Pertemuan
"Kalian ayah kasih waktu dua minggu untuk perkenalan. Dan setelah itu, kalian akan menikah."
"Hah?!" hanya itu respon yang di berikan Setya dan Fitry karena berita mengejutkan yang di ucapkan Sultan.
"Ayah apa-apaan sih? Ngomongin nikah kayak cuma mau daftarin anaknya sekolah," protes Setya tak terima. Memang Setya tidak bisa mencari jodoh sendiri sampai ayahnya harus ikut campur urusan percintaannya?
"Ayah serius, Setya. Ayah pengen Fitri jadi menantu ayah. Laksanakan perjanjian yang ayah dan Om Sigit lakukan dulu. Jadi tolong, kamu terima perjodohan ini."
Setya membelalak. Perjanjian? Sungguh, demi apapun. Ini alasan konyol yang Setya sendiri tidak bisa meyakini.
"Masalahnya, ayah tau kan aku punya pacar? Aku masih pacaran sam Rere, Yah."
Sultan berdecak. "Dan kamu tau ayah gak pernah suka sama dia!"
"Tapi-"
"Gak ada tapi! Ayah gak pernah suka sama Rere dan kamu tau itu!" ucapan Setya di potong tiba-tiba. Pemuda itu hanya bisa menghela nafas panjang. Ayahnya memang sekeras kepala itu. Mungkin ia bisa bicara lagi nanti atau besok. Namun yang pasti bukan sekarang.
"Ayah, Fitry masih kuliah. Fitry bakal disibukin sama tugas akhir dan penyusunan skripsi. Fitry belum kepikiran buat menikah. Fitry masih pengen bahagiain ayah dulu." Setya menatap gadis yang duduk disampingnya dalam. Cantik, tapi masih cantik Rere. Suaranya lembut, badannya tidak terlalu tunggi, juga tidak terlalu pendek. Sangat standar untuk ukuran wanita. Bahkan Rere lebih segala-galanya dari pada gadis ini. Lalu, apa yang membuat ayahnya tertarik sampai memaksanya cepat menikah?
"Ayah selalu merasa bahagia dan beruntung punya kamu, Nak. Dan kamu bisa bahagiain ayah dengan cara kamu menikah sama lelaki pilihan ayah. Ayah yakin, Setya adalah lelaki yang baik."
Fitry diam, tak tau harus berkata apa. Menolak pun rasanya percuma. Ayahnya adalah orang yang sabar. Namun begitu keras kepala. Ia tidak mengerti, dua orang yang sama-sama keras kepala seperti keduanya bisa berdahabat begitu lama.
"Kami berdua akan beri kalian waktu selama dua minggu untuk perkenalan. Jadi, manfaatin waktu itu sebaik mungkin."
Keduanya tidak menyangka. Alasan mereka diminta datang ke salah satu restoran dengan nuansa jawa yang kental ini hanya untuk perjodohan.
***
Fitry menghela nafas lelah. Sudah seminggu sejak ia bertemu dengan orang yang dijodohkan dengannya. Ayah mereka memberikan waktu dua minggu untuk berkenalan dan menjadi dekat. Namun jangankan berkenalan dan menjadi dekat. Mereka berdua bertemu saja tidak. Fitry sebenarnya tidak begitu ambil pusing. Karena ia pun sedang di sibukkan dengan tugas-tugasnya.
Namun memikirkannya lagi bahwa setelah satu minggu lagi ia akan menjadi istri orang, mau tak mau ia merasa gugup juga khawatir. Kata ayahnya, Setya adalah lelaki yang baik. Lelaki yang baik yang bahkan tidak berniat bertemu dan membicarakan masalah perjodohan aneh-yang didasari janji ayahnya- dengan calon istrinya? Wajarkan jika Fitry menganggap ayahnya hanya berbicara omong kosong?
"Fitry, woy!"
Fitri terkejut, saat Hany menepuk keras pundaknya.
"Ngelamunin apa sih hah? Itu hape geter dari tadi," ucap Hany yang membuat Fitri Buru-buru mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.
"Ya, Ayah?"
"Kamu coba liat foto yang ayah kirim di Wa dong. Nanti langsung kasih komentar, ya," ucap suara ayahnya dari seberang.
"Oke."
Setelah sambungan telepon terputus, Fitry langsung membuka aplikasi Whatsappnya. Ayahnya mengirim beberapa foto model undangan. Dengan namanya dan Setya sebagai calon pengantin.
Bahkan Fitry yang katanya adalah calon pengantin saja tidak sesenang ayahnya. Sesekali ia merasa malah ayahnya yang akan menikah lagi. Jika ibunya tau, Fitry pasti akan terkena omelan 24/7 selama berbulan-bulan.
[Aku ngikut ayah aja.]
Katanya yang ia ketik dalam chat. Ya, apapun asal sang ayah bahagia.
Gadis itu meletakkan kembali ponselnya. Lalu menghela nafas panjang. Ia melirik kedua temannya yang masih sibuk dengan makanan dan ponsel masing-masing.
"Guys."
Keduanya mendongak.
"Kalo jadi, minggu depan aku nikah."
Uhuk-uhuk!
"Kalo bercanda jangan pas aku lagi makan dong, Fit! Keselek ni," protes Lala. Hidungnya jadi panas karena kuah bakso yang ia makan pedas.
"Sama siapa? Om-om kaya? Udah cape ngurusin tugas?" tanya Hany. Gadis tinggi semampai itu menyempatkan diri menjitak kepala Fitry pelan.
Fitry sudah menduga, mereka pasti menganggap Fitry bercanda. Karena nikah muda memang tidak pernah ada dalam kamus seorang Fitry Ardya.
Gadis dengan rambut panjang sebahu itu membuka ponselnya, lalu memperlihatkan foto yang ayahnya kirimkan.
"Aku dijodohin," katanya singkat.
"Berasa balik lagi ke zaman Siti Nurbaya gak?"
Fitry berdecak. "La, aku lagi gak bercanda!"
"Sorry."
Ketiganya diam. Mendadak, kantin kampus menjadi hening.
"Jadi gimana rencana kedepannya? Bakal tetep kamu terima atau mau kamu tolak aja?"
"Telat satu minggu kalo mau di tolak. Ayah sama Ayahnya Setya udah seneng dan excited banget. Ini aja undangan yang nyiapin ayah. Kita emang cuma tinggal nikah doang." Fitry lagi-lagi mengehela nafas panjang.
"Aku gak tau harus seneng atau sedih." Lala mengusap pundak Fitry pelan. Menenangkan.
"Orang tua pasti mau yang terbaik buat anak-anaknya. Mungkin pilihan ayah kamu emang udah yang paling baik kan?" Hany juga ikut menenangkan.
Fitry mengangguk. "Semoga, aku juga ngarepnya gitu."
"Btw ganteng gak?" Lala tersenyum cerah. Dijodohin, kalau jodohnya ganteng mah jangan ditolak dong.
"Cek ignya aja."
Lala mengernyit, tetapi tak urung tetap mengambil ponselnya juga.
"Usernamenya apa?"
"Aasetya_? Kalo gak salah sih itu?"
"Aa-set-ya, yang ini?" Lala menunjukan layar ponselnya pada Fitry. Fitry mengangguk.
"Eh? Dia bukannya yang CEO muda viral akhir-akhir ini kan? Yang pacaran sama artis sinetron itu?" Lala Mengingat-ngingat. Jika ia tidak salah, sepertinya benar kok. Baru saja pagi tadi ia melihat berita terbaru dari mereka yang katanya sedang bertengkar.
Fitry mengangkat pundaknya tak yakin. "Mungkin, aku gak pernah ngikutin info tentang dia."
"Calon suamimu lo itu, Fit. Gak perduli juga jangan sampe kebangetan. Seengaknya kamu harus tau, dia orang baik atau enggak." Hany meningatkan.
Fitry terdiam, ucapan Hany ada benarnya juga. Kenapa selama ini ia tidak kepikiran?
"Ehh, ehh, ada artikel tentang dia." Lala mengarahkan ponselnya pada kedua sahabatnya.
"CEO muda, Asetya mengkonfirmasi kabar perjodohannya dengan anak dari Sidik Purnomo, seorang pengusaha yang cukup diperhitungkan namanya," ucap Lala membaca judul artikel.
"Cuma berita begitu sampe di buatin artikel?" Fitry menggeleng kecil, tak habis pikir dengan media yang membuat artikel tersebut. Memang tidak ada berita yang lebih penting?
"Namanya cukup dikenal dan berpengaruh, wajar aja sih. Apalagi namanya sempet naik daun karena pacaran sama artis. Tapi menurut rumor yang beredar, dia jadi CEO cuma karena ayahnya pemilik perusahaan. Katanya bahkan kinerjanya gak sebagus itu." Lala mengangkat bahunya. "Kalo rumornya bener, aku ikut prihatin sama kamu, Fit."
Fitry menghela nafas pelan, lagi. Dia merasa menjadi salah satu tokoh utama dalam novel percintaan dengan tema perjodohan. Ia hanya berharap, kisahnya juga akan menjadi kisah yang baik.
Lalu gadis itu terkekeh, mana mungkin, gadis yang dijual ayahnya sendiri bisa bahagia dengan perjodohan?
***