"Kamu belum tidur sejak semalam?" Rangga yang menyapanya ketika mereka bertemu di meja makan tak mendapatkan jawaban apapun dari adiknya. Mata sayu Dea membuat Rangga khawatir.
"Sulit untuk tidur dengan keadaan seperti ini, Kak." Levin bersuara seakan mewakili dan Dea terlihat tak peduli sedikitpun. Bisa dikatakan mood nya benar-benar buruk, apalagi setelah malam pertama yang mereka lakukan.
Rangga kembali memperhatikan adiknya yang sangat pucat pasih dengan mata sembab yang sangat kentara. Tangannya terangkat untuk mengecek suhu kening Dea. "Badanmu hangat, dek. Kamu yakin mau ke TKP hari ini? Mending kamu istirahat dulu sampai kondisimu benar-benar lebih baik. Biar kakak dan Levin yang ke sana."
Dea mengangkat wajahnya, menatap Rangga datar. "Aku mau ke sana. Biarkan aku melihat Kalingga di sana."
"Dea," panggil Levin seraya menyentuh tangan wanitanya.
"Siapapun jangan menghalangiku!"
Levin menatap Rangga yang terlihat menganggukkan kepalanya. Membiarkan Dea melakukan apa yang ingin wanita itu lakukan sekarang. "Tapi, kamu makan dulu, ya. Biar ada sedikit energi dan tubuh kamu tidak semakin drop."
Dea menatap Levin yang sedang bersuara. Lalu mengambil alih piring dan sendoknya yang tengah diapit oleh jari Levin. "Aku bisa melakukannya sendiri."
Suasana mendadak canggung. Tak hanya Levin yang merasakan, Rangga dan keluarga lainnya yang sedang melakukan sarapan bersama hanya bisa terdiam memperhatikan Dea yang lebih mirip seperti mayat hidup. Mereka tak bisa menolak keinginan Dea karena memahami kehancuran yang tengah dirasakannya.
***
Duduk di tepi ranjang setelah menikmati sarapan yang rasanya hambar. Dea menunggu Rangga dan Levin memanggilnya untuk segera pergi ke TKP karena masih mengurus sesuatu. Tak ada yang bisa dia lakukan selain memainkan ponselnya. Berulang kali mencoba menghubungi Kalingga meskipun sambungan teleponnya itu tak ada yang terhubung sekalipun. Dea masih mengharapkan keajaiban.
"Sudah?" tanya Dea ketika melihat langkah Levin memasuki kamar mereka.
Pria itu hanya berdehem seraya menganggukkan kepalanya. Bukannya menghampiri Dea, dia tampak mengambil sesuatu di dalam lemari yang tak lain adalah jaket tebal yang dipakaikan pada tubuh wanitanya.
"Biar ku pakaikan. Aku minta maaf untuk semalam."
"Lupakan. Aku harap kamu bisa bersikap lebih baik padaku."
Levin mengangguk singkat seraya membantu Dea memakaikan jaketnya.
"Kenapa diam? Kamu nggak jawab?" ketus Dea.
Levin menatap wanita itu tepat di depannya. "Apa?"
Tiba-tiba saja Rangga muncul dari arah pintu. Pria itu menarik tepi bibirnya melihat Levin memperlakukan adiknya dengan baik. Meskipun dia bisa melihat dengan jelas raut ketidaksukaan dari adiknya.
"Kalian sudah siap?" tanya Rangga. Langkahnya semakin mendekat.
Levin mengangguk. Mereka berdua mengikuti langkah Rangga di belakangnya. Levin juga menuntun Dea karena kondisi lemah wanita itu yang tak memiliki banyak tenaga.
"Kakak bawa mobil sendiri karena harus ke kantor polisi dulu urus beberapa berkas Kalingga bersama papa Firmansyah. Kamu sama Levin ya, Dea."
"Iya, Kak. Hati-hati," jawab Dea. Wanita itu mencoba menarik tepi bibirnya.
"Levin." Rangga menatap pria itu sendu. "Mungkin mulai saat ini aku akan menitipkan Dea padamu. Jaga dia baik-baik. Aku percaya padamu."
Tak ada jawaban pasti. Hanya anggukan yang Levin perlihatkan. Sementara, Dea hanya menundukkan kepalanya.
***
Di sepanjang perjalanan, Dea tak berhenti menangis, walaupun tanpa suara. Tatapan Levin yang kerap mengundang untuk memperhatikan wanita itu tak membuat Dea malu sedikit pun. Apa yang dia rasakan sekarang benar-benar menyakitkan.
Levin yang tak tega melihat tangisan wanita di sebelahnya perlahan menepikan mobil dan berhenti sejenak. Dia terdiam sebentar, kemudian meraih gantungan foto yang memperlihatkan gambar Kalingga dan Dea di sana yang langsung dia lepas dari tempatnya.
"Kenapa berhenti? Kenapa melepas itu? Ini mobil Kalingga." Suara Dea semakin bergetar dan hatinya tampak sakit ketika Levin bertindak seenaknya seperti itu.
"Bukankah ini akan menyakitkan?" lirih Levin. Seolah paham kalau benda itu masih ada di sana, Dea akan terus mengingat Kalingga dan tentunya akan merasakan rasa sakit itu terus-menerus.
Dea yang tak bisa menjawab, hanya meresponnya dengan tangisan yang kini semakin terdengar brutal. Apa yang dikatakan Levin memang benar, tapi haruskah melakukan itu sekarang?
Levin langsung meraih wanita itu, perlahan membawanya ke dalam dekapan sambil mengelus punggungnya memberi kekuatan. "Sabar, ya. Yang aku dengar, Kak Kalingga terpental jauh ke sungai utama. Meskipun sudah dikabarkan meninggal, keluarga masih berusaha menemukan jejaknya. Kamu paham mengenai itu, akan sulit untuk ditemukan. Polisi juga mengatakan sedikit kemungkinan untuk selamat walaupun nanti ditemukan. Jadi, persiapkan dirimu karena kemungkinan untuk keinginan kamu mengharapkan Kak Kalingga kembali hidup itu sedikit mustahil."
Sekali lagi Dea tak bisa mengontrol rasa sakitnya. Dia menangis hebat di pelukan Levin. "Dia orang yang baik, Vin. Aku yakin, dia baik-baik saja. Pasti ada seseorang yang nemuin dia. Dia akan kembali," yakin Dea.
"Dea," lirih Levin seraya melepaskan pelukannya. Beralih menatap Dea lekat, namun Dea yang terus menundukkan kepalanya membuat Levin hanya mengulas senyuman.
Keramaian yang ada di tempat kejadian membuat hati Dea tergores berkali-kali. Ramai karena sesuatu yang buruk itu sangat menyakitkan, seharusnya keramaian itu mereka rasakan di altar pernikahan dengan kebahagiaan.
Dea berdiri di tepi pembatas jembatan, sedikit menjauh dari tempat kejadian karena masih diperlukan untuk investigasi. Matanya menatap lurus ke depan, berharap Kalingga menunjukkan kehidupan di sana, tapi hanya aliran deras dari sungai itu yang terlihat. Bahkan, air mata Dea rasanya sudah kering tak mau keluar lagi.
Dea memutar langkahnya, menatap beberapa orang yang dia kenal ada di sana. Ada kedua orang tua Kalingga yang sama menyedihkan seperti dirinya, ada Levin yang terlihat sibuk memberikan informasi pada polisi dan juga ada asisten Kalingga yang cukup menarik perhatian Dea. Wanita itu melangkahkan kakinya mantap untuk menemui asisten kekasihnya itu.
"Ezra, kenapa kamu tidak menemani dia? Kenapa!" teriak Dea sedikit mendorong d**a Ezra dengan tatapan nyalangnya. Ezra yang juga tidak tahu apapun mengenai kejadian ini hanya menatap Dea bingung.
Levin yang melihat Dea tampak emosi dan memarahi asisten Kalingga langsung berlari untuk menghampiri keduanya. "Dea!" pekiknya.
"Pak Kalingga yang memintaku untuk tidak ikut karena diluar jam kerja, Bu." Jawaban jujur dari Ezra sama sekali tak membuat Dea puas. Wanita itu terus memukul d**a Ezra kecewa, benar-benar kecewa karena tak bisa menjaga calon suaminya.
"Dea, stop!" lerai Levin yang tak bisa diam saja melihat Dea seperti itu.
"Kamu ... kamu sengaja, 'kan, Vin?! Kamu sengaja membiarkan Kalingga membawa mobil pernikahan itu sendirian. Kamu kan yang lakukan ini! Kamu kan yang ngerencanain ini semua! Iya kan, Vin!!"
~ Bersambung...