Eps. 2 Simpul Masa Lalu

1045 Words
Adrian tersenyum hangat, matanya yang bijak berbinar saat menatap Karan. “Ini pasti Karan, ya? Sari sudah banyak bercerita tentang kamu,” sapanya ramah sambil membenarkan posisi duduknya di seberang Karan. Cara duduknya yang tegap namun tidak kaku menunjukkan sosok yang terbiasa dengan disiplin. “Ya, Om,” balas Karan dengan senyum canggung yang mengambang di bibirnya. Tangannya tak sadar memilin ujung taplak meja. Keramahan Adrian sedikit menenangkannya, sampai pandangannya kembali tertuju pada sosok di samping Adrian, pria yang sejak tadi hanya diam mematung. Pria itu, Rainer, duduk dengan santai tapi penuh kesadaran. Tangannya yang panjang tergeletak di atas meja, jari-jemarinya tak bergerak. Yang membuat Karan semakin tidak nyaman adalah tatapannya. Bukan tatapan penuh rasa ingin tahu atau bahkan keramahan, melainkan sebuah pengamatan dingin dan analitis, seolah-olah Karan adalah sebuah spreadsheet yang perlu dievaluasi. Senyum kecutnya yang samar seakan menyiratkan sebuah penilaian diam-diam, dan Karan merasa setiap helai rambutnya yang tak rapi sedang dihakimi. Adrian, yang menyadari ketegangan di antara mereka, akhirnya memecah kesunyian. “Karan, ini adalah Rainer,” ujarnya, menepuk pundak anaknya dengan bangga. “Dia usianya tak jauh terpaut dari kamu. Dia dua puluh delapan tahun, empat tahun lebih tua darimu.” Adrian kemudian tersenyum lega, mencoba mencairkan suasana. “Sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga. Jadi, kalian berdua harus akur dan saling menjaga.” Karan hanya mampu membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan. “Tentu, Om,” gumannya lemah, meski hatinya sudah mulai memberontak. Harus akur dengan si es batu yang sok cool ini? pikirnya dalam hati. Namun, di balik semua rasa tidak suka yang langsung menyala, ada sesuatu yang mengusik benak Karan. Sebuah rasa familiar yang tak bisa dia pungkiri. Bentuk hidung Rainer yang mancung, atau mungkin cara dia mencondongkan tubuhnya yang sedikit itu... seolah-olah pernah dia lihat di suatu tempat dalam memorinya. Keberaniannya akhirnya menang. Dia menatap langsung ke arah Rainer, menantang tatapan dinginnya. Suaranya keluar lebih blak-blakan dari yang dia rencanakan. “Apa... kita pernah bertemu sebelumnya?” Rainer yang selama ini seperti patung, akhirnya bereaksi. Alisnya yang tebas naik sepersekian inci, senyum kecutnya sedikit mengeras. Dia memiringkan kepalanya, dan untuk pertama kalinya, suaranya terdengar, dalam dan datar, mengiris kesunyian yang mencekam. “Menurutku tidak,” balasnya pendek. Tapi ada kilatan singkat di matanya sebuah kilatan yang terlalu cepat untuk ditangkap—yang membuat Karan yakin satu hal, pria ini berbohong. Adrian dan Sari tenggelam dalam obrolan hangat mereka, berbagi cerita dan tawa yang membuat seolah-olah dunia hanya berputar di sekitar meja mereka berdua. Karan hanya bisa duduk diam, menyendoki makanannya tanpa semangat, sementara pikirannya berputar kencang mencoba mengais-ngais memori. Dia menyembunyikan wajahnya di balik gelas air mineral, matanya tak lepas mengamati setiap gerak-gerik Rainer. Cara pria itu memegang gagang gelas, lengkungan alisnya yang tebal ketika mendengarkan ayahnya berbicara, dan terutama ekspresi datar yang seolah permanen terpasang di wajahnya. Semuanya terasa begitu familiar, mengusik sebuah kenangan yang tersimpan jauh di sudut paling dalam ingatannya. Lalu, tiba-tiba, seperti sebuah film yang diputar ulang di kepalanya, segalanya menjadi jelas. Pikirannya melayang kembali ke lima tahun yang lalu. Sebuah aula kampus yang ramai, penuh dengan stan pameran dan para mahasiswa berjas formal untuk sebuah kompetisi bisnis nasional. Karan, yang kala itu masih berstatus mahasiswi, terburu-buru melintasi keramaian untuk menjemput temannya. Di tangannya, ada segelas besar es kopi s**u yang hampir habis. Dia berbelok dengan cepat di sebuah sudut dan membentur seseorang. Tubuhnya menabrak sesuatu yang kokoh. Sensasi dingin dan basah seketika menyergapnya. Dia mendengar suara tercekik, marah, dari atas kepalanya. Ketika dia mendongak, matanya bertemu dengan sepasang mata cokelat tajam yang menyala-nyala. Itu adalah Rainer, jauh lebih muda, dengan wajah yang masih sedikit kurang arogan tapi sudah sama-sama menyebalkan. Dia mengenakan setelan jas berwarna putih gading yang sempurna, yang kini dihiasi noda cokelat yang menyebar dramatis di bagian da-da. “Apa kamu nggak lihat di mana kamu berjalan?” hardik Rainer kala itu, suaranya penuh frustrasi sambil menatap noda di jasnya yang jelas-jelas mahal. Karan yang kaget dan malu, langsung membela diri. “Dasar sok elegan! Kamu juga tiba-tiba muncul dari belakang!” Mereka saling bertukar kata-kata pedas, singkat namun panas, di tengah kerumunan yang mulai memperhatikan. Mereka berpisah dengan geram, masing-masing membawa kesan yang paling buruk tentang yang lain. Di mata Karan, Rainer adalah si tukang jas sok cool dan judes, di mata Rainer, Karan adalah si wanita ceroboh dan tidak bisa diatur. Gelas di tangan Karan bergetar, mengembalikannya ke masa kini. Darahnya serasa mendidih. Matanya membelalak, menatap Rainer dengan ekspresi campuran antara kaget, marah, dan tidak percaya. 'Oh, tidak... TIDAK!' batinnya berteriak. 'Dia... pria jas putih itu!' Dan yang paling membuatnya ingin menjerit adalah, Rainer, seolah bisa membaca pikirannya, menatapnya balik. Di sudut bibirnya, tergambar senyum tipis yang penuh arti, seakan berkata, akhirnya kamu ingat juga. Acara makan malam itu akhirnya berakhir. Suasana hangat yang dibangun Adrian dan Sari berhasil mengisi sebagian besar waktu, meski ada ketegangan tak kasat mata yang terus mengambang antara Karan dan Rainer. Saat mereka bersiap untuk berpisah di pintu utama restoran, Rainer tiba-tiba melangkah mendekati Karan yang sedang memakai jaketnya. Dia membungkuk sedikit, suaranya berbisik rendah, hanya untuk didengar Karan. “Aku harap kamu nggak akan menumpahkan minuman berwarna lainnya di setelanku lain waktu.” Karan membeku. Tatapannya yang tadinya menghindar, kini menatap langsung ke arah Rainer. Dia hanya diam, sambil menaikkan satu alisnya dengan ekspresi menantang. Pesan di matanya jelas, beresiko sekali kamu mengingatkanku tentang itu. Kebenaran yang baru saja dia ketahui membuat bisikan Rainer terasa seperti sebuah provokasi yang disengaja. Kebetulan, Sari yang sedang mengobrol dengan Adrian, menangkap kedekatan mendadak itu. Matanya berbinar penuh harap. “Wah, kalian berdua sudah akur ya? Apa kalian ternyata sudah saling kenal sebelumnya?” tanyanya penuh antusias. Dalam sekejap, kedua kepala itu berbalik ke arah Sari. Hampir secara kompak, tanpa bertukar pandang sekalipun, dua suara menjawab dengan nada datar yang sempurna. “Belum.” Jawaban mereka bersatu, singkat dan tegas. Tapi di balik jawaban yang seragam itu, tersimpan sebuah rahasia bersama. Karan memutar balik tubuhnya dan berjalan menuju pintu, sementara Rainer menyandarkan tangan di sakunya, senyum tipis yang tak terbaca masih menghiasi bibirnya. Sari hanya bisa tersenyum simpul, sedikit bingung dengan dinamika aneh antara dua orang yang sebentar lagi akan menjadi saudara tiri itu. Adegan ini menjadi penutup malam yang penuh teka-teki, sekaligus awal dari sebuah "perang" baru di bawah satu atap yang tak terelakkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD