin yang mulai membasahi kedua tangannya. Perkataan Leon bukan sekedar ancaman kosong. Dunia yang akan dia masuki tidak mengenal belas kasihan. Akankah dia sanggup menjalaninya?
Setelah menghela nafas panjang, akhirnya Alessia telah membuat keputusan. Dengan tangan gemetar, dia mulai mengambil bolpoin yang telah disediakan dan menatap kosong kolom tempat namanya tertulis. Setelahnya, dia menorehkan tanda tangan di atas namanya.
Tinta hitam itu terasa seperti darah.
Sesaat setelah selesai, dia meletakkan pena tersebut masih dengan tangan gemetar.
Leon tersenyum kecil, bukan senyum kehangatan. Senyuman itu seperti kepuasan seorang pemburu yang berhasil mengikat mangsanya.
“Good, Baby,” ucapnya pelan sambil mengambil map perjanjian itu, kemudian menyimpannya. “Mulai hari ini ... kamu milikku. Kamu harus patuh pada semua perintahku.”
***
Malam itu juga, Leon membawa Alessia ke kediaman pribadinya, sebuah mansion megah di pinggiran kota Palermo.
Sepanjang perjalanan hanya diisi keheningan, Alessia memilih mengarahkan pandangan keluar jendela, mengabaikan Leon yang tengah fokus mengemudi di sampingnya.
Pada saat tertentu, Leon memang memilih berkendara sendiri tanpa sopir atau pun pengawalan seperti malam ini.
Isi kepala wanita itu penuh dengan bayangan suram tentang masa depannya yang kini sepenuhnya ada dalam genggaman pria asing. Akankah suatu saat nanti dia bisa bebas atau terjebak selamanya?
Mobil berhenti tepat di depan gerbang besi tinggi yang terbuka otomatis. Lampu-lampu taman menyala redup, memperlihatkan halaman depan yang luas dengan air mancur besar dan pohon-pohon yang tertata sempurna.
Mansion itu menjulang angkuh, berarsitektur klasik Italia yang menampakkan kekayaan turun-temurun, sekaligus kekuasaan.
Sesampainya di depan teras, Leon keluar lebih dulu, lalu berjalan mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Alessia.
Wanita itu meragu beberapa detik sebelum akhirnya menerima uluran tangan itu kemudian melangkah turun. Sepatu hak tingginya menjejak pelan di atas bebatuan jalan yang tersusun rapi.
Leon menggenggam lembut tangan Alessia menuju teras. Dia berjalan dengan langkah pelan berusaha mengimbangi langkah Alessia yang tak bisa berjalan cepat, dikarenakan pangkal paha yang terasa nyeri saat dibuat jalan.
Seseorang sudah berdiri di depan pintu utama, menunggu kedatangan mereka. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan warna hitam dan celemek putih bersih menyambut kedatangan tuannya dengan senyumnya yang hangat.
“Kamu akan tinggal di sini mulai malam ini,” ujar Leon pada Alessia, lalu menoleh ke pelayan kepercayaannya.
“Rosa, mulai sekarang ... dia akan menjadi tanggung jawabmu. Perlakukan dia dengan istimewa!"
Rosa mengangguk penuh hormat. “Tentu, Signore.”
Alessia memandangi Rosa dengan tatapan cemas. Rosa segera menampilkan senyum hangatnya berusaha membuat Alessia nyaman.
“Benvenuta, Signorina Alessia,” ucap Rosa sambil menyambutnya dengan tangan terbuka. “Mari saya antar ke kamarmu.”
(Selamat datang, Nona Alessia).
Alessia mengangguk pelan dan mengikuti Rosa masuk ke dalam mansion.
Lorong-lorong panjang dengan lampu gantung kristal menyinari marmer di bawah kaki mereka. Lukisan tua tergantung di dinding, dan suara dentingan jam tua menggema lembut.
“Rumah ini sudah menjadi milikmu, Signorina. Jadi, bersikaplah biasa layaknya pemilik rumah!" ucap Rosa seraya menoleh padanya.
Alessia hanya mengangguk pelan. Bibirnya terasa kelu untuk sekedar menjawab. Selama menuju ke kamar pribadinya, netranya terus memerhatikan interior ruangan. Dia merasa seperti memasuki dunia lain, sebuah dunia yang asing dan indah, tetapi penuh jebakan.
Beberapa menit berselang, mereka akhirnya tiba di depan pintu ganda berwarna gading. Ketika pintu dibuka, sebuah ruangan megah menyambut mereka, kamar tidur luas dengan langit-langit tinggi, ranjang king-size, sofa empuk, lemari kaca, dan balkon yang menghadap ke taman belakang.
“Ini kamar Anda, Nona. Semua sudah disiapkan sesuai perintah Tuan Leon,” ucap Rosa sambil tersenyum.
Alessia melangkah pelan memasuki ruangan. Tangannya menyentuh seprei halus yang terpasang pada tempat tidur, berusaha merasakan kemewahan yang belum pernah dia miliki sebelumnya. Akan tetapi, anehnya dia tidak merasakan kenyamanan maupun keamanan sama sekali. Semua terlalu megah, terlalu sempurna, hingga terasa mencekik.
“Apa kau lapar, Nona?” Suara Rosa berhasil mengalihkan perhatiannya.
Alessia menggeleng pelan.
“Kalau begitu lekaslah istirahat, hari sudah malam. Kamar mandi ada di sebelah sana, dan ruang ganti ada di sebelahnya. Di dalam lemari, juga sudah diisi beberapa pakaian. Kalau ada ukuran yang kurang pas, langsung bilang saja."
Alessia menoleh disertai senyum canggung.
“Terima kasih, Rosa ... untuk sekarang, aku belum membutuhkan apa-apa. Kamu istirahatlah! Aku juga mau istirahat."
Rosa mengangguk masih dengan senyum lembutnya. “Baiklah, kalau begitu saya pamit. Kalau butuh sesuatu, jangan segan panggil saya."
"Dan satu lagi, lakukan saja tugasmu sesuai permintaan Tuan Leon. Jangan terlalu ikut campur dengan semua urusan tuan kalau tidak ingin menanggung akibatnya."