Negosiasi

1023 Words
Haidar berangkat ke kantor, dia menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, meskipun terburu-buru dia tidak akan pernah membahayakan dirinya sendiri apalagi sampai mencelakai orang lain. Di perjalanan banyak yang dia pikirkan, apalagi mengenai sang anak.   Sesampainya di kantor dia langsung ke ruangan wanita itu. Tidak perduli beberapa pasang mata yang berpapasan dengannya melihatnya aneh.  Tanpa mengetuk lagi, dia langsung masuk ke ruangan tersebut. Dia tahu, jika wanita itu sudah datang, dari mobil yang terparkir di depan kantor. Pandangannya langsung tertuju pada wanita itu. Begitu pintu terbuka, dia masuk lalu menutupnya kembali dengan rapat. Takut, jika ada orang yang mengintip, atau masuk secara tiba-tiba.  "Selamat pagi," ujarnya sembari tersenyum manis.  Namun, bukan Haidar yang mengatakan itu, melainkan wanita yang duduk di kursi kebanggaannya.  "Pagi," jawabnya seadanya.  "Kenapa?" Tanyanya. Sebab, dia melihat wajah lelaki itu penuh tekanan, sepertinya ada masalah.  Haidar berjalan ke arah wanita itu, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengannya, tapi masih ada meja kerja yang menjadi halangan.  Cukup lama, Haidar tidak langsung menjawab. Dia menatap wanita anggun, yang masih tersenyum padanya.  "Kita sudahi semua sampai di sini ya," ujarnya dengan sangat pelan. Tidak ada ketegasan di sana. Dia memang tidak mengatakannya dengan penuh keyakinan. Nyatanya, hati tidak bisa berbohong, dia tidak menginginkan ini semua terjadi, tapi keadaan memaksanya untuk berhenti.  "Safira sudah mengetahui semuanya?" Tanya wanita itu. Meskipun dia tahu, hari ini akan terjadi. Namun, dia merasa terlalu cepat. Melihat Haidar seperti tidak rela mengatakan itu, membuat memiliki harapan meskipun hanya setitik.  "Ini bukan masalah Safira. Aku merasa kita salah."  "Salah Kamu bilang? Dari awal kita memulai Kamu sudah tahu ini salah. Jangan bilang, selama ini Kamu melakukannya tanpa sadar. Kenapa setelah berjalan cukup lama. Kamu baru bilang ini salah. Ingat, bukan Aku yang mendatangi lebih dulu, apalagi memohon agar kita berjalan bersama."  Haidar malu, ketika dirinya diingatkan seperti ini. Kenyataannya memang dia yang mendatangi wanita itu dan memohon. Semua terjadi karena egonya yang sejak dulu menginginkan wanita itu.  "Aku tahu, tapi kita tidak pernah melewati batas."  Mereka tidak pernah melakukan apapun dalam hal kontak fisik, hanya sekedar makan bersama dan berbagi cerita. Hanya itu saja.  "Melewati batas atau tidak, jika Kamu sudah memikirkan wanita selain istrimu, sama saja namanya berselingkuh."  "Kamu juga belum sepenuhnya bercerai."  "Kami sudah pisah ranjang satu tahun, dia juga sudah menjatuhkan talak satu, dalam hitungan bulan. Kami akan benar-benar berpisah. Kamu tidak usah beralasan. Jika memang selama ini ternyata Kamu cuma mau bermain-main denganku. Bilang saja yang sebenarnya, atau jangan-jangan Safira yang meminta ini semua?"  Selama ini, Haidar memang tidak sepenuhnya bersalah. Dia mendatangi wanita itu ketika mereka sudah berpisah. Hanya tinggal menunggu ketuk palu dipengadilan. Namun, dia lebih ke menjaga wanita itu. Agar tidak bersedih dan terpuruk. Awalnya seperti itu, sebelum ternyata perasaannya berbalas. Dan sampailah mereka ke detik ini.  "Dia tidak ada hungannya dengan ini semua."  "Lalu? Kenapa tiba-tiba seperti ini. Kamu jangan buat seolah Aku yang menginginkan hubungan ini sendirian. Kita sudah sepakat untuk bersama."  Haidar memang pengecut, dia tidak mau mengakui bahwa sebenarnya dia salah. Sepenuhnya semua terjadi karena salahnya, dia malah menyudutkan orang lain.  "Aku pikir, Kamu bisa melanjutkan hubungan kalian menjadi lebih baik."  "Enggak. Aku gak mau kita pisah begitu saja. Kamu harus memberikan alasan yang logis. Kita memulai ini dengan diskusi, jangan mengakhirinya dengan keputusan sendiri."  Wanita itu tetap memilih bertahan, mungkin akan banyak rintangannya. Namun, dia sudah terlanjur mencintai lelaki pengecut itu. Dia mencintai Haidar karena hanya dia lelaki yang mencintainya dengan tulus. Setidaknya, itu yang dirasakan.  Bagaimana bisa, Haidar mencintainya sudah sangat lama, bahkan mereka sudah sama-sama berumah tangga, tapi nyatanya rasa cinta itu tidak pernah pudar.  Jika dia tidak menikah, dan memiliki dua anak. Tanpa ragu, Haidar akan langsung memperjuangkan wanita yang berada di hadapannya ini. Namun, keadaannya berbeda.  "Aku tidak bisa. Kita sudahi saja semua ini, Aku yakin, Kamu bisa bahagia dengannya. Dia masih sangat mencintaimu. Lagipula,"  "Enggak. Kamu jangan memintaku mundur. Jika tidak memiliki alasan yang cukup kuat. Aku tidak akan pernah mengabulkan semua itu," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Harusnya pagi ini ada kebahagiaan yang tercipta.  Kini, dia seperti wanita yang sangat takut tidak bisa mendapatkan kebahagiaan.  "Liana mengetahui kita."  Deg  Tak terasa, air matanya jatuh, terlalu kaget mendengar penuturan itu. Dari awal, yang paling ditakutkan adalah anak-anak. Jika sudah masalah anak-anak dia sangat lemah.  Beberapa menit, mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Benar-benar tidak ada yang bersuara.  Sampai akhirnya suara telepon milik Haidar berbunyi, setelah dilihat ternyata Safira yang menelponnya.  "Angkat."  Dengan nada lemah, dia meminta lelaki itu mengangkatnya, meskipun hatinya benar-benar mengatakan jangan.  "Aku keluar dulu."  Haidar ijin keluar, dia tidak mungkin mengangkat panggilan telepon ini, di hadapan wanita yang dicintainya. Karena dia tidak mau membuatnya sakit hati.  Haidar keluar dari ruangan tersebut, dia tidak sempat melihat wanita itu menunduk dan menangis tersedu-sedu, karena sudah berjalan cukup jauh mencari tempat yang tidak banyak karyawan berlalu lalang. Semenjak dia dekat dengan atasanya. Banyak orang yang penasaran dengan hidupnya, apapun yang dilakukan akan menjadi sorotan. Dia memilih untuk menghindar itu semua.  "Assalamualaikum, ada apa Mah?"  Meskipun dia sedang sangat pusing, tapi Safira tidak boleh tahu. Sebisa mungkin, dia tetap tenang. Namun, jantungnya berdebar cukup kencang. Saat mendengar penuturan sang istri.  "Kamu kenapa? Harus sekarang?"  Dia mencoba mencari tahu, tapi ternyata tidak ada pilihan lain.  "Baiklah. Aku pulang sekarang."  Haidar langsung keluar dari gedung itu, tidak perduli lagi dengan absen pagi ini. Mungkin, dia harus bolos hari ini. Karena tidak mungkin kembali ke kantor dalam waktu cepat.  Dia juga tidak pamitan pada wanita yang sedang menangis di ruangannya. Wanita itu sedang merasa dicampakkan. Dia berada di posisi serba salah.  Dia sadar betul, ini semua bukan hal yang baik. Tapi, saat melihat Haidar bisa menyakinkannya dia merasa mempunyai hak untuk masuk di antara keduanya.   Banyak hal yang dia korbankan agar hubungan ini tetap berjalan dengan baik, begitu mendengar Haidar ingin menyudahinya seperti menyudahi sebuah permainan. Tentu saja dia tidak terima. Ini tidak adil baginya.   Haidar merasakan kecemasan luar biasa, apalagi ketika mendengar Safira terisak. Meskipun istrinya itu mencoba menutupinya dia bisa mendengar bahwa Safira sedang menangis. Ini hal yang tidak biasa terjadi, dia benar-benar panik.  Di perjalanan, dia sembari terus berdoa agar istrinya baik-baik saja. Beruntung jalanan tidak terlalu padat, jadi dia bisa sampai lebih cepat dari biasanya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD