"Lepasin!" pekik Dea.
"Kenapa? Ayo melakukannya."
Tangan Dea mendarat di pipi Levin hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana membentuk telapak tangannya. Levin memekik kesakitan dan akhirnya melepaskan kungkungannya.
"Aish!" decihnya seraya menjauh dari Dea. Berdiri tepat di depan cermin dan melihat pipinya yang benar-benar memerah. "Jangan salahkan aku kalau aku berlaku kasar padamu. Bukannya kamu yang duluan menyalakan api?"
"Kita bisa bercerai setelah ini. Aku tak berharap apapun dengan pernikahan ini!" tegas Dea membuat Levin kembali mendidih. Namun pria itu malah melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi karena rasa sakit pada pipinya yang disebabkan oleh wanita itu.
***
Duduk di kursi rias seraya menelungkup wajahnya menggunakan kedua tangan, Dea menangis sesenggukan tanpa bisa ditahan lagi. Pundaknya bergetar dan matanya sembab bukan main. Mungkin sudah satu jam dia melakukan ini, tapi sama sekali tak membuatnya lega. Rasanya masih sakit, bahkan sangat sakit setiap air mata yang dia teteskan untuk Kalingga.
"Dea, aku minta maaf."
Suara itu membuat si pemilik nama menghentikan suara tangisnya yang sejak tadi mendominasi kamar pengantin mereka. "Maaf? Aku sudah cukup sakit hati padamu." Dea menatap nanar Levin tak percaya.
Levin yang berdiri di belakangnya agak jauh membuat Dea ingin menghampiri pria itu. Dengan perasaan campur aduk kecewa dan sakit hati masih berharap Kalingga yang ada kini bersamanya. Perlahan langkahnya mendekat, tangannya terangkat untuk meraih pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
"Kita benar-benar sudah menikah ya, Vin?" Seperti orang kehilangan kesadaran, Dea kembali meneteskan air matanya. Jarinya kini menyentuh wajah Levin, mengamatinya lekat untuk memastikan. "Kamu Levin!!" pekiknya histerias seraya menarik kembali tangannya.
Langkahnya memundur, kedua tangan wanita itu memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut sangat pening dengan buliran kristal yang sudah membendungi kelopak matanya. Mengacak-acak rambutnya frustasi dengan gaun pengantin yang masih melekat pada tubuhnya. Dea benar-benar frustasi.
"Tidak!!"
Levin tak menyangka dengan perubahan sikap Dea. Menunjukkan bahwa dirinya benar-benar frustasi. Teriakan yang memekakkan telinga Levin itu membuatnya menghampiri Dea yang sudah terduduk di lantai seraya menangis histeris.
"Dea!"
"Jangan mendekat!! Aku hanya akan menikah dengan Kalingga!"
Tiba-tiba saja kalimat itu terlontar sangat kasar dan untuk yang kedua kalinya membuat Levin sakit hati. Berbeda dengan Dea yang baru saja menyentuh wajahnya sendu. Kesadarannya yang mungkin sempat hilang, kini telah kembali. Namun, kesempatan untuk mengakhiri pesta pernikahannya beberapa jam yang lalu tak akan pernah kembali sampai detik ini dirinya telah resmi menikah dengan adik iparnya sendiri.
Levin yang sangat memahami keadaan itu mencoba memberikan jawaban realistis yang justru membuat Dea semakin murka. "Kita nggak mungkin membuat malu keluarga, Dea. Sudah kukatakan aku juga nggak maksa! Stop bersikap kamu yang paling tersakiti! Aku di sini juga menyelamatkan nama baik keluarga dan juga ... korban!" bentak Levin.
"NGGA!!" Dea kembali mengamuk. Lebih parah dari sebelumnya. Dia menyapu semua barang yang ada di meja. Lagi-lagi memegangi kepalanya yang teramat pusing. "Aku hanya akan menikah dengan Kalingga!!" ucapnya penuh penekanan.
Setelahnya, Dea langsung limbung ke lantai tak sadarkan diri. Levin yang terkejut bergegas mendekat dan membopong Dea, memindahkan wanita itu supaya berbaring di atas tempat tidur. Beberapa menit kemudian setelah Levin memanggil keluarga yang lain, kini Naya sudah berada di kamar pengantin mereka. Raut wajahnya tak kalah menyedihkan melihat Dea pucat pasih yang sangat jelas.
"Levin, kamu bisa membantu Bunda mengganti gaun Dea, kan?" tanya Naya. Wanita paruh baya itu tak mungkin bisa melakukannya sendiri karena gaun tersebut sangat besar dan tentunya sulit untuk dilepaskan apalagi dengan kondisi Dea yang pingsan. Juga tak mungkin meminta bantuan orang lain, satu-satunya yang bisa dimintai tolong adalah Levin, menantunya.
"Pipimu kenapa, Nak? Dea menyakitimu?" tanya Naya khawatir ketika melihat kemerahan pada pipi Levin.
"Tidak apa-apa. Sepertinya Dea hanya butuh waktu untuk bisa menerima kenyataan ini." Levin tersenyum menunjukkan keramahannya pada mertuanya itu.
"Ah, Bunda benar-benar minta maaf ya, Nak. Semoga Dea segera bisa berdamai dengan keadaan ini. Bisa menerima kamu seperti menerima Kalingga dan Bunda yakin kamu pria baik-baik bisa menjaga anak bunda." Harapan yang begitu besar untuk anaknya setelah kehilangan terbesar dalam melalui masa depannya. "Ayo bantu bunda mengganti gaun Dea. Pasti dia tidak nyaman pakai gaun seperti ini."
Levin hampir saja menolak, tapi mengingat dirinya sudah resmi menjadi suami Dea dan itu tak akan menjadi masalah. Akhirnya dia mengiyakan untuk membantu mertuanya tersebut.
Kini pemandangan indah yang tengah Levin lihat akan menjadi malam-malam menyenangkan untuknya. Tubuh mulus Dea tanpa cacat itu membuatnya menelan ludah, menarik hasrat-nya untuk menginginkan hal yang seharusnya mereka lakukan setelah menikah. Hingga tubuh wanitanya itu sudah tertutup kembali oleh baju tidur yang sudah menutupi hampir seluruhnya.
Dea masih tak sadarkan diri sampai saat ini. Naya menarik selimut untuk putrinya supaya sedikit merasa nyaman meskipun wanita paruh baya itu paham pikirannya sedang kacau.
"Levin, Bunda ke luar dulu, kalau sudah siuman atau butuh apa-apa panggil siapapun yang ada diluar. Kamu tau di luar sangat ramai setelah kabar duka itu. Bunda harus menemui tamu karena mama kamu sepertinya sangat drop." Naya menoleh ke arah putrinya yang terlihat pucat, tidak tega.
"Iya, Tante. Jangan khawatir," jawabnya.
"Panggil Bunda mulai sekarang, ya? Seperti Kalingga memanggil dengan sebutan bunda. Kamu juga anak bunda sekarang." Naya menepuk bahu Levin, banyak sekali harapan pada pria itu supaya bisa membahagiakan putrinya.
Levin menganggukkan kepalanya tanpa bersuara. Entah apa yang ingin Levin lakukan. Setelah kepergian Naya, tiba-tiba dia ingin sekali mengunci pintu kamar dan menyembunyikan kuncinya dari Dea. Bayangan tubuh mulus wanita itu yang baru saja dia lihat membuat hasrat-nya kembali naik dan ingin tertuntaskan.
Pria itu mengamati wajah Dea dari dekat. Cantik dan mulus tanpa celah. Levin merasa mendapatkan berlian yang entah bekas Kalingga atau bahkan belum tersentuh sedikitpun. Semakin memandanginya, gairahnya semakin membuncah ingin melakukan sesuatu yang lebih.
Berbaring dengan posisi memiring di sebelah Dea. Levin terus mengamati bagian mana yang terlihat buruk di seluruh tubuh wanita itu, nyatanya Dea benar-benar sempurna. Jarinya mengelus wajah Dea perlahan, Levin mengubah posisinya sedikit bangun. Tertarik untuk mencumbu bibir ranum wanita tersebut.
"Kamu benar-benar sempurna, Dea. Mari kita melakukannya, kamu sudah menggoda dan menantangku bahkan hanya dengan diam seperti ini." Tatapan penuh keinginan milik Levin seakan sudah tak bisa ditahan lagi.
Pria itu mulai bertindak sesuai keinginannya, perlahan tapi pasti Levin sengaja mencumbu bibir Dea yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Namun, siapa sangka tiba-tiba wanita itu membuka matanya hingga membuat keduanya saling beradu tatapan. Levin yang sudah tak bisa menahan gairahnya dan Dea yang masih mencoba memahami siapa yang ada didepannya saat ini.
"Kalingga?" Pikiran Dea benar-benar masih terpaku pada pria pilihannya yang dikabarkan kecelakaan sebelum pernikahan tersebut. Dia terlalu kacau sampai tak bisa membedakan antara Kalingga dan Levin sekarang.
Levin terkejut karena Dea menyebut nama itu ketika menatapnya dengan intens. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di sisi kiri Dea dengan desahan penuh kekecewaan. Sementara, dia kembali mendengar wanita itu menangis sesenggukan tanpa bergerak dari tempatnya sedikitpun. Dea telah menyadari dengan siapa dirinya saat ini dan pakaian yang sudah diganti. Dia merasa berdosa pada Kalingga.
"Dea. Aku menginginkanmu sekarang juga. Ayo kita melakukannya di malam pertama ini."
~ Bersambung...