Aku sudah selesai bersiap sesuai dengan perintah Amma bahwa aku disuruh memakai Gamis yang Amma pilihkan.
Gamis terusan warna silver muda yang sekalian ada hijabnya. Gamis yang pas sekali dengan seleraku.
Saat lagi menyelisik penampilanku pintu kamarku diketuk seseorang, iya seseorang bukan Setan.
“Eonni udah selesai apa belum?, Kalau udah ayo turun, tamunya udah pada nunggu,” Ucap seseorang dibalik pintu kamarku yang belum aku buka.
Aku Berjalan membuka pintu kamar dan aku melihat Abel Dongsaeng ku sudah cantik dengan gamis warna coklat mudanya.
“Sudah?” Tanyanya.
“Iya. Ayo!” Ajakku menuju kebawah.
Kami berdua berjalan ber iringan, Tapi kenapa dari tadi Abel Senyam-senyum sendiri.
“Kenapa senyum-senyum?” Tanyaku.
“Gak papa kok,” Jawabnya, tapi dia malah makin melebarkan senyumnya.
Aneh.
Saat semakin dekat dengan ruang tamu aku semakin mendengar dengan jelas orang-orang sedang mengobrol.
Tapi anehnya ku kayak mendengar suara yang aku kenal ketika setelah suara Appa bertanya dengannya.
Tapi siapa ya?
Aku mengabaikan pikiran anehku dan terus berjalan menuju ruang tamu sambil menunduk. Kata Amma ini adalah salah satu bentuk kesopanan.
“Assalamualaikum, maaf nunggu lama,” Ucapku dan Abel ketika sampai di ruang tamu. Akupun masih menunduk anggun.
“Waalaikumsalam. Gak papa nak, Duduklah!” Ujar seseorang wanita yang ku yakini bukan suara Amma
Aku mendongak menatap tamu keluargaku. Aku lantas mencium tangan lelaki dan wanita paruh baya yang duduk berdampingan, dan alangkah kagetnya aku dengan salah satu orang yang duduk disamping kiri pria paruh baya.
“Mas Zafar? Ngapain mas disini?” Tanyaku mengabaikan sekitar.
Dia duduk tenang memakai baju Batik warna Hitam silver. Kalau dilihat-lihat kenapa warna Batiknya sama dengan warna gamisku?
“Karina!” Sela Amma. Sepertinya dia memprotes pertanyaan bodohku.
“Kalian udah saling kenal?” Tanya Wanita baruh baya yang sedang kebingungan. Dia menantap Aku dan Mas Zafar bergantian.
“Tidak terlalu kok Bun. Kami hanya dua kali bertemu,” Jawab Mas Zafar.
“Aduh!” Pekikku kaget saat tiba-tiba kakiku dinjak.
Aku memelototi Setga, Dongsaeng ku yang gak berdosanya menginjak kaki cantik-ku. Dia Cuma cuek kaya gak merasa bersalah sedikitpun.
Aku melihat kearah Amma, tapi aku malah mendapat pelototan sambil mengode lewat mulutnya untuk menyuruh ku buat duduk.
“Maaf-maaf atas ketidak Nyamanan-nya,” Ucapku lalu duduk disebelah Abel yang sudah duduk mendahuluiku.
Dasar!!!
“Semuanya udah pada ngumpul, jadi sekarang saja ya?! Silahkan Pak Gino!” Ucap Appa membuka topik pembicaraan.
“Terima kasih Pak Lee. Saya dan keluarga kesini mau menyampaikan niat tulus putra kami, dan Putra kami Zafar lah yang akan menyampaikan nya,” Ucap Pria paruh baya yang duduk disamping Mas Zafar, seperti nya Ayah Mas Zafar, Itu udah pasti. Karna pahatan bagian Mata dan alis sama persis dengannya.
Kami semua pun mendengarkan dengan tenang. Semua yang mereka katakan kami mencoba pahami.
Mas Zafar Menghembus kan nafas dulu sebelum berbicara, Dia tampak sedikit gelisah. Dan kenapa juga jantungku memompa lebih cepat.
“Assalamualaikum warrohmatullah hiwabarokatuh. Perkenalkan Nama saya Zafar Deryanto Sanjaya. Saya kemari bersama keluarga mau menyampaikan niat tulus saya sebagai seorang lelaki. Saya kemari Mau menjadikan diri saya sendiri sebagai imam putri Anda. Karina, Saya mau berbicara dulu sebelum saya benar-benar menyatakannya. Saya ini bukan lelaki romantis, bukan juga lelaki yang mampu membuat seorang gadis menangis, tapi saya adalah lelaki yang berani menyatakan keinginan saya jika saya menginginkan nya. Saya tidak bisa berjanji karna setiap manusia pasti akan lupa dengan janjinya tapi saya akan berusaha membuat kamu bahagia. Karina... Maukah kamu menjadi Makmum di setiap Sholat saya? Tanggung jawab saya? Rumah cinta saya? Dan ibu bagi anak-anak saya?”
Aku terperangah mendengar ucapan yang Mas Zafar katakan. Apa ini mimpi?
Kalau iya. Tolong bangunkan aku sekarang sebelum terlambat.
“Ee... Mas Zafar beneran ngelamar aku jadi istri Mas?” Tanyaku tak percaya.
Tapi Mas Zafar malah berubah menjadi orang ngeselin, dia jawab nya bikin orang lain ingin tinju aja sama tembok sangking keselnya.
“Seperti yang kamu dengar tadi.”
Aku hanya menghembuskan nafas lelah, Mas Zafar kan orangnya kaku, datar dan lempeng mulu.
“Gimana nak Karin? Apa kamu mau bersedia jadi menantu kami?” Tanya ibu Mas Zafar.
Aku bertanya lewat tatapan mata dengan keluarga ku. Mereka membalas dengan tersenyum cerah kepadaku.
Amma terharu dan tersenyum bangga melihat diriku dipinang oleh lelaki. Aku meramalkan ucapan tanya dan doa kepada Yang berkuasa atas jodohku.
“Aku tidak bisa!”
“HAH?” pekik keluargaku kompak. Semuanya melihat kearahku dengan tatapan bingung.
“Saya tidak memaksa mu menerima lamaran saya. Jawabannya ada di kamu, kalau begitu berati kita emang tidak ber jodoh.” Ucap Mas Zafar yang menampilkan wajah datar.
Tapi aku bisa melihat tatapan matanya yang menandakan kalau dia kecewa, dan sedih.
Aku tersenyum lebar kemudian menyelesaikan ucapanku.
“Mas Zafar apa-apaan sih. Aku kan belum menyelesaikan ucapanku, maksudku tadi aku tidak bisa menolaknya, yang berati aku menerima lamaranmu.”
“k*****t!!” Pekik keluargaku kesal.
Tyo oppa, Abel, dan Setga sudah bersiap membunuhku. Mereka sudah ancang-ancang bersiap menyembelihku. Aku yang sudah menyadarinya langsung berdiri dan berlari kabur.
“KABUR!!!!!” Aku langsung berlari se kencang-kencangnya kedalam rumah. Mereka bertiga langsung mengejarku tanpa ampun.
Aku aja belum nikah masa udah mau dibunuh aja.