JoFla - 003

1837 Words
Jo masuk ke mobil Sito buru-buru. Ia masih merasa asing dengan wanita agresif itu. Hanya orang gila yang melakukan perbuatan tadi. “Siapa tuh cewek? Selingkuhan lo?”komentar Sito sambil tertawa kecil Sindarto Kertajaya, cowok yang disapa Sito itu adalah sahabat baik Jo. Sito juga pengacara di Suwardi Law Firm. Bedanya, karir Sito tak cemerlang seperti Jo. Sito sering mengambil kasus perceraian hingga perebutan harta warisan, tapi ia sering gagal memenangkan kasus itu. “Jangan gila lo, To.” “Gak mungkin juga sih. Lo kan kaku kayak kanebo kering.” “Kita jadi nih?” “Jelas lah. Acara itu udah direncanain dari zaman baheula Jo.” Malam ini, kedua lelaki itu akan datang ke acara reuni yang hanya dihadiri cowok-cowok. Kenapa hanya cowok-cowok? Iri dan dengki adalah penyebab utamanya. Beberapa bulan lalu, cewek-cewek mengadakan reuni tanpa pihak cowok. Sekarang mereka sedang melakukan balas dendam. Balas dendam ini dipercaya dapat membuat hati cewek-cewek seangkatannya kepanasan sampai ke ubun-ubun. Mereka akan berfoto dan update status yang banyak. Sungguh sangat kekanak-kanakan. Mobil Sito tiba di tempat yang dituju. Mereka langsung masuk karena terburu-buru. Kota Jakarta yang macet membuat mereka berjam-jam berdiam diri di tengah kota. “Wah, duo pengacara sudah datang. Ayo silahkan duduk.” “Selamat datang, selamat datang.” “Diselametin gini bikin gue salting loh.”goda Sito sambil tertawa. “Harusnya cewek-cewek diajakin atuh, kalau cuma cowok gini bikin gue merinding.” “Sok asik banget lo, To. Ini kan cara kita balas dendam.” “Tapi bener anjir, tanpa cewek-cewek kita tuh hambar. Kita kayak kumpulan homo yang siap show time.” “Kecuali yang sudah menikah ya. Gimana Jo, dua tahun menikah harusnya lo udah pro bangetlah masalah wanita.” Pertanyaan itu seperti pedang yang siap mematahkan perasaan. Jo tak tahu harus berkomentar apa. Ia tertawa seperti biasa, “Baik kok. Sama aja kayak Pandi.” “Pandi mah nikahnya udah dari zaman penjajahan belanda Jo. Kalau lo kan nikahnya di zaman milenial gini.” “Gue kira lo gak kaku lagi loh Jo. Istri lo kan cantik banget gila.” “Udah yuk. Katanya kita mau membahas reuni akbar angkatan.”ucap Sito untuk mengalihkan perhatian dari rumah tangga Jo. “Oh iya juga. Jadi gini…..” Pembicaraan tentang reuni akrab tak lepas dari candaan receh di antara mereka. Tujuan utama yang seharusnya bisa cepat usai jadi lama karena jokes receh itu. “Gue izin bentar ya. Abang gue telepon tiba-tiba.”seru Sito sambil beranjak ke tempat sepi. Ia menerima panggilan dari Suhendi. “Apa Su?” “Gak sopan ya manggilnya.” “Lah bener kok, namamu kan Suhendi.” “Panggil mas lah, To.” “Iya, ada apa mas?” “Kamu besok bisa ke bandara?” “Buat apa?” “Jemput mantanku.” “Najis. Pergi aja sendiri. Udah ya, aku mau rapat penting nih.” “Tunggu dulu, To. Dia lagi di Jogja, terus ibu nitip ayam goreng kesukaan kita sama dia. Kata dia, kamu yang harus jemput, kalau nggak ayamnya dibuang.” “Emang ibu gak tahu kalau kalian putus?” “Engga, aku gak sempat cerita.” “Makanya kalau putus tuh baik-baik. Hmm, ya udah deh. Tapi ayam gorengnya buat aku yang banyak ya.” “Aman, kamu tenang aja.” “Eh tapi besok aku ada sidang loh Su.” “Minta tolong dulu lah sama Jo. Dia kan bisa diandalkan masalah gituan.” “Iya juga. Yaudah deh.” Sito kembali ke meja yang penuh dengan makanan itu. Ia harus cepat-cepat menyelesaikan pembahasan ini. Candaan yang menghebohkan ini bisa membuat mereka lupa waktu dan terpaksa pulang pagi. Hal ini akan membahayakan nyawa Sito, besok ia harus ke bandara. “Jo, besok gantiin gue sidang.” “Gak mau. Besok gue mau tidur sampai sore.” “Astaga, lo besok gak ke kantor?” “Engga.” “Please Jo, bantulah sahabatmu yang tak seberapa ini.” “Lo mau ngapain?” “Gue harus ke bandara disuruh sama Mas Suhendi.” “Besok sidang masalah apa?” “Pencemaran nama baik artis youtube. Please Jo, help me!````.” “Ya udah, lo kirim data-datanya ya.” Jo memang ahli bertindak sebagai malaikat tak bersayap. Ia selalu ada di tiap masalah sahabatnya itu. *** Plagiat merek dagang Tabrani Fashion terbukti dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Tim IT ENantan.Inc sudah mencari tahu tentang oknum tersebut. Mereka juga melakukan konferensi pers dan menjelaskan permasalahan yang sebenarnya. Selain itu, jalur hukum akan ditempuh untuk menyelamatkan nama baik Tabrani Fashion selaku merek dagang ENantan. Fla sebagai pemilik brand itu merasa sangat terbantu dengan kontribusi tim IT. Ia tinggal mengumpulkan dokumen penting dan melaporkannya nanti. “Ayo makan siang.”ajak Abram sambil membuka pintu ruangan Fla. Fla mengangguk sambil membereskan mejanya yang berantakan. “Ivy udah di call belum?” “Udah, dia udah di Sundest.” “Gue jadi penasaran sama mbak-mbak manajer yang lo bilang.” “Hmm, harusnya dia ada di sana sih.” “Wah gila, lo sampai tahu kebiasaannya.” “Jelaslah. Eh itu cowok yang suka sama lo Fla.” Cowok itu tak begitu menarik di mata Fla. Ia tak bisa berpaling dari sosok Pengacara Jo yang berhasil mencuri hatinya. Mereka berdua tiba di Sundest Cafe tepat waktu. Belum terlalu banyak orang di sana. Fla langsung memesan burger kesukaannya dan milo dingin. Ia melirik kesana kemari berharap ada Joustian Hadinata. Dan ya, yang ia cari muncul dari pintu lift. I found you! “Eh, gue ke toilet sebentar.”ucapnya. Ivy dan Bram tampak sedang sibuk bercerita. Mereka sedang membicarakan pertandingan bulutangkis yang diadakan di Jepang kemarin. Mereka punya hobi yang sama tetapi tidak dengan si bodoh Fla. Cewek itu tak berselera dengan olahraga apapun. “Hai, udah kenal aku kan?”ucap nya ketika Jo duduk sendirian sembari menunggu Sito memesan makanan. “Kenal.” “Let’s be friends first.” “Saya gak habis pikir. Kamu gak lihat, saya udah nikah. Ini cincin pernikahan saya.” “Aku sudah tahu. Aku gak peduli.” Seseorang langsung datang dan menarik tangan Fla. Ia adalah Abram. Cowok itu langsung menarik badan Fla untuk menjauh dari Jo. “Maaf ya, dia memang rada-rada gila. Saya benar-benar minta maaf.”ucapnya sambil mengajak Fla pergi. Fla tetap menoleh sambil tersenyum. Memang, dia sudah benar-benar gila. Sito datang dengan bill pembayaran di tangannya. Ia melihat semua kejadian itu. Cewek yang datang entah dari mana, menggoda Jo dengan tatapan mautnya. “Ada apa sih?” “Gak tahu, ada cewek gila yang ngincer gue dari kemarin.” “Itu cewek yang di lobby kemarin Jo?” “Iya.” Sito langsung mengalihkan pandangan ke tempat Fla, Ivy dan Abram berada. Ia menemukan sesuatu yang penting. “Itu kan Livya, Jo. Staff legal di kantor kita.” “Oh iya? Gue gak tahu malah.” “Dia itu sering gue lihat mondar mandir saking sibuknya. Jadi cewek yang ngincer lo itu temannya dia.” “Udah ah, gak usah membicarakan orang gak penting.” “Beneran nih? Gue takut aja lo jadi jatuh cinta sama dia.” “Gak bakal. Gue terlalu benci wanita To.” “Jangan bilang lo diem-diem demen sama gue.”seru Sito dengan ekspresi merinding. “Iya, gue sayang banget sama lo.” “Idih, najis!” “Hahaha, lo sendiri yang mancing mania.” Makanan yang mereka pesan tiba. French fries dan burger isi salmon. Sito sibuk dengan makanannya karena dia sudah sangat lapar sejak tadi. Ia harus buru-buru ke kantor sehabis pulang dari bandara. Sedang Jo malah mengalihkan pandangan pada Fla. Ia masih sangat heran, kenapa ada wanita seperti itu? Orang gila mana yang segamblang itu menggoda laki-laki yang baru ia kenal? Apalagi laki-laki itu sudah menikah. Aneh bukan? Flavine mendapatkan penghakiman dari kedua sahabatnya. Bahkan Abram sudah menjadwalkan kencan buta untuk Fla di minggu ini. Ia sampai stres mendengar nasehat dari teman-temannya yang bisa dibukukan itu. Dasar manusia! “Gue barusan udah kirim pesan sama dia. Entar malam minggu kalian ketemuan ya?”ucap Abram sambil menatap wajah Fla yang masih berkutat dengan makanannya. “Dengerin tuh, jangan macem-macem lo.”sambung Ivy. “Padahal gue cuma nyapa doang. Emang salah ya?”balas Fla. “Gak salah dong, tapi tujuan lo udah gak pantes.”ucap Ivy. Fla gak berkutik. Bagaimana cara jatuh cinta saat hatimu masih mencintai yang lain? Sulit bukan? Fla mencoba menerima kenyataan. Betul, memang tak baik mengincar suami orang. Dering telepon lagu Yellow dari Coldplay terdengar. Semua tahu nada dering itu milik ponselnya Fla. Fla langsung mencari letak ponselnya berada. Dari Devi, sekretarisnya. “Hallo Dev, ada apa?” “Hallo Mbak Fla, ini masalah plagiat merek dagang Tabrani Fashion. Kata Pak Donnie, disuruh ketemu sehabis makan siang.” “Oh ya sudah, nanti saya langsung ke ruangannya. Terima kasih Dev.” Abram menatap cewek itu sambil mengunyah steak wagyu. “Kenapa Fla?” tanyanya sambil tetap menikmati makanan itu. “Masalah plagiat itu loh Bram, kayaknya jalur hukum bakal ditempuh deh.” “Gue kira udah kelar malah. Tapi kita beneran bikin sendiri logonya, terus merek dagangnya juga udah didaftarin. Emang tuh orang cuma mau nyari panggung alias cari masalah.”keluh Abram. “Sabar aja. Merek dagang seterkenal Tabrani Fashion yang sudah melambung tinggi pasti ada aja cobaannya.”ucap Ivy menghibur. Ia tahu persis apa yang sudah dilewati Fla dan Abram untuk bisa sampai di titik saat ini. Apa yang mereka capai tak semata-mata turun dari langit. Banyak proses berat yang dihadapi. Flavine dan Abram mencoba berkolaborasi ketika tahu ada perusahaan baru yang berfokus pada UMKM. ENantan.Inc yang waktu itu sedang booming karena pencapaiannya yang luar biasa bagi perekonomian negara. Awalnya mereka berdua hanya ingin coba-coba. Fla yang suka merajut dengan latar pendidikan tata busana dan Abram yang merupakan lulusan Seni Rupa dan Desain ITB. Ajang coba-coba ini ternyata membuahkan hasil. Mereka berkutat dengan banyak hal agar bisa mendirikan Tabrani Fashion di ENantan.Inc. Abram punya jenjang karir yang cukup cemerlang. Ia tak lagi jadi bagian Tabrani Fashion karena ia ditawarkan untuk jadi tim desain ENantan. Fla tidak masalah dengan keputusan itu, ia malah senang karena Abram bisa meningkatkan kemampuannya di bidang desain. Walau sudah terpisah, tetap saja Abram salah satu pendiri Tabrani Fashion. Fla dan Abram buru-buru pamit sebelum pukul 1 siang. Fla harus bertemu Pak Donnie dan Abram ada meeting mendadak. Mereka meninggalkan Ivy yang masih belum menyelesaikan makan siangnya. “Sial, gue jadi makan sendiri. Mending balik.”Ivy bergumam. Ia langsung membereskan sampah-sampah yang ada di atas meja. Sundest Cafe menerapkan sistem self service. Ivy berjalan menuju lift dan ia kaget saat seseorang yang ia kenal menyapanya untuk pertama kalinya. Sindarto Kertajaya, yang sering dipanggil Pengacara Sito, adalah pengacara bodoh yang sering gagal memenangkan kasus. Orang bilang ia terlalu baperan jadi pengacara. Hatinya sering goyah karena rasa kasihan. Anehnya, kenapa dia bisa jadi pengacara? “Hey Ivy, itu cewek yang deketin Jo temen lo ya? Ada maksud apa dia?” tanyanya dengan nada penuh intimidasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD