JoFla - 002

1286 Words
Lantai sebelas gedung ENantan.Inc dikhususkan untuk Tabrani Fashion. Merk dagang itu berhasil memperoleh penghargaan tahun lalu sebagai usaha yang paling tinggi penjualannya. Banyaknya model fashion yang ditawarkan dan harga yang tidak terlalu tinggi membuatnya lebih diminati oleh masyarakat. Tabrani Fashion memang berfokus pada pakaian wanita. Untuk pakaian pria, ENantan.Inc sudah punya merk dagang yang lain. Fla langsung mengecek ketersediaan bahan dan banyaknya permintaan. Proses jahit dilakukan di tempat itu juga dengan memastikan kualitas bahan terlebih dahulu. Sebenarnya untuk bahan baku, customer bisa memilih sesuai dengan yang mereka inginkan. Fla langsung ke ruangannya sambil mengecek komputer untuk melihat update proses produksi. Ketukan pintu membuatnya teralihkan. Seorang lelaki datang dengan kertas gambar di tangannya. “Kenapa Bram?” “Gila lo ya, kenapa lo suka sama suami orang?” “Dasar Ivy mulut ember!” “Jadi maksud lo apa Fla?” “Engga kok Bram, gue cuma bercanda.” “Bohong lo ya. Gue tahu kok kalau lo bohong.” “Tapi mau gimana lagi Bram, emang salah gue jatuh cinta sama dia?” Terlanjur mencinta. Sesuatu yang sudah terlanjur kerap jadi momok yang menyesakkan sanubari. Abram tak tahu harus bersikap apa. Sahabatnya itu benar-benar gila. “Ya udah, lo ketemu teman gue deh. Biar lo bisa lupa sama pengacara itu.” “Ih males ah. Gue udah bilang gue gak mau dijodohin Bram.” “Lo gak mau dijodohin tapi maunya jadi pelakor ya.” “Astaga, sahabatnya sendiri dibilang pelakor.” “Ya jelas, kalau lo demen sama suami orang berarti lo pelakor.” “Ya udah, gue ketemu teman lo. Tapi gak bisa dalam waktu dekat ini. Kita lagi banyak kerjaan juga.”ucap Fla dengan terpaksa. Dia gak mau Abram semakin menjadi-jadi. Cowok itu paling bawel kalau menyangkut Fla dan Ivy. “Beneran ya. Kalau janji harus ditepati. Itu teman gue juga bukan orang sembarangan. Dia anak ITB yang masih single and available.” Fla mengangguk setuju meski hatinya tidak. Ia masih tertuju pada sosok Jo yang melayang-layang di kepalanya. Susah sekali menghilangkan ekspresinya yang kaget waktu mendengar ucapan Fla yang menukik tajam. Apalagi suaranya, itu adalah aset berharga yang tak bisa menghilang dari kepala Fla. Tapi ucapan Abram benar adanya. Dunia persilatan bisa hancur kalau ia jadi pelakor. “Lo sendiri gimana? Jangan suruh-suruh gue doang.. Mana calon istri lo?” “Apaan sih, gue mah gak diburu-buru. Lo kan udah dipaksa sama tante buat nikah.”ledek Abram sambil tertawa. “Jangan bilang lo masih kayak dulu?” “Iya.” “Orang gila.” “Emang salah?” “Gak salah sih. Tapi fans lo yang bejibun kasihan Bram.” “Fyi, gue lagi suka sama manager divisi IT.” “What the hell, serius? Lo ketemu dia dimana?” “Di Sundest Cafe. Ah, tapi kayaknya bakal sulit. Dia seorang manager Fla.” “Please, jangan bilang umurnya 50 tahun?” “Pea lo ya. Gue gak segitunya juga kali. Lo kira gue suka nenek-nenek?” “Terus umur berapa?” “30 tahun.” “Ahhh, lega gua Bram.” Abram yang sempurna itu punya sedikit kegilaan yang hanya diketahui oleh Fla dan Ivy. Ia suka pada wanita yang lebih tua darinya. Waktu sekolah dulu orang-orang berpikir dia homo karena tak pernah punya pacar. Padahal ia diam-diam pacaran dengan kakak kelas. Tak berapa lama seseorang mengetuk pintu ruangan Fla. Devi, sekretaris yang mengurus segala jadwal penting kegiatan Fla. Ia membawa Ipad seperti biasanya. “Maaf Mbak, ada masalah.”ucapnya sambil membuka video di Ipad yang ia bawa. Fla dan Abram langsung memperhatikan isi video itu. Seseorang mengaku bahwa karyanya dijiplak oleh Tabrani Fashion. Akun lambe-lambean i********: yang mengupload video pengakuan itu. Kegemparan terjadi di dunia maya. “Videonya baru di upload Dev?” “Iya Mbak. Tapi tadi saya dikabari tim IT. Katanya masalah ini bakal ditangani sama mereka. Kemungkinan produk kita akan berkurang permintaannya.” “Oh ya sudah. Kalau ada apa-apa kamu hubungi saya lagi ya.” Devi langsung bergegas setelah menjelaskan problematika yang terjadi. Fla mendesah kesal. Kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya, tapi tak sampai masuk akun gosip yang hits di Indonesia itu. Model pakaian yang di desain oleh Abram kerap dicuri orang. Entah apa maksud dan tujuannya. Kadang Fla dan Abram curiga pada orang-orang di ENantan yang bisa saja menjebak mereka. Persaingan merek dagang di perusahaan itu kerap tidak sehat demi mendapatkan gelar prioritas. “Udah ya Fla. Gue mau meeting sama anak-anak designer.”ucap Abram pamit. Fla mengiyakan sambil berkutat pada layar laptopnya. Ia melihat beberapa hal yang bisa dikerjakan sebelum waktu benar-benar malam. Saat ia hendak mau pulang, tiba-tiba sebuah telepon mengalihkan perhatiannya. “Hallo Vy, what’s up?” “Lo udah pulang Fla?” “Belum. Ini mau pulang.” “Bareng aja ayok. Ini gue udah mau ke parkiran.” Fla sering mendapat tawaran nebeng dari Ivy dan Abram. Dia tak bisa menyetir gara-gara trauma. Ah, sebenarnya bukan trauma. Mengendarai sepeda saja ia tak bisa. Fla bilang sih karena ia terlalu bodoh. Tak seperti anak-anak pada umumnya, waktu kecil Fla tak pernah diajari naik sepeda. Alhasil, tak ada satupun kendaraan yang bisa ia bawa. Abram pernah berniat mengajarkan tapi cewek itu terlalu bodoh untuk bisa mengerti. “Awalnya lo belajar naik sepeda, abis itu motor, habis itu baru mobil. Gitu Fla.” “Habis mobil baru pesawat. Abis bawa pesawat, gue mati deh. Gitu gak Bram?” Fla yang menyebalkan itu berhasil membuat Abram kesal dan bete. Ia jadi tak berniat mengajari Fla. Fla jalan menuju gedung Suwardi Law Firm seperti perjanjiannya dengan Ivy. Ia berdiri sambil bercermin di layar ponselnya. Ia menganga sebagai bentuk dari olahraga mulut. Perbuatan itu efek dari artikel di google yang bilang kalau senam mulut itu penting untuk melatih otot wajah. Ia tidak sadar bahwa ada orang lain yang menatapnya dengan heran. Ia menoleh dan mendapati cowok yang sebelumnya bertemu dengannya dalam keadaan penuh bunga bermekaran. Fla langsung tersenyum dan berjalan menuju cowok itu. Joustian Hadinata. “Hai, bener kan kita ketemu lagi.” “Hah? Siapa ya?” “Loh, bukannya kamu lihatin saya karena kenal?” “Engga. Saya lihatin karena kamu aneh.” “Hahaha, Aneh gini saya dulu primadona sekolah loh.” Jo hanya diam dan tak menanggapi. Ia kembali melihat ke jalanan. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang juga. “Sombong amat. Kenalin, aku Flavine. Panggil Fla aja.”ucap Fla lagi. Dan lagi, ia dicuekin. Jo hanya memandangi jalanan tempat berlalu lalang mobil-mobil mewah. “Aku tahu kok namamu Jo. Pengacara Jo.” Cowok itu langsung menoleh heran. Lalu dia manggut-manggut dan kembali menatap jalanan. “Kamu gak heran saya tahu namamu?” “Wajar saja orang tahu siapa saya.” “Emangnya kamu artis apa?” “Kalau gak percaya, kamu bisa cari di google. Ada biodata saya lengkap.” “Idih sombong amat. Tapi tetap aja aku suka.” “Jangan gila.” “Beneran! Saya suka pada anda.” “Kamu suka ada maksud? Bilang saja karena nama saya ada di Google.” “Siapa bilang, namaku juga ada di Google. Cari aja Tabrani Fashion. Itu punya saya.” “Sudahlah. Jangan kebanyakan halusinasi.” Ia langsung berlari ketika sebuah mobil parkir di depan gedung. Terlihat jelas seorang cowok yang menyetir mobil itu. Awalnya Fla mengira bahwa yang menjemput adalah istrinya Jo. Ternyata takdir tak setuju mereka bertemu secepat itu. Fla langsung berlari saat mobil Ivy tiba. Ia langsung duduk dan membereskan dressnya yang panjang. Sebagai seorang pemilik merk Tabrani fashion, Fla tak pernah salah dalam berpakaian. Ia ahli dalam mengkombinasikan warna dan style yang catchy. “Apa yang lo lakuin tadi? Lo kira gue gak lihat lo godain Pak Jo? “Gue cuma bercanda Vy.”dustanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD