Jangan berharap lebih, setelah percakapan terakhir mereka beberapa hari yang lalu. Karena sampai saat ini. Belum ada perubahan ke arah yang lebih baik. Mereka masih saling diam. Tidak ada yang mau mengalah. Bahkan, sekarang keadaan seperti terbalik. Biasanya, Haidar akan mencari perhatian sang istri. Bagaimanapun caranya, seperti sengaja menaruh handuk basah di kasur. Dari kamar mandi jika selesai kramas, tidak dikeringkan dulu rambutnya. Naik ke tempat tidur tidak cuci kaki, tiap malam sengaja minum kopii agar ditegur. Namun, sama sekali. Safira memilih bungkam.
"Kamu seharusnya tahu, seorang istri tidak boleh memperlakukan suaminya seperti ini."
Haidar sangat terlihat lesu, kasus mereka berjalan sudah beberapa Minggu dan semakin memburuk, seperti kondisi lelaki itu saat ini. Dia terlihat kurusan. Wajahnya sering pucat.
"Seperti apa? Bukannya Kamu sudah mendapatkan banyak perhatian dari perempuan lain?" .
Safira selalu memancing.
Satria tidak akan bicara jika tidak ditanya. Itupun, tergantung pertanyaannya yang seperti apa.
Sejujurnya, dia sangat lelah dengan ini semua. Berpura-pura tidak perduli sama sekali bukan dirinya. Jika saja, ada yang membantunya menyelesaikan masalah ini, dia sangat berterima kasih. Karena setiap berbicara dengan sang suami. Tidak pernah menemukan titik terang.
"Besok, Kamu ikut ya ke rumah Ibu."
"Aku masih banyak kerjaan."
"Sekali saja, apa sebegitu sulitnya. Ibu selalu tanya Kamu."
"Dia tanya Aku, karena mau mastiin. Kamu diurusin gak sama Aku."
Baru kali ini, dia berani mengeluarkan kata-kata seperti itu.
"Kamu gak boleh begitu, bagaimanapun juga itu ibu ka-"
"Kalau gak, Kamu ajak saja wanita itu. Bukannya lebih baik, jika kalian bisa bersama-sama ke sana."
"Berhenti mengaitkan segala sesuatu dengan Lana bisa?"
Kali ini, nada bicara Haidar terdengar sangat tegas. Safira sedikit ciut, tapi dia tidak mau menunjukannya pada sang suami. Mungkin, lelaki itu sudah berada di penghabisan kesabaran. Karena sangat jelas. Terlihat dari sorot matanya yang menajam, rahangnya juga menjadi kokoh, mungkin sekarang dia sedang menekan antara gigi atas dan bawah. Sehingga, urat lehernya pun terlihat.
"Enggak. Soalnya, Kamu dan dia penyebab kita jadi seperti ini."
Masih dengan posisi yang tenang, sembari memegang remot televisi, Safira membalas ucapan suaminya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Aku udah gak sama Lana. Apa Kamu gak bisa maafin? Tolong Safira. Berhenti egois. Mau Sampai kapan begini terus? Aku lelah."
Safira yang merasa risih pun akhirnya mematikan acara televisi. Karena dia ingin fokus bicara.
"Sampai Kamu sadar, kalau kita emang sepertinya gak bisa bersama lagi."
Dia asal bicara, hanya ingin memancing sang suami saja. Sejujurnya, selama ini Haidar bener-bener seperti orang dengan karakter baik yang tersakiti, dan Safira adalah orang jahat.
Dia sudah tidak lagi melayani sang suami dengan baik, bahkan dia juga memperlakukan lelaki itu seperti sudah tidak ada dihadapannya. Hidupnya sangat bebas beberapa hari ini. Sejujurnya, dia juga rindu, tapi terlalu gengsi untuk mengatakannya. Mendengar Haidar beberapa kali mengatakan dan mencoba meyakinkannya bahwa dia sudah tidak lagi bersama Lana. Cukup membuatnya sedikit luluh.
"Kamu benar-benar ingin berpisah?"
Deg
Jantung Safira seperti jatuh dari tempatnya. Dia kebingungan harus menjawab seperti apa. Tidak menyangka, bahwa suaminya akan menanyakan hal itu dengan serius. Biasanya, ketika dia meminta. Maka Haidar hanya akan marah, atau pergi begitu saja.
"Kenapa? Kamu mau balikan sama Lana?"
"Sekali lagi Kamu bawa nama Lana dalam masalah kita. Aku gak akan tinggal diam."
"Wow, Kamu sedang mengancamku dan membela selingkuhanmu? Apa jangan-jangan selama tidak denganku, Kamu bermain dengannya."
Safira, benar-benar ingin mengutuk mulutnya. Dia tidak tahu, kenapa sangat berani seperti ini.
"BERAPA KALI AKU HARUS BILANG, KALAU KAMI SUDAH SELESAI."
Nada bicara Haidar benar-benar tinggi. Dia takut, anak-anak akan mendengarnya. Apalagi, ini bukan di kamar.
"Alibi. Kamu pasti sengaja bilang seperti itu, sengaja menakut-nakutiku dengan suara keras. Agar Aku menyerah. Mas, Aku punya hak sebagai istri dan juga perempuan. Kamu sudah melanggar janji pernikahan kita. Kamu juga sudah bermain di belakangku."
Haidar mendekat ke arah Safira. Dia mencengkram bahu sang istri. Wanita itu tidak gentar sedikitpun, tetap berdiam diri di tempat tanpa melawan sedikitpun.
"Kurang kuat Mas. Sakitnya juga gak sebanding dengan sakit hatiku."
"Kamu masih cinta gak sama Aku?"
Pertanyaan itu, terlontar begitu saja. Dia sangat yakin, bahwa sang istri mencintainya. Namun, melihat Safira sangat teguh dengan pendiriannya. Membuat Haidar berpikir ulang.
"Kamu gak cinta kan sama Aku. Seandainya ada lelaki yang mau mendekatiku, dan Kami jalan dibelakangmu. Apa boleh?"
Wajah Haidar memerah. Wanita itu sangat pandai membuatnya mendidih.
"Tidak sudi, meskipun hanya sekedar membayangkannya saja. Kamu pikir secantik apa dirimu? Ingat Safira. Kamu itu ada dibawah kendaliku. Memangnya selama ini Kamu sudah menjadi istri yang baik, sehingga menuntut suami untuk setia?"
"Aku sudah tanya kekuranganku di mana waktu itu. Sekarang, Kamu ingin Aku mengakui bahwa diriku banyak kekurangan, dan salah satu alasan Kamu berkhianat karena ketidakbecusanku begitu? Jawabannya mudah saja. Aku baik, penurut, rajin, perhatian, sayang keluarga. Aku gak kurang Mas, Kamu yang tidak bersyukur."
"Kamu pikir, Kamu tidak manja? Kamu sangat membosankan."
Hatinya hancur mendengar perkataan itu, tapi sebisa mungkin dia tetap berusaha tegar.
"Aku sudah berusaha sebaik mungkin, jika Kamu pada akhirnya lebih suka perempuan yang menggodamu, itu salahmu. Lelaki sejati, tidak mungkin mudah terpancing. Anggap saja Kamu lemah."
Cengkraman itu semakin kuat, dia yakin. Pasti akan meninggalkan bekas, di kulit putihnya tersebut.
"Bilang apa kamu? Jangan pikir, karena keluargamu sudah tahu, Aku menjadi takut. Ingat, lelaki bisa bersama lebih dari satu orang wanita."
"Kalau Kamu yakin dengan itu. Harusnya, Kamu juga sadar, bahwa segala kewajibamu terhadapku harus sudah terpenuhi terlebih dahulu, karena menyakiti seorang istri bukan hal yang dibenarkan."
"Jangan menyesal Safira. Aku tanya sekali lagi, Kamu masih mencintaiku atau tidak?"
"Kamu sudah tahu jawabannya."
"Jawab!"
"Kamu sudah tidak perlu mengurusi hatiku."
"Jawab!"
Haidar terus saja mendesak istrinya. Dia seolah ingin mendengarkan jawabannya secara langsung. Namun, Safira juga tetap tidak mau bicara yang sejujurnya.
Bukan lagi soal gengsi, ini adalah harga diri. Seberapapun usaha lelaki itu, tetap saja, di matanya akan tetap nol besar.
"Akungak takut sama Kamu Mas. Seharusnya yang menyesal bukan Aku, tapi Kamu dan juga selingkuhanmu itu. Kasian sekali dia. Cantik, tapi seleranya Kamu. Seenggaknya, kalau cari pacar, apalagi jadi selingkuhan. Minimal yang kerjaannya di atas dia, atau minimal rumah udah banyak, punya mobil, pinter kalau selingkuh jangan ketahuan. Ini malah Kamu, tidur aja harus pegang tanganku dulu biar nyenyak haha."
Dia tertawa sangat puas, tepat di hadapan lelaki itu, senyuman sinisnya mengakhiri tawa yang menggelar itu. Dia tidak tahu seberapa terlukanya harga diri Haidar. Mungkin, Safir pikir dengan cara seperti ini, sakit hatinya sedikit terobati.
"Aku nyerah."