Kelas mereka bertiga hari ini memang cuma satu di pagi hari. Hanya kelas Pak Juna saja. Jadi, karena kelas dibatalkan, ketiganya memilih untuk pergi ke tempat di mana mereka bisa mengobrol bebas.
Awalnya mereka memilih rumah baru Fitri. Namun sepertinya bukan pilihan bagus mengingat Fitri belum meminta izin untuk membawa orang lain masuk ke dalam rumah. Rumah Lala tentu tak masuk hitungan. Rumahnya selalu penuh dengan keluarga. Pilihan terakhir jatuh pada rumah Hany. Karena gadis itu selalu di rumah sendirian.
"Minggu ini bapak sama ibukku pergi liburan lagi, katanya mau nambah anak." Begitu katanya tadi.
Camilan adalah hal wajib untuk mereka saat berkumpul. Kalau tidak, nanti mulutnya kering. Sebenarnya itu hanya alasan mereka, para pecinta makanan. Oleh karena itu, mereka menyempatkan diri mampir ke mini market untuk membeli beberapa makanan ringan ... tidak, satu keranjang makanan ringan.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke rumah Hani. Karena jarak antara rumahnya dan kampus hanya sekitar 500 meter saja. Itulah alasan mengapa walau bangun kesiangan, dia jarang terlambat.
Rumah Hani itu nyaman. Tidak sebesar rumah orang tua Fitri, ataupun Lala memang, bukan tipe minimalis, juga bukan tipe rumah besar. Namun rumah Hani terasa sangat hangat. Mungkin karena penghuninya adalah orang-orang baik.
Fitri dan Lala sudah menganggap rumah Hani adalah rumah mereka sendiri. Terbukti dengan keduanya yang sudah tiduran nyaman di depan tv. Sedang tuan rumahnya memasuki dapur.
"La, idupin dong tvnya. Aku males mau gerak udahan." Fitri menyenggol Lala yang tiduran di sebelahnya.
"Sama ih," jawab Lala tak perduli. Gadis itu menggeliat sebentar untuk mencari posisi nyaman.
Karena sama-sama malas, akhirnya keduanya melanjutkan rebahan mereka.
"Sebenernya motivasi kalian hidup itu apa sih?" ucap Hany haran. Gadis itu membawa sepiring kue bolu dari dapur. Berjalan menuju tv, menghidupkannya, lalu duduk di sebelah sahabatnya sambil menikmati bolu buatan ibunya.
"Coba bagi-bagi, Han. Jangan pelit gitu! Makan kok diem-diem!"
"Duduk makanya."
Kedua gadis yang masih rebahan itu bangkit dengan malas. Mengambil bolu dari piring, lalu kembali merebahkan diri.
Hani hendak protes. Namun belum jadi gadis itu membuka mulut, Lala sudah terlebih dahulu menyela, "Kita cape, Bunda Hani. Tolong biarkan anak-anakmu ini istirahat sejenak."
"Cape ngapain kalian? Hah?!"
"Keliling mini market tadi," jawab Fitri pelan. Lalu Hani meletakkan piringnya dan menarik dua sahabatnya, memaksa keduanya untuk duduk.
"Bangun! Gak baik makan sambil tidur, dan aku juga mau denger cerita yang kayaknya bakal semenarik sinetron Indonesia."
Keduanya mengalah. Hani ini badannya tinggi semampai, tenaganya hampir serupa sama atlet angkat beban.
"Oke, aku cerita," ucap Fitri setalah mereka semua duduk. Gadis itu mengambil remot di dekat Hani, lalu mengecilkan volume tv.
"Gini ...." Fitri menceritakan semuanya. Dari mulai malam pertama di saat Setya mandi sampai surat kontrak dan perkelahian juga adu mulut yang mereka berdua lakukan. Tak lupa gadis itu juga menceritakan apa yang di alaminya pagi ini.
"Yah, seenggaknya sampai tiga tahun ke depan aku bakal berusaha buat jadi istri. Meski tanpa suami," ucapnya menutup cerita panjangnya.
"Kenapa kamu gak bilang sama orang tua kamu? Aku yakin Om Sidik gak akan diem aja," tanya Lala yang cukup prihatin dengan cerita sahabatnya.
"Aku gak mau bikin ayah tambah pusing. Ayah masih pusing sama masalah kantor. Aku gak mau bikin ayah tambah pusing lagi."
"Terus kenapa kamu terima kontrak begituan?" tanya Hani, gadis itu masih tidak habis pikir, kehidupan sahabatnya bisa seperti novel yang sering ia baca.
"Aku pikir, posisiku juga bukan posisi di mana aku bisa menolak kan? Dan di dalam kontrak juga menguntungkan kok. Yang paling penting, Setya gak akan menyentuh aku selama tiga tahun ini. Jadi nanti kalau pun aku jadi janda. Aku jadi janda perawan," jawab Fitri sambil terbahak.
Hani menepuk pundak Fitri pelan. "Gak usah sok kuat di depan kita," sepenggal kata itu mampu membuat Fitri meloloskan air matanya. Gadis itu terisak, di pelukan kedua sahabatnya.
"Aku takut, aku takut pilihan yang aku ambil salah. Aku takut pada akhirnya, selain menyakiti diri sendiri, aku juga menyakiti ayah dan ibu. Aku takut, Han, La. Aku takut," isaknya.
"Kita di sini."
***
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuat Setya yang sedang sibuk dengan laptopnya, mendongak, menatap pintu yang masih tertutup.
"Pak, di luar ada Mbak Rere. Beliau boleh masuk?" Itu suara Dimas, asistennya.
"Iya, biarkan dia masuk."
"Hai." Rere masuk sambil melambaikan tangan. "Kamu udah makan?" tanya gadis itu.
Setya tersenyum, lalu menggeleng. "Belum," katanya.
"Pas banget! Aku bawain kamu seblak level 3. Ini seblak yang lagi viral akhir-akhir ini." Rere berjalan pelan menuju sofa. Lalu meletakkan seblaknya di atas meja.
"Oh ya?" tanya Setya, sambil ikut berjalan ke arah sofa.
"He'em. Aku dapet rekomendasi dari temen food floger. Katanya seblak ini termasuk yang terenak," jelas Rere antusias.
"Udah jadi artis papan atas masih aja suka seblak sih?" Setya mengacak-acak rambut kekasihnya gemas. Rere yang tak nyaman memegang tangan Setya kuat.
"Jangan ih, berantakan!" protesnya. "Lagian artis papan atas kan gelar aja. Kalo lidah mah masih Indonesia punya dong," ujarnya bangga.
"Warteg depan kantor kata anak-anak enak tu. Nanti bisa kali ya kita mampir," goda Setya. Pria itu tau, Rere tidak suka makan pinggir jalan. Malu katanya.
"Ih, kan udah makan seblak! Udah kenyang. Nanti aku gendut," ujarnya memberi alasan. Sebenarnya makanan dari manapun tak masalah. Rere tidak begitu pilih-pilih maknan. Namun ia tidak akan mau makan di tempat jika itu adalah makanan pinggir jalan. Ia selalu minta bungkus untuk dimakan di tempat lain.
"Setya ...," panggil Rere pelan. Setya yang masih menikmati makanannya hanya mendongak tanpa menjawab.
"Istri ... ah, itu, dia sudah tau dan kenal aku?"
Setya mengernyit, lalu mengangguk mengerti maksud kekasihnya. "Memang siapa sih yang gak kenal Rere?"
Rere tersenyum simpul. "Dia gak papa?" tanyanya.
"Mungkin gak papa?" jawab Setya tak begitu yakin.
Rere menghela nafas panjang. "Asal kamu jangan terlalu deket sama dia. Sebisa mungkin jangan berinteraksi kalo gak penting."
"Iya! Kamu udah bilang ini berkali-kali. Lagi pula, hubungan kita cuma sebatas kontrak. Selain itu kita gak punya hubungan apa-apa. Kamu tenang aja," ucap Setya mencoba menenangkan. Memang wanita mana yang bisa meninggalkan lelakinya dengan wanita lain?
"Kita juga dulu gak punya hubungan apa-apa. Hubungan kita dulu juga cuma sebatas kontrak kerja. Ku pikir, wajar aku khawatir."
Setya diam sambil melanjutkan makannya. Dulu, dia belum memiliki siapapun. Namun sekarang, dia sudah punya Rere. Bukankah Rere harusnya paham tentang itu?
***
jangan lupa tab love dan komen yaa