Eps. 1 Berita Pernikahan
Karan menyipitkan mata, berkonsentrasi penuh pada lensa kamera ponsel yang terpancang di tripod. Di belakangnya, latar belakang kamarnya yang penuh poster dan rak buku tertata rapi untuk konten terbarunya.
“Jadi, intinya, lima alasan kenapa jadi wanita harus pintar…” ujarnya dengan ekspresi lebay, siap untuk punchline-nya.
Teringat suara dalam langkah kaki menuju ke kamarnya.
Pintu kamar terbuka. Sari menyembulkan kepala, wajahnya terlihat serius. “Kar, ada waktu sebentar?”
Karan memicingkan mata, tanpa mematikan rekaman. “Ibu, bentar lagi. Tinggal satu take ini selesai,” bisiknya lirih, berharap ibunya mengerti.
“Ini penting, Sayang. Ibu perlu bicara serius,” desak Sari, tidak bergerak dari pintu.
Karan menghela napas panjang. Ekspresi komedinya langsung lumer. Dia mengangkat tangan ke kamera, memberi isyarat “cut”. “Ibu, ini tinggal kurang sedikit lagi. Sekarang Ibu datang, jadinya aku harus ngulang semuanya dari awal nanti,” keluhnya, suaranya tidak marah, tapi jelas kesal. Semua energi dan mood yang sudah dikumpulkannya dengan susah payah buyar seketika.
“Ibu janji, sebentar saja,” bujuk Sari, suaranya lembut tapi penuh tekad.
Dengan napas yang masih berat, Karan menekan tombol stop pada rekamannya. Semua ide lucu yang mengudara di kepalanya langsung berantakan. Dengan langkah gontai, dia menghampiri ibunya yang sudah menunggu di depan pintu.
“Apa ini, Bu? Bisa-bisanya menyela di tengah-tengah aku rekaman,” gerutunya sambil mengikuti ibunya yang memimpinnya ke ruang keluarga yang lebih privat, meninggalkan kamar dan set rekaman yang belum selesai.
Ruang keluarga yang sepi itu siap menjadi tempat untuk sebuah pembicaraan yang, tanpa Karan duga, akan mengubah dinamika keluarganya selamanya.
Kamar Karan masih diselimuti kesunyian yang terasa berat setelah rekamannya terpaksa terputus. Konsentrasinya yang tadi mengudara bersama ide-ide lucu untuk kontennya, kini serasa jatuh tercecer dan mengendap di lantai. Dia duduk di tepi ranjangnya, sementara Ibunya, Sari, duduk di kursi kerja di hadapannya dengan postur yang tegang namun juga penuh harap.
“Kar,” awal Sari, suaranya lembut namun bergetar penuh keyakinan. “Kamu ingat, dulu, sesudah ayahmu pergi… kamu pernah bilang pada Ibu, daripada hidup sendiri, lebih baik Ibu menikah lagi. Akan ada temannya Ibu menjalani hidup ini.”
Karan mengangguk pelan, ingatannya melayang pada masa-masa kelam itu. Kalimat itu memang pernah terucap dari mulutnya, lahir dari rasa iba melihat kesendirian ibunya. Tapi itu dulu.
“Dan sekarang,” lanjut Sari, senyum kecil mulai mengembang di bibirnya, sebuah cahaya yang jarang terpancar dalam beberapa tahun terakhir, “Ibu mewujudkan keinginanmu itu.”
Karan tersentak kaget. Tubuhnya yang tadinya lunglai langsung tegap. Matanya menyipit, kedua alisnya berkerut membentuk alur kedalaman di dahinya. “Maksud Ibu… Ibu akan menikah? Sekarang?” suaranya terdengar lebih tinggi dari yang dia rencanakan.
Sari tak bisa lagi menahan senyum lebarnya. Itu adalah senyum lepas, senyum bahagia yang tak pernah Karan lihat sejak petaka meninggalnya ayahnya merenggut tawa dari rumah mereka. “Iya, Sayang. Ibu rasa sudah waktunya.”
Karan terdiam sejenak, memproses. Perasaan campur aduk. Ada secercah haru, tapi juga ada kecemasan yang tiba-tiba menyergap. “Ibu… Ibu boleh saja,” ujarnya, berhati-hati memilih kata. “Tapi… aku harap lelaki pilihan Ibu nanti orang yang baik. Dan bisa mengerti kita. Mengerti aku.” Bagaimanapun, ini akan mengubah hidupnya juga.
“Kamu nggak perlu khawatir tentang itu,” sahut Sari cepat, matanya berbinar penuh keyakinan. “Ibu nggak mungkin salah pilih. Dan kamu, pasti akan senang sekali menerimanya.”
Rasa penasaran itu akhirnya mengalahkan semua perasaan lain. “Siapa calon Ibu?” tanya Karan, suaranya lirih.
“Teman lama Ibu, Adrian Elard.”
Kening Karan semakin berkerut. Nama itu sama sekali tidak familiar di ingatannya. Dia menggeleng pelan.
Melihat ekspresi bingung putrinya, Sari kembali tersenyum lebar, kali ini disertai sedikit tawa kecil. “Nanti malam kamu akan bertemu dengannya. Kami akan makan malam bersama. Ibu harap kamu suka.” Dia berhenti sejenak, lalu melepaskan bom terakhirnya. “Oh iya, kami juga sudah menentukan tanggal pernikahannya. Dua minggu lagi.”
Dua minggu? Karan mengerjapkan matanya beberapa kali, seperti berusaha memastikan ini bukan mimpi. Berita ini terlalu tiba-tiba, terlalu cepat, dan terlalu besar. Pikirannya berputar, mencoba memahami segala konsekuensinya.
Dia terpana, membeku di tempat duduknya. Senang? Kesal? Dia sendiri tidak tahu. Yang dia rasakan hanyalah sebuah goncangan hebat, dan sebuah pertanyaan besar, siapa sebenarnya Adrian Elard ini yang bisa membawa perubahan begitu dahsyat dalam hidup mereka hanya dalam semalam?
*
Malam itu, atmosfer di rumah terasa berbeda. Karan telah mengenakan jumpsuit sutra berwarna wine yang elegan namun nyaman, sementara Sari memilih gaun tunik bordir dengan celana panjang yang sofistikated. Mereka terlihat seperti dua wanita yang hendak merayakan sesuatu yang spesial.
“Kamu terlihat sangat cantik dengan itu, Sayang,” puji Sari dengan mata berbinar, berdiri di belakang Karan yang sedang menata rambutnya di depan cermin kamar.
Karan membalas senyum kecil. “Ibu juga.” Dia melirik jam tangan di pergelangannya. “Kita berangkat sekarang, yuk? Janji ketemu kita 40 menit lagi, tapi aku nggak yakin kita bisa lolos dari macet malam ini.”
“Iya, baiklah. Ibu nggak perlu Amanda terlambat bila aku yang nyetir.”
Di dalam mobil, Karan yang memegang kendali. Sari duduk di sampingnya, menjadi navigator dengan ponsel yang menunjukan alamat restoran French bistro ternama di kawasan segitiga emas ibukota. Perjalanan memang cukup padat, tapi seperti firasat Karan yang tajam, mereka berhasil tiba di restoran mewah bernuansa temaram itu dengan selamat, bahkan lima belas menit lebih awal.
“Kita yang pertama,” gumam Karan saat pelayan membawa mereka ke meja berbentuk bulat di sudut yang privat.
Sari langsung duduk dengan pose sempurna, senyum penuh antisipasi tidak lepas dari wajahnya. Berbeda dengan putrinya yang duduk dengan agak kaku, jari-jarinya tak sadar memainkan ujung taplak meja yang bersih. Matanya terus mengawasi pintu masuk, jantungnya berdebar-debar menanti sosok pria yang akan menentukan babak baru hidup mereka.
Hingga kemudian, sosok itu muncul.
Seorang pria berperawakan tegap dan berpenampilan rapi, dengan uban yang tidak sedikit di pelipisnya, mendekat dengan langkah percaya diri. Ia tersenyum hangat, pertama pada Sari, pandangannya tajam, namun ramah beralih kepada Karan.
Dan di belakangnya, seperti bayangan yang terpisah, muncul seorang lelaki muda. Tingginya hampir sama, dengan gaya kasual namun tetap terlihat mahal dengan jaket bomber hitam dan celana chino. Wajahnya... terasa sangat familier, seolah pernah Karan lihat di suatu tempat.
“Mas Adrian! Rainer! Akhirnya kalian datang!” sambut Sari penuh antusias, bangkit untuk menyambut mereka.
Sementara itu, Karan masih terpaku. Matanya bolak-balik antara Adrian Elard yang tersenyum sopan, dan pada wajah pemuda di belakangnya yang kini menatapnya dengan pandangan datar dan sedikit membosankan. Sebuah firasat buruk mulai menjalar dalam dirinya.