"MBAK KARIN UDAH BELUM???"
"IYA MBAK SEBENTAR!!"
"Shanblock kan udah, saatnya berangkat." Ucapku tersenyum melihat bayangan wajahku sendiri dikaca.
"Ayo Mbak, Mas!" Ajakku sambil meraih topi caping yang digantung di depan rumah.
"Iyo rin! budhe kami berangkat dulu nggih (ya). Assalamualaikum." Salam Mas Udin, aku dan Mbak Isna sambil mencium tangan uti bergantian, eyang uti lagi duduk memilah bibit cabe yang akan disebar.
Eyang Uti ku itu masih strong, walaupun usianya gak muda lagi. "Iyo waalaikumsalam. Sing ati-ati (iya waalaikumsalam, yang hati-hati)
▪️▪️▪️
"Wah... Udah lama gak kesini tapi masih sama kayak dulu," Monolog Ku sambil berjalan menuju kebun milik Eyang.
Seperti desa pelosok kebanyakan jalannya masih terjal berbatu kayak sekarang. Tapi itu malah membuat keasrian suasana desa makin terasa.
Cuma jalan setengah jam dari rumah, kami pun sampai di kebun cabe milik Eyang. Tak tanggung-tanggung kebunnya itu luas banget. Gak hanya cabe merah yang ditanam ,ada juga tomat, dan berbagai jenis cabe.
"Na... kue, karin karo budhe-budhe panen lombok abang seng tuo-tuo wae. Mas karo bapak-bapak liyane meh panen lombok rawit. (Na... kamu, mbak dan budhe-budhe panen cabe merah aja yang tua-tua. Mas sama bapak-bapak yang lain mau panen cabe rawit)" Instruksi Mas Udin. Dia langsung berjalan ke kebun cabe rawit meninggalkan kita di area kebun cabe.
"Nggeh mas, (iya mas)" ucapku dan Mbak Isna bareng. Kami ber tujuh pun mengambil keranjang masing-masing. Karena aku sudah pernah memanen cabe, jadi aku sudah tau mana yang sudah bisa dipanen.
▪▪▪
"Banyak banget yang dipanen," Heran-ku saat selesai memanen cabe yang ditugaskan Mas Udin pada kami.
Tak tanggung-tanggung ada 9 keranjang besar yang menampung tiga jenis cabe yang berbeda, Cabe merah, Rawit dan cabai hijau.
Walaupun kami sudah memanen sebagian cabe, tapi masih banyak aja ada yang masih belum terpetik karena belum masuk kriteria panen.
Saat lagi melihat Mas Udin yang lagi memberikan upah panen, aku dikagetkan suara laki-laki.
"Uwes kabeh kih? (Udah semua ini?)" Aku terkejut dan refleks menoleh kebelakang dan ternyata dia Mas Bayu.
"Mas Bayu mah. Karin kaget tau tadi, tiba-tiba aja ada suara ngebas," Kesalku, Mbak Isna malah cekikikan melihatku kesal.
Gak Mbak Isna, gak sahabatku, pasti yang melihat aku kesal akan di tertawakan. Dasar. "Maaf-maaf, Mas gak sengaja. Jadi semuanya udah?" Tanyanya lagi sambil melihat-lihat keranjang cabe.
"Udah kok Mas," Jawabku.
"Oke! Bapak-bapak, Mas Udin tolong bantu saya angkatin kedalam!" Mas Bayu membuka pintu belakang pick-up supaya memudahkan memasukkan keranjang isi cabe.
Para laki-laki bergotong-royong membantu memasukkan keranjang-keranjang berisi cabe kedalam pick-up. "Matur suwun (Terimakasih) nggih bapak-bapak Sampun (Udah) nge bantu panen," Ucap Mas Bayu pada bapak-bapak. "Kudune kito seng kudu ngomong matur nuwun karo Mas Bayu lan Mas Udin, amergo wes percoyo panen iki karo kito-kito. Suwun yho Mas, (Aslinya kita yang harus bilang makasih sana Mas Bayu dan Mas Udin. karena udah percaya sama kita. Terimakasih ya mas)" Ucap Salah satu bapak yang membantu panen kami.
"Enggeh pak, (Iya pak)" Jawab Mas Bayu.
"Balek sek yho (pulang dulu ya) Mas, Mbak. Matur nuwun (terimakasih)." Pamit para pak-bapak, dan mereka berjalan berpencar sesuai arah rumahnya.
"Ayo!" Ajak mas Bayu
"Mas aku di belakang sama Mas Udin ya?" pintaku.
"Yaudah. Na kamu di depan apa dibelakang?" Tanya Mas Bayu pada Isna. "Belakang aja Mas. Udah lama gak duduk dibelakang," Jawab Mbak Isna.
"Oh yaudah. Ayo naik!" Ajak Mas Bayu lagi.
Aku dan Mbak Isna dibantu Mas Udin buat naik bagian belakang pick-up yang terbuka. Mayan seger Ei, semilir angin.
▪️▪️▪️
"Kita langsung ke pembeli atau pulang dulu ke rumah Mas?" Tanyaku pada Mas Udin.
Biasanya setelah panen gini akan kita bawa ke pembeli yang udah janjian dengan kita. Tapi kalau uah berubah gak tahu juga,
"Langsung dijual. Emangnya kamu mau pulang dulu Ke rumah? Kalau iya bilang aja sama Bayu nanti biar kita pulang dulu—“
"Enggak kok Mas! Aku malah pengen lihat gimana cara berjualan setelah baru panen," potongku cepat sebelum merambat hal-hal yang mlenceng. Dari dulu pengen banget ikut jual cabe baru panen tapi karena ya dulu kalau kita pergi sama Amma, jadi pasti dilarang ikut, katanya 'nanti ngerepotin'.
Emangnya aku bocah bandel? sampe ngerepotin segala.
▪▪▪
"Sekilo 26 ribu? Gimana Mas?" Tanya calon pembeli panen cabe kami.
"29 ribu aja pak! itu kami hanya mendapat untung yang gak banyak." Tolak Mas Udin.
Kita lagi ada di pusat pengepul penjual bumbu dagangan di pasar kota. Banyak banget para penjual dari pasar yang mencari barang dagangan mereka disini.
"27 ribu? Sepakat?" Tanya bapak-bapak Pembeli "Gimana Yu?" Tanya Mas udin ke Mas Bayu.
Mas Udin lagi nenawar-nawar harga jual pada pembeli, Mas Bayu, aku dan Mbak Isna hanya mengamati dan mendengarkan saja.
"Terserah Mas Udin gimana baiknya." Mas Bayu kayaknya gak mau ambil pusing masalah ginian. Simpel orangnya.
"Kalau 28 ribu. Itu harga udah cukup mentok buat cabe kualitas bagus kayak gini loh pak.”
"Baiklah 28 ribu. Saya Ambil masing masing 50 kilo," Finish pak pembeli cabe kita.
"Baik pak. Yu ambil timbangan! Kita timbang sekarang!" Pinta Mas Udin dan langsung dilaksanakan Mas Bayu.
"Terimakasih kasih banyak pak hari atas kerja samanya. Semoga kita menjadi patner kedepannya." Ucap Mas Udin menjabat tangan bapak pembeli cabe kita.
"Alhamdulillah selesai juga. Ayo yu kita ke restoran makanan pedas dan rumah makan lombok ijo!" Ajak Mas Udin setelah memasukkan Uang hasil jual tadi ke dalam tas slempang yang nya.
Tas slempang tadi teryata gak dibawa Mas Udin tapi disimpan di tempat tersembunyi. Sangking takut uangnya hilang.
▪▪▪
"BUAT Mas Udin. Makasih ya Mas buat panen kita kali ini. Mas udah membuat panen kita lancar, gak tahu deh kalau gak Mas Udin yang urus. Makasih banget ya Mas," Ucap Mas Bayu sambil memberikan uang segepok yang gak tahu nilainya berapa ke Mas Udin. Orang yang berjasa di panen kita kali ini.
"Budhe akeh ngomong matur Suwun karo kue din. Suwun wes ngurus kebon budhe. (Budhe banyak bicara makasih sama kamu din. terimakasih sudah mengurus kebunnya budhe)." ujar eyang uti.
"Nggih budhe. Kulo badhe nyuwun matur nuwun kaleh budhe, budhe sampun percaya kaleh kulo, matur nuwun sanget. Kulo langsung wangsol nggih. Assalamualaikum. (iya budhe, saya mau minta makasih buat budhe, budhe sudah percaya sama saya. Terima kasih kasih banyak, saya langsung pulang)" salam Mas Udin.
Dia nyium tangan Uti, Jabat tangan dengan Mas Bayu, Isna juga nyium tangan Mas Bayu, cuma aku yang gak berjabat tangan dengannya.
"Uti, Karin langsung mandi ya. udah bau apek gini. Assalamualaikum." Salam ku nyium tangan Uti dan berjalan masuk ke kamar buat ambil perlengkapan mandiku.