PULANG KE TEMPAT ASAL

892 Words
“Dhuk besok kamu pulang sendiri ke Jakarta?” “Ngih ti. Kemarin udah beli tiketnya sama Mas Bayu.” Jawabku sambil membantu Uti melipat baju. “Yo wes (Ya udah) tapi Seng ati-atu (Ati-ati), koe cah wedok dhuk, (Kamu perempuan)” Nasehat uti sambil melihat ku. Aku meletakkan lipatan baju ke tempatnya dan menoleh kearah Uti sambil tersenyum menyakinkan. Aku udah empat hari disini dan besoknya harus kembali pulang ke Jakarta, karna lusa akan ada penentuan jadwal sidangku. ▪▪▪️ “Uti Karin pulang dulu. Makasih udah memberi Karin kenyamanan disini. Tolong bantu doakan Karin supaya sidang Karin lancar! Dan Karin segera lulus seperti keinginan Karin. Karin pulang ti. Assalamualaikum.” Pamitku mencium tangan tuanya. “Waalaikumsalam. Seng ati-ati yho dhuk! (Yang hati-hati ya nak!) Uti pasti doakan Seng terbaik kanggo kue (Yang terbaik buat kamu) , koe barang (Kamu juga) harus belajar dan meraih impian Seng kue pengen (Yang kamu mau)” Ucap Uti sambil mengelus-elus lembut tanganku. “Ayo Rin, Na!. Ti kami berangkat dulu, Assalamualaikum.” Ajak Mas Bayu setelah menaruh koperku ke belakang pick-up. ▪▪▪ “Makasih ya Mas udah banyak direpotkan Karin selama ini,” Ucapku menatap mata Mas Bayu -sepupuku. “Sama-sama. Jaga diri baik-baik dan hati-hati.” Mas Bayu mengusap pucuk kepalaku. Walaupun aku udah besar tapi Mas Bayu masih Menganggap ku anak kecil. Ini juga gara-gara Tyo Oppa yang memprovokasi Mas Bayu. “Na kamu jaga diri baik-baik, sekolah yang pinter. Bantu Mas dan Uti. Maaf selama ini mbak bikin repot kamu,” Ucapku pada Isna. Dia mengangguk kemudian meraih tangan kananku lalu diciumnya. “Aku pergi, Assalamualaikum.” Salamku sambil menyeret koperku ke dalam area bandara. ▪️▪▪ PESAWAT yang ku naiki sudah lepas landas sejak 30 menit yang lalu. Dan disinilah aku sekarang, duduk disamping orang yang gak aku kenal sama sekali. Dari tadi aku Cuma ngelihatin Bumi nusantara dari udara, tapi lama kelamaan malah bosen sendiri. Ah iya baru ingat. “Aku kan bawa buku dan pena. Kenapa gak nulis aja sih? Dasar!” Runtuk-ku dalam hati. Aku mengambil buku bersampul warna biru muda yang bergambar Love yang didalamnya ada tulisan aksara Korea. Aku mulai melancarkan niat awalku untuk menulis. Aku memang mempunyai Hobi menulis sejak mengeyam bangku Sekolah Menengah Pertama, Maka dari itu aku kuliah mengambil jurusan EKONOMI. Ga ada sangkut pautnya sih, tapi aku suka dua-duanya. Aku kuliah sambil mengerjakan Novel kedua ku yang akan terbit nanti. Lumayan nambah uang jajan. Butuh waktu satu jam aku menulis apa yang terlintas cerita di otakku. Aku meneliti hasil tulisan ku, dan lumayan banyak juga yang telah aku tulis. Wuahh Aku menguap tapi karena aku udah diajarkan Amma dan Appa dari kecil jika menguap harus ditutupi, dan itu aku lakukan sekarang. Aku mencari posisi nyenyak buat tidur sebentar, lumayan masih lima puluh menit buat tidur sebentar. ▪▪▪ Aku menyeret koperku buat keluar bandara tapi malah kesialan datang kepadaku. Aku ke fokus-an melihat sekitar sampai gak tahu kalau aku menabrak orang yang gak bersalah. “Maaf-maaf saya gak sengaja!” Ucapku sambil melihat siapa yang ku tabrak. “Mas Zafar!” Kagetku Iya Mas Zafar. Orang yang nganter aku pulang saat ban mobilku bocor. “Mas pilot?” Tanyaku setelah melihat penampilannya yang mengunakan seragam yang dipakai seorang pilot. “Seperti yang kamu lihat. Kalau begitu saya permisi,” Ucapnya lalu berjalan meninggalkan ku yang nematung ditempat. Aku masih melihat punggung kokohnya yang mulai menghilang di pengelihatan ku. “Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah. Ingat itu Dosa,” Runtukku untuk diri sendiri. Aku berjalan kembali menuju Tyo Oppa yang sudah menungguku. Kakak yang baik. Aku tadi menyuruhnya untuk menjemputku, bukan apa-apa Cuma mau ngrusuhin dia yang lagi libur kerja. ▪▪▪ “Lama banget sih! Ngapain aja tadi?” Tanyanya setelah mobil-ku yang dikendarainya jalan meninggalkan area bandara. Aku Cuma nyengir lebar sambil menghadap dia yang masih fokus menyetir. “Ngapa tuh malah nyengir? Lagi syuting iklan pepsoden?” Ucapnya sambil melirik ku sekilas dan kembali fokus menyetir. “Gak kok. Eh iya Btw oppa kenal Mas Zafar?” Tanyaku karna penasaran siapa Mas Zafar. Ya kalau Amma kenal Mas Zafar pasti Tyo Oppa juga kenal kan?. “Kenapa tanya-tanya? Naksir? Kalau iya jangan ngimpi! Soalnya Zafar pasti gak mau sama kamu yang urakan kayak gini,” Ucapnya sinis. Wah dia mengejek, lihat aja nanti. “Jangan salah. Kita aja yang gak tahu kalau tiba-tiba besok atau lusa Mas Zafar ngelamar aku gimana? Jodoh gak ada yang tahu loh,” Belaku. “Tak amini aja biar seneng,” Ucap Tyo Oppa mengalah padaku. Aku makin tersenyum lebar kearah nya. Didalam perjalanan menuju kerumah aku Cuma melihat-lihat jalanan yang lagi rame, biasa, namanya juga ibukota. ▪▪▪ “Kamu istirahat aja sana! Nanti malam jangan lupa pake gamis yang udah Amma siapkan di kamarmu.” Ucap Amma padaku. Emangnya ada apa sampai-sampai aku harus memakai gamis yang Amma siapkan? Apa ada acara penting? “Ada acara apa ma? Tumben-tumbenan harus pake gamis pilihan Amma,” Tanya-ku bingung. Ada yang tidak beres disini. “Udah jangan banyak tanya! Sana-sana!!” Usir Amma sambil mendorongku pergi. Ah bodo amat. Nanti juga tahu sendiri. Aku menaiki tangga, lumayan cape juga ternyata perjalanan pulang kali ini. Aku mulai mandi dulu dan sholat ashar, setelah sekali aku merebahkan tubuh lelah ku di ranjang. Lama kelamaan mataku tertutup dengan sendiri nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD