"Dengan pakaian ini, aku benar-benar seperti jalang yang menjajakan tubuh."
Alessia menatap bayangannya sendiri di cermin toilet bar. Dia merasa tidak percaya diri dengan penampilannya malam ini. Gaun hitam yang dipinjamkan Elena terlihat terlalu seksi karena memperlihatkan beberapa bagian sensitif lekuk tubuhnya. Bahunya terekspos dengan bagian belakang yang terbuka, menampilkan punggung putihnya yang nyaris telanjang. Panjangnya pun hanya sebatas paha, belum lagi ditambah make-up tebal yang membuat wajahnya tampak asing.
Setelah berpikir matang selama dua hari dua malam, akhirnya Alessia memutuskan untuk menerima tawaran itu. Semua dia lakukan semata-mata agar urusannya dengan Caesar Club segera terselesaikan.
Akan tetapi, ketika semuanya telah diatur sedemikian rupa, tiba-tiba dia merasa ragu antara melanjutkan keputusan ini atau berhenti sebelum semuanya terlanjur. Namun, jika tidak mengambil langkah ini, bagaimana dengan semua utangnya, terutama nasibnya.
Beruntung, pihak Caesar Club memberinya sedikit keringanan dengan menambah tenggat waktu selama dua hari ke depan.
Jika dalam dua hari ke depan, dia tidak kunjung melunasi semua utangnya, maka unit kecil miliknya akan diambil dan dirinya otomatis akan dipekerjakan di tempat terkutuk itu, lalu dipaksa melayani banyak pria setiap harinya.
Alessia menggeleng keras. "Tidak! Aku tidak boleh ragu. Aku harus mengambil jalan ini. Aku gak mau jadi p*****r di tempat itu," gumamnya sambil menatap bayangannya sendiri di cermin.
"Ale, mau sampai kapan kamu berdiri di situ?" Suara Elena dari arah belakang berhasil mengejutkannya.
Alessia segera berbalik menatap sang sahabat dengan tatapan terkejut.
"Tuan Leon sudah datang. Dia ingin bertemu denganmu. Segera temui dia! Tuan Leon tidak suka menunggu." Elena melanjutkan ucapannya, sebelum Alessia sempat menjawab.
Wanita itu tertegun sejenak, memandang sang sahabat dengan sorot penuh keraguan.
"Ele, aku–"
Belum sempat Alessia menyelesaikan ucapannya, Elena segera menyela ucapannya. "Kamu ragu? Ingin mundur?"
Alessia terdiam saat tebakan Elena sangatlah tepat sasaran.
"Ale, pikirkan baik-baik! Kalau kamu mundur gimana dengan utangmu? Bukan, bukan cuma utang tapi nasibmu. Saat ini yang bisa kamu harapkan cuma Tuan Leon. Tugasmu cuma satu, memuaskannya di ranjang. Kalau kamu berhasil, bukan cuma utangmu yang akan lunas, tapi semua kemewahan akan kamu dapatkan, Ale. Kamu gak perlu lagi capek-capek kerja jadi pelayan dengan gaji kecil, terlebih nasibmu juga terselamatkan."
Elena menggenggam lembut kedua lengan sahabatnya, lalu kembali melanjutkan ucapannya.
"Asal kamu tahu, Ale. Sekali kamu masuk ke Caesar Club, selamanya kamu gak akan bisa keluar, kecuali kamu mati. Karena bagi mereka wanita penghibur di tempat itu dianggap sebagai aset. Sudah banyak korban mereka hanya karena ingin kabur."
Wanita itu terdiam mendengarkan penuturan panjang lebar sahabatnya. Lantas, apakah keputusan menjadi wanita simpanan Tuan Leonard juga keputusan yang tepat? Banyak rumor yang beredar jika calon sugar daddy-nya itu merupakan sosok pria yang kejam dan berbahaya. Bukankah ini sama saja lepas dari kandang harimau dan masuk ke kandang singa?
"Sudah, jangan kebanyakan mikir! Ayo, ikut aku! Aku temani kamu menemui Tuan Leon." Tanpa menunggu jawaban, Elena segera menarik tangan sahabatnya keluar dari toilet itu.
Tidak ada yang bisa dilakukan Alessia, selain pasrah.
Elena membawanya ke ruangan VIP yang ada di lantai atas bar tersebut, tempat yang biasanya digunakan kaum borjuis menghabiskan uang.
Suara musik mengalun pelan ketika dia masuk. Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat kontras dengan suasana yang ada di lantai bawah sana yang terkesan riuh dengan suara musik yang memekakkan telinga. Lampu-lampu dibuat temaram menggantung seperti cahaya remang di panggung teater.
Tepat setelah pintu, ada seorang striptease yang tengah menghibur pelanggan. Sungguh, Alessia merasa tidak nyaman ketika memasuki ruangan itu. Banyak pasang mata yang menatap lapar ke arahnya, tepatnya memerhatikan kemolekan tubuhnya yang terbuka.
Elena membawanya ke sudut ruangan. Dia bisa melihat jelas seorang pria duduk di sebuah sofa single, dengan didampingi dua orang bertubuh kekar di samping kanan kirinya. Setelan jas hitam dengan rambut yang disisir rapi membuat penampilannya terlihat sangat memesona. Tatapan dinginnya berhasil membuat Alessia terpaku sepersekian detik.
Pria itu terlihat tampan bak titisan Dewa Yunani. Dialah Leonard Alvaro–calon sugar daddy-nya.
"Selamat malam, Tuan Leon. Dia wanita yang aku ceritakan kemarin. Namanya Alessia." Suara lembut Elena berhasil menyadarkan Alessia dari kekagumannya.
Elena tampak menyikut pelan lengannya, memintanya untuk memperkenalkan diri.
"Selamat, malam Tuan. Saya Alessia Giovanni," ucap wanita itu dengan kegugupan tergambar jelas di wajahnya.
Leon menggerakkan satu tangannya, memberi isyarat agar Alessia mendekat. Ale yang merasa ragu memandang sahabatnya sejenak, Elena mengangguk pelan untuk menuruti perintahnya.
Dengan langkah pelan penuh keraguan, Alessia mulai bergerak mendekati pria itu.
Leon yang merasa pergerakan Alessia terlalu lambat segera menarik tangan wanita itu sampai terjatuh ke pangkuannya. Tangan Alessia bertumpu pada d**a bidang Leonard. Tatapan mereka saling bertemu.
Jantung Alessia berdetak tak normal. Ini pertama kalinya dia berada pada jarak sedekat ini dengan pria, selain ayahnya.
"Apa kau sudah puas memandangi wajah tampanku ini, Signorina?" Perkataan berat Leon berhasil menyadarkan lamunan Alessia.
"Ah, eumm, saya ... saya minta maaf, Tuan. Kalau Anda tidak nyaman ... saya akan bangkit dari tubuh Anda sekarang juga," jawabnya gugup salah tingkah.
Alessia berniat bangkit, tetapi satu tangan kekar Leon berhasil menahan pinggangnya.
"Siapa yang menyuruhmu bangkit? Aku yang mau seperti ini." Suara bass pria berusia 38 tahun itu menyapa pendengarannya, bahkan terpaan nafas hangat pria itu menyentuh halus leher putih Alessia yang berhasil menimbulkan sensasi aneh pada tubuhnya.
"Are you still virgin?" tanya Leon dengan nada berbisik.
Alessia segera menanggapinya dengan anggukan pelan.
Pria itu tampak menyeringai. Tanpa basa-basi, dia segera meremas lembut gundukan kenyal yang ada depannya. Bibirnya pun mulai menyusuri leher jenjang wanita itu.
"Kalau begitu buktikan sekarang!"
Tubuh Alessia menggelinjang seperti cacing kepanasan. Dia menggigit bibir bawahnya menahan desahan yang hendak keluar.
Sadar masih ada orang lain di sana, Leon segera memerintahkan dua ajudannya untuk menyingkir.
"Kalian bersenang-senanglah! Aku ingin menikmati mainan baruku ini," ucap Leon tegas.
Dua pria bertubuh kekar itu pun lekas menyingkir. Begitu pun dengan Elena.
"Dan kau, Elena ...." Suara bass Leon berhasil menghentikan langkah wanita berpakaian seksi itu. "Aku akan mentransfer bonus untukmu. Aku suka dengan mainan baru yang kau bawa."
Senyuman di wajah Elena mengembang sempurna membayangkan banyaknya nominal yang akan diterima. Leonard tak pernah main-main jika soal bonus, dia pasti akan memberinya banyak uang, terlebih sekarang wanita yang dibawanya langsung disukai pria itu.
"Grazie, Grazie mille, Signore," ucap Elena sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.
(Terima kasih, terima kasih banyak, Tuan.)
Selepas kepergian Elena dan dua ajudannya, Leon segera melancarkan aksinya pada Alessia. Dia segera menyambar bibir wanita itu, lalu menciumnya dengan intens dan menuntut. Dalam waktu singkat, ciuman panas terjadi di antara mereka.
Alessia sebisa mungkin mengimbangi permainan bibir Leon yang terbilang cukup lihai. Dia segera mendorong pelan d**a bidang pria itu saat merasa hampir kehabisan nafas.
"Apa ini juga pengalaman pertamamu?" tanya Leon dengan tatapan tak pernah lepas dari wajah Alessia.
Wanita itu mengangguk pelan. "Ya, Tuan. Maaf jika pelayanan saya mengecewakan."
Bukannya marah, Leon justru semakin menyeringai. Dia penasaran seberapa polos mainan barunya ini, sampai ciuman bibir saja masih sangat kaku.
"Tidak masalah, aku akan mengajarimu."
Tanpa memedulikan Alessia yang tidak siap, Leon kembali menyambar bibir wanita itu. Ciumannya kali ini justru semakin panas dari sebelumnya, bahkan dia tidak membiarkan Alessia yang ingin melepaskan. Tidak hanya itu, tangannya pun tak mau diam.
Dia mulai menyusuri setiap lekuk tubuh wanita itu. Tangannya, bahkan tak segan memberikan remasan lembut pada d**a wanita itu. Ciumannya beralih ke leher jenjang Alessia hingga membuat wanita itu mengerang tertahan menahan sensasi aneh pada tubuhnya.
"Keluarkan saja desahanmu! Jangan ditahan aku ingin mendengarnya," bisik Leon seraya meniup pelan cuping telinga wanita itu.
Tangan Leon kini beralih ke area sensitif wanita itu, lalu memainkan jarinya ke area tersebut yang berhasil membuat Alessia memekik tertahan. Kedua tangannya sontak meremas kuat kedua lengan kekar Leonard.
"Tuan, hentikan, emmphh ...."
"Kenapa? Apa yang kamu rasakan?" Leon semakin menyeringai melihat raut wajah yang ditunjukkan Alessia. Dia semakin intens memainkan permainannya, hingga tak lama berselang tubuh Alessia tampak mengejang saat dia mencapai pelepasannya.
Alessia menyandarkan tubuhnya yang lemas pada d**a bidang pria itu. Nafasnya memburu, buliran keringat sebesar biji jagung tampak membasahi dahinya.
Senyum puas tercetak di bibir tebal Leonard, karena berhasil membuat Alessia mencapai klimaks hanya dengan menggunakan jarinya.
"Apa kau puas, Baby?"
Alessia hanya mengangguk pelan.
"Tapi itu tidak adil ... aku juga ingin merasakan kepuasan sepertimu," bisik Leon tepat di telinga Alessia.
Tanpa aba-aba, Leon segera menggendong Alessia bangkit dari sofa single untuk beralih menuju ruangan pribadi yang terletak tak jauh dari tempatnya.
Sebagai pelanggan tetap di bar ternama itu, Leon telah memiliki ruangan pribadi khusus untuk menghabiskan malam dengan para wanitanya. Ruangan bernuansa elegan dan temaram itu sudah dilengkapi dengan kamar pribadi juga kamar mandi. Kamar yang memiliki nuansa mewah yang tak kalah dengan hotel bintang lima di Kota Roma.
Sesampainya di kamar, Leon segera menghempaskan kasar tubuh Alessia ke atas ranjang.
Wanita itu tampak beringsut mundur saat melihat Leon mulai melepas satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya. Dia bahkan sampai memalingkan muka karena terlalu malu menyaksikan Leon tidak mengenakan apapun.
Leon perlahan naik ke atas ranjang disertai seringainya. Dia menarik satu kaki Alessia, bahkan merobek gaun seksi yang dikenakan wanita itu.
"Come on, Alessia! Buktikan kalau kau bisa memuaskanku, kalau gagal ... aku akan membuangmu dan kau tidak akan mendapatkan apa-apa dariku."