Bab 3. Hasrat Gila Levin

1145 Words
"Malam pertama katamu?" Dea menoleh seraya memberikan tatapan tajam seolah menjadi jawaban bahwa dia tak akan pernah melakukannya. Menyibak selimut yang sejak tadi membungkus setengah tubuhnya, lalu berdiri dengan posisi membelakangi Levin. Tiba-tiba saja pria yang tadinya adalah adik iparnya itu tampak menakutkan. Padahal dirinya baru saja siuman. Tapi, seakan tenaganya sudah terisi penuh secara paksa demi menghindari keinginan Levin yang tak pernah ada di benaknya tersebut. "Dea, a——" "Jangan berharap!" teriak Dea. Sorotan nyalang itu tertuju pada Levin, jarinya menunjuk pria itu tak suka. "Jangan pernah melakukannya!" Dea yang kembali merasa frustasi seraya menjatuhkan semua barang yang ada di meja rias. Rasanya benar-benar hancur, hidupnya terasa sudah berakhir bersama Kalingga yang entah di mana. Levin langsung beranjak dari tempatnya berbaring. Mencoba mendekati Dea, tapi wanita itu malah berulang kali menunjuk Levin dengan tatapan penuh ancaman supaya tak mendekat sedikitpun. Sorotan matanya begitu tajam menghujam Levin yang menjadi kehancuran hidupnya setelah kehilangan Kalingga. "Dea, tenang." Levin berusaha menurunkan amarah membara dalam tubuh Dea. Pria itu semakin mendekat dan teriakan Dea semakin menggema. Tubuh Dea yang terus memundur terbentur pada meja rias dengan wajah menunduk dan tangan yang mengacak rambutnya frustasi. Jangan lupakan tangisannya yang terus menjadi melodi menyakitkan di malam pertama mereka. "Kamu berharap apa di malam pertama duka kakakmu!" pekik Dea dengan tatapan menyakitkan. Tubuhnya bergetar hebat setiap menyebut nama 'Kalingga' rasanya merasa bersalah. Suaranya hampir tak terdengar dan Levin cukup memahaminya. Langkahnya membawa pria itu mendekat tatkala melihat Dea melemah. Kini Levin berhasil meraih tubuh ringkih penuh luka batin tersebut secara paksa. Mencoba menghangatkannya. Tak ada perlawanan dari Dea karena energinya terasa benar-benar sudah habis. Hari membahagiakan itu sungguh berubah menjadi duka mendalam yang tak akan pernah Dea lupakan seumur hidupnya. Kalingga akan tetap di hati, meskipun Levin yang kini berhasil menikahinya. "Dia nggak mati! Dia akan kembali. Dia cuma hilang!" "Sadar, Dea. Ikhlas," lirih Levin. Tangannya mengelus lembut pucuk kepala Dea menenangkan. Apapun yang keluar dari mulut Levin seakan menyakitkan untuk Dea dengar. Wanita itu mendorong keras d**a bidang itu, menatapnya tajam penuh rasa sakit. "Kamu yang sadar! Kamu bukan siapa-siapa!" "Aku suamimu sekarang!" "Vin," lirih Dea, air matanya mengalir sangat deras. Sorotannya tak lepas menatap pria di hadapannya. "Kamu jahat banget." Tenaga Dea sudah benar-benar tak tersisa. Tak ada perlawanan lagi setelahnya. Seluruh tubuhnya terasa lemas, kepalanya sakit dan rasa bersalahnya pada Kalingga semakin menghantui. Perlahan Levin menuntunnya untuk berbaring di tempat tidur. Dengan posisi dirinya yang duduk di tepi ranjang, menatapi wanitanya yang masih terus menangis dengan tatapan kosong. Tangannya meraih tangan milik Dea, mengecupnya lembut. Sekali lagi tak ada perlawanan apapun, Dea sudah lelah. Hasrat yang kembali mengganggu Levin itu membuatnya perlahan mendekatkan wajahnya hingga berhasil mengecup pipi Dea. Semakin nakal, kini Levin menghembuskan nafasnya di telinga Dea dan menyusuri bagian leher wanita itu penuh nafsu tak tertahankan membuat pemiliknya bergidik geli. Tangisannya semakin tak terdengar, namun semakin membanjiri wajahnya. Tangan nakal Levin juga tampak menyingkap baju tidur milik Dea, memperlihatkan pundak mulusnya. Dikecupnya berulang kali hingga pria itu sukses melepaskan seluruh kancing baju tidur milik Dea. "Vin," panggil Dea ketika pria itu dengan brutal menjelajahi seluruh bagian tubuhnya. Kecupan bertubi-tubi hampir ke seluruh tubuhnya itu membuat Dea menahan rasa sakit karena bayangan Kalingga terus muncul. Pria yang seharusnya melakukan itu bersamanya sekarang. Dea tak memperhatikan dengan detail karena merasa tertekan, tapi tak mampu untuk menolak. Selain sudah tak memiliki tenaga, dirinya seakan pasrah dengan semuanya. Entah sejak kapan Levin melakukannya sendiri, membuat dirinya kedinginan tanpa sehelai kain dan juga pria itu yang terlihat tak memakai apa pun. "Jangan seperti ini, Dea. Jika kamu seperti ini rasanya pasti akan sangat sakit. Nikmati saja karena kita wajar melakukannya di malam pertama." "Tak ada rasa lain selain rasa sakit saat ini." Buliran bening itu tak mau enyah sejak tadi. Terus mengalir dan membanjiri wajahnya yang sudah sembab bukan main. "Apa tak ada rasa bersalah pada kakakmu?" tanya Dea berharap Levin masih memiliki setitik rasa empati. Nyatanya, Levin yang dia kenal bukanlah Levin yang ada di depannya sekarang. "Jangan membuat aku marah, Dea!" "Lakukan saja," ucap Dea pasrah. Sudah enggan mendebatkan apa pun. Pada kenyataannya Levin berhak atas itu karena mereka sudah menikah, kan? Senyuman sarkastik penuh kemenangan tersungging di bibir Levin tanpa rasa bersalah. Saat itu juga Dea menahan tubuhnya yang teramat sakit, terutama pada bagian sensitifnya setelah Levin menyudahi untuk menjelajahi bagian yang lain. "Aahh, ini sangat nikmat, Dea. Mari kita menikmatinya!" Desahan Levin terdengar sangat menyakitkan. Ketika Dea justru merasa bersalah, Levin malah menikmati tubuhnya. Bukannya beradu desahan, Dea malah menangis sesenggukan meskipun berusaha menahan suaranya supaya tak terdengar. "Nikmati saja, Dea. Jika kamu terus menangis, rasanya akan semakin sakit. Ayo, kita nikmati bersama malam ini. Malam yang tak akan pernah terlupakan." Tak ada tanggapan apa pun. Levin yang seakan menghabisinya malam ini membuat Dea benar-benar kecewa. Menjaga kesucian selama ini untuk Kalingga, justru yang menikmati adik iparnya sendiri. Dea merasa jijik pada dirinya sendiri sudah mengkhianati secara terang-terangan dengan pernikahan. "Vin, sakit!" Tak tahan lagi, Dea menahan tubuh Levin supaya berhenti melakukannya. Bukannya menuruti, Levin malah semakin menggila. Tak hanya bermain di bawah sana. Pria itu juga menghabisi seluruh tubuhnya, meninggalkan banyak bekas kemerahan sebagai jejak. "Sedikit lagi. Tolong bertahanlah sebentar, Dea." "Kumohon, hentikan!" pekik Dea. Kali ini tak bisa mengontrol rasa sakitnya sambil mencengkram kuat lengan Levin dan juga suara tangisnya yang lebih menggema ketimbang erangan hebat Levin yang terdengar mengerikan di telinga Dea. "Aahh." Erangan penuh kenikmatan karena telah menuntaskan hasratnya membuat pria itu limbung ke sisi kiri Dea. Levin menoleh dengan tatapan sendu setelah mencapai puncak kenikmatannya dan merasa bahagia. Dia menatap wanita di sebelahnya yang justru terus menangis. "Terima kasih, Dea. Kamu sudah menjadi istri yang baik." Levin mengecup kening Dea hangat, seakan tak peduli dengan tangisan wanita itu. Sebagai pria yang baik. Levin bangkit dari tidurnya, memastikan Dea baik-baik saja setelah dihabisi di malam pertama mereka. Levin sempat terkejut ketika melihat noda merah pada sprei ranjang mereka. Dia menatap Dea yang perlahan tak terdengar lagi suara tangisannya. Setelah memastikan, wanita itu tampak tertidur. Levin tersenyum, dia yakin Dea baru melakukan itu bersamanya yang artinya Kalingga tak mendapatkan pertamanya. Levin membuang nafasnya panjang. Menatapi Dea yang sudah tertidur pulas dengan rasa sakit luar biasanya. Pria itu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya bersama Dea. Dibalik kain tebal itu Levin memeluknya hangat. "Maafkan aku, Dea. Aku akan menjagamu selamanya." Tanpa dia sadari sesungguhnya Dea belum tertidur. Bahkan tak ada niatan untuk tidur dengan pikiran kacau yang berkecamuk di kepalanya dan rasa sakit pada seluruh tubuhnya akibat ulah Levin. Mau marah rasanya juga percuma, Dea tak punya apa pun sekarang. Bahkan tubuhnya sudah dirampas secara paksa. Namun, ditengah keterdiamannya seraya memejamkan matanya itu dia mendengar kalimat yang cukup mengejutkan dari bibir Levin. "Kamu harus membaca wasiat Kak Kalingga kalau sudah siap. Setelah peringatan kematian Kak Kalingga, semua miliknya akan resmi menjadi tanggung jawabku, termasuk kamu." ~ Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD