Bali

1020 Words
Bali pagi ini nampak cerah berawan. Membuat Rere memilih membawa makanannya ke taman yang ada di villa tempatnya menginap. Sayangnya, Setya tidak bisa menemani dirinya pagi ini. Selain karena lelaku itu memiliki pekerjaan, Setya juga menginap di hotel yang jaraknya cukup jauh dari vila yang Rere tempati. Bukan tanpa alasan, tapi karena Setya tak ingin liburannya kali ini ketahuan oleh keluarganya. Padahal istrinya saja membolehkan. Gadis itu sedang menikmati makanannya, saat tiba-tiba ia melihat drama tak terduga di depan matanya. Seorang wanita menyiram wanita lain yang juga sedang menyantap makanan sama sepertinya. Bedanya, wanita itu di temani seorang lelaki paruh baya. "Dasar perempuan gak tau diri! Pelakor!" Rere berkedip. Ia seperti melihat adegan sinetron versi nyata. Lalu tak lama setelah itu, orang-orang berdatangan untuk melerai pertengkaran mereka yang sepertinya tak akan berakhir baik. Ahh ... Rere jadi teringat pada Setya. Seandainya lelaki itu memilih untuk menyembunyikan hubungan mereka, apa istrinya akan melabraknya seperti wanita tadi? Tapi bukankah pelakornya bukan Rere? Rere adalah pemilik hati Setya, justru Fitri yang datang dan merebut apa yang menjadi milik gadis itu. Seharusnya, Fitri yang menjadi pelakor. Bukan dirinya. Ia mengaduk-aduk makanannya, sudah tak ingin memakannya lagi. Pikirannya melalang jauh. Seandainya, Rere yang Setya nikahi. Seandainya, Sultan merestui hubungan mereka. Seandainya, tidak ada perjodohan konyol yang Sultan lakukan. Apakah Setya bisa menjadi miliknya seutuhnya? Bisakah mereka berlibur tanpa sembunyi-sembunyi sekarang? Dan bisakah, mereka mewujudkan mimpi mereka sama-sama? Beberapa tetes air mengenai kulit putih mulusnya, gadis itu menatap awan yang menjadi lebih gelap. Ia memilih untuk mencari tempat berteduh. Beruntung untuknya, ada sebuah meja kosong dengan atap berbentuk jamur yang masih kosong. Gadis itu berpindah sebelum akhirnya hujan turun semakin deras. Tangannya mengadah, merasakan dinginnya air hujan yang turun lumayan deras. Benar kata orang, hujan itu, selain membuatmu mengenang, ia juga bisa memberimu kenangan. Seperti dirinya. Hujan selalu mengingatkannya pada pertemuan pertamanya dengan Setya. Saat itu ia belum sukses seperti sekarang. Saat sedang membeli makan setelah syuting seharian, gadis itu malah terjebak hujan. Sialnya lagi, saat akan menyebrang, Rere hampir saja tertabrak mobil yang sedang melaju. Beruntungnya mobil itu berhenti di saat yang tepat. Pengendara mobil itu adalah Setya, yang akhirnya menawarinya sebuah baju ganti, dan makanan yang baru karena makannya terjatuh karena ia terkejut. Pertemuan pertama yang cukup manis. Setelahnya, entah karena takdir atau apa, Setya dan dirinya jadi semakin sering bertemu. "Kamu ngelamunin apa?" Rere tersentak saat Setya tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. "Kamu kapan datang?" "Barusan banget, terus liat kamu senyum-senyum sendiri. Lagi mikir apa sih?" Gadis itu tersenyum, lalu melihat sekeliling. Hujan sudah reda, entah sudah berapa lama dia melamun. "Mikirin kita." "Baru ditinggal sebentar udah kangen aja." Setya mengacak rambut gadisnya, gemas. "Berantakan, Setya! Sebentar kamu sama sebentar aku kayanya beda deh." "Oh ya? Bedanya?" "Tiga tahun buatku itu lama, dan buatmu cuma sebentar kan?" Senyum Setya luntur. Ini baru hari pertama mereka berlibur bersama. Kanapa Rere malah memancing pertengkaran? "Aku gak suka kamu ngomong begitu," ucapnya Setya dingin. "Tapi kenyataannya memang begitu." "Rere, plis ... kita si sini buat liburan. Bukan buat bertengkar." Gadis itu terdiam sejenak, lalu menghala nafas pelan. Oke, sepertinya dia cukup sensitif karena apa yang ia tonton pagi tadi. "Maaf ...," ucapnya pelan. "Oke, gak papa. Aku ngerti kamu. Aku tau ini juga berat. Tapi kita sama-sama saling menguatkan, ya? Kamu punya aku, dan aku punya kamu." "Kamu bukan cuma punyaku sekarang." Rere mencoba tersenyum lalu mengangguk. Mengubur dalam-dalam apa yang barusan ia pikirkan. *** Sulit sekali berlibur dengan keadaan meraka saat ini. Takut ketahuan, takut ada yang melihat, takut terkena paparazi, takut juga ada yang mengenali keduanya. Oleh karena itu, di hari pertama dan kedua mereka di Bali, keduanya memilih untuk menghabiskan waktu di villa yang mereka sewa. Namun untuk hari ketiga ini, Rere ingin sekali berbelanja bersama Setya. Seperti yang biasa keduanya lakukan dahulu. Jadi, di sinilah mereka sekarang. Dengan hoodie, masker, kacamata, juga topi yang menutupi wajah meraka agar tidak ada yang mengenali. Mereka berkeliling mall, keluar masuk dari satu toko ke toko lain. Sambil mengobrol dan tertawa. Tidak ada yang berbeda dari meraka. Keduanya sama seperti pasangan kekasih kebanyakan. Hanya saja, pakaian meraka memang tampak berbeda dari pasangan kebanyakan. "Kamu mau makan dulu?" tanya Setya saat Rere bilang sudah cukup lelah berkeliling. "Boleh, tapi cari tempat yang sepi pengunjung aja. Aku pengap, pengen napas bebas rasanya." Setya tertawa, lalu mengacak rambut Rere. "Setya, ih! Kebiasaan, berantakan tau!" protes Rere sambil merapikan rambutnya. Setya tidak tau, bibir gadisnya sudah cemberut di balik masker. Setelah berkeliling, keduanya memutuskan masuk ke dalam resto seafood yang nampak sepi pengunjung. Biasanya, jika dalam waktu dan keadaan normal, keduanya akan memilih tempat yang cukup ramai. Karena biasanya lagi, makanannya pasti terjamin enak. Namun beda situasi dengan sekarang. Cita rasa bisa mereka pikirkan belakangan, asal perut mereka kenyang dulu tanpa ketahuan. Setya memilih tempat paking ujung dan paling belakang. Agar terhindar dari segala kemungkinan. Setelah menunggu sekitar 15 menit, pesanan meraka datang. Keduanya membuka masker dan segala yanng menutupi wajah mereka. Sangat di luar ekspektasi saat ternyata makanan yang di hidangkan tidak ada yang mengecewakan keduanya. "Kok bisa makanan seenak ini sepi pelanggan, ya?" Rere berujar pelan. Takut pemilik warung dengar. "Iya, sekalian take a way deh nanti. Buat di makan di hotel. Kamu mau?" tawar Setya. Rere mengangguk. Siapa juga yang bisa menolak makanan enak seperti ini? Jalan-jalan meraka sangat lancar hari ini. Selain belanja dan berburu beberapa oleh-oleh, dan mendapat tempat makan enak baru, mereka juga banyak menghabiskan waktu bersama. Sesuatu yang jarang sekali mereka lakukan akhir-akhir ini. Bukan karena tak punya waktu. Namun keadaan memang tidak selalu baik pada semua makhluk bumi. Sedikit lelah memang, tapi semua lelah terbayar dengan hadirnya seseorang yang kita sayang. Dengan seseorang itu di samping kita, itu adalah sesuatu yang cukup untuk membuat bahagia. Sama seperti Setya dan Rere, permintaan mereka tidak muluk-muluk, mereka hanya ingin, waktu berputar sedikit lebih lambat. Agar kebersamaan mereka juga akan terjalin lebih lama. Sebelum akhirnya, mereka harus kembali pada kenyataan. Pada fakta yang ada, bahwa bahagia mereka, bahwa kebersamaan mereka, tidak untuk sekarang. Mungkin nanti, Rere dan Setya hanya harus bersabar menunggu sang takdir berbaik hati pada keduanya. *** Part ini full Setya dan Rere?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD