. Lapangan latihan Benang Merah penuh. Rheno tiba paling akhir dengan kuda yang tertatih dan dirinya yang hampir ambruk kehabisan tenaga. Dua penjaga gerbang segera menyambutnya, mengambil alih tali kemudi kuda dan membantu pria itu turun dengan selamat. Dia memastikan Rheno masih bisa berdiri tegak dan kuat untuk berjalan sebelum melepaskan sanggahan di lengannya. “Terima kasih,” ucap Rheno dengan suara serak. Wajahnya pucat dan bibirnya pasi. Tatap matanya lemah, berair dan lelah. Pakaiannya lusuh, kusut, penuh debu bercampur keringat dan bekas darah. Lelaki itu terus berjalan maju meski langkahnya menyeret dan keseimbangan tubuh perlahan berkurang. Rheno sampai di lapangan itu. Baru menginjak ambang gerbangnya, dia sudah terhenti oleh pemandangan miris di hadapannya. Lapa

