"Jaemin... Jaeminn... Fighting!!!" Teriak Yejin membuat semua orang yang ada didekatnya menutup telinga.
"Berisik." Kata Hyemi, kesal dengan suara Yejin yang cempreng.
"Mau-mau aku, ini juga buat kemenangannya Jaemin. Jika kau tak suka tutup saja telingamu." Celoteh Yejin dan tetap menyemangati Vino dengan suaranya yang cempreng.
"Eh kamu, bisa diem gak? Kita itu lagi main. Paham." Omel tim lawan dari timnya Vino.
"Mampus di marahin, haha." Kata Hyemi juga Jaewoo sambil menertawakan Yejin.
"Aku hanya menyemangati pacarku."
"Udah kamu nonton pacarmu aja jangan berisik, kita itu lagi main dan kita juga harus konsen."
"Iya-iya bawel." Kesal Yejin lalu menatap Hyemi dan Jaewoo yang tidak ada hentinya menertawakannya.
"Vino harus menang." Kata Aira dalam hatinya dan tersenyum ke arah Vino, yang di senyumin juga ikut senyum.
10 menit kemudian pertandingan basket selesai dan Vino menghampiri teman setimnya, setelah itu barulah Vino menghampiri Aira.Vino berjalan mendekati Aira tapi saat itu juga Yejin berlari kearahnya.
"Keringet kamu banyak sekali." Kata Yejin dan mengelap Vino dengan handuk kecil.
"Yaudah ayang Aira ayok pulang."
"Aku gak suka ya, kamu manggil ayang." Kata Aira dan memutar bola matanya malas.
"Iya-iya, jadi pulang gak nih?"
"Pulang aja duluan, aku sama Hyemi berdua pulangnya. Iyakan Hyemi?"
"Iya, bye gaje." Kata Hyemi mengejek Jaewoo.
"Dasar ogeb."Jaewoo menghela nafas kasar, karena ia tidak bisa pulang bersama Aira.
"Halo!" Panggil bunda dari telpon.
"Bunda, ini Aina."
"Eh Aina, kamu apa kabar nak?" Tanya bunda bahagia di telpon oleh anaknya.
"Baik bunda. Bunda udah makan belum, Aina sangat rindu dengan bunda dan Aira." Kata Aina dengan nada sedih.
"Bunda udah makan nak, bunda juga kangen sama kamu dan juga Dirga. Oh ya Ayah mana?"
"Ayah lagi sakit bunda."
"Sakitnya parah kah?" Khawatir bunda.
"Gak terlalu parah, tadi udah di bawa kerumah sakit sama bang Dirga."
"Tapi sekarang udah baikan?"
"Udah bunda, oh ya bunda kalau bulan depan Aina bakalan ke Korea."
"Wah Aina. Bunda bakalan tunggu kamu, tapi kamu harus belajar dengan giat seperti adik kamu Aira, oke."
"Iya bunda, kalau begitu Aina udah dulu ya."
"Iya sudah kalau begitu. Jaga diri baik-baik nak."
"Iya bunda."
#
Prankk
"Suara apa itu?"Tanya Aira kaget saat mendengar suara pecah.
Aira berjalan ke arah dapur karena suara itu berasal dari dapur. Saat itu juga Aira terkejut mendapati Vino yang terluka karena pecahan kaca dan Aira melihat jendelanya pecah tapi hanya sebagian.
"Vinoo!" Teriak Aira dan memapah Vino ke ruang tamu.
"Akhh..sakit ra." Kata Vino menahan rasa sakitnya saat di obat oleh Aira.
"Tahan ini juga udah mau selesai."Aira memperban tangan Vino
yang tak ada hentinya mengeluarkan darah.
"Makasih Aira."
"Sama-sama vin, tadi kamu habis ngapain sampai jendela dapurku pecah?" Tanya Aira penasaran.
"Itu bukan saya yang ngerusak jendela kamu, tapi maling."
"Kok aku gak tau kalau ada maling?"
"Iyalah kamu gak tau kamunya aja ngasik nonton drama korea sampe gak tau kalau ada orang yang perhatiin kamu dari tadi." Oceh Vino membuat Aira terkekeh kecil.
"Kenapa?"
"Muka kamu lucu."
"Hm, terserah kamu aja."
Vino memperhatikan Aira sambil tersenyum dan saat itu juga Vino memeluk Aira dengan erat. Aira yang tadinya serius nonton drakor eh kaget saat Vino memeluknya dan juga Aira yang tidak bisa melepaskannya saat itu juga Vino berbicara di telinga Aira.
"Saya sangat menghawatirkanmu dan saat kejadian tadi itu membuat saya harus melindungimu, apa boleh saya jadi sahabatmu?"Kata Vino dengan surah khasnya yang lembut.
"Vin, aku tidak apa-apa dan jangan khwatirkanku. Aku juga mau menjadi sahabatmu tapi pelukannya di lepas ya." Aira mengucapkannya dengan rasa gugup tapi di tahan olehnya.
"Maaf ra, saya tidak bermaksud tapi tubuhmu sangatlah hangat."
"Anda m***m sekali, kita cuma berdua gak ada lagi dirumah."
"Saya tau dan saya tidak m***m apalagi punya rasa ingin memilikimu itu tidak mungkin Aira." Vino memutar bola matanya malas dan bangkit dari tempat duduknya.
"Ihh siapa juga yang mau sama kamu eh kamu mau kemana?"
"Mau pulanglah."
"Eh bentar tapi tujuan kamu kesini mau ngapain?"
Pertanyaan yang di lontarkan Aira sukses membuat Vino kebingungan untuk menjawabnya. Seketika Vino mematung entah apa yang ingin dia katakan kalau sebenarnya dia merindukan Aira.
"Sssaya kesini..." Kata Vino terbata-bata.
Aira yang masih menunggu jawaban tapi saat itu juga bundanya pulang berkerja dari rumah sakit langsung membuka pintu dan terkejut mendapati putrinya dengan seorang lelaki.
"Aira ini siapa?" Tanya bunda ke arah Vino.
"Ohh ini bunda namanya Vino eh Jaemin bun."
"Belasteran Indonesia juga, kenalin saya bundanya Aira. Kamu satu kelas sama Aira ya?"
"Tidak, saya tidak sekelas dengan Aira."
"Terus kok kamu bisa mengenali putri saya?" Kata bunda dan menatap tajam ke arah Vino.
"Vino itu kenalan dari teman aku bun dan juga dia sahabat aku."
"Sahabat atau pacar, hm?"
"Sahabatan doang gak lebih."
"Iya, tante jangan salah paham saya sama Aira cuman sahabatan."
"Iya, saya percaya. Vino mau makan malam di sini?"Ajak bunda.
"Mungkin Vino sibuk bun."
"Gak ra, saya tidak sibuk."
"Yaudah kalau begitu bunda masak dan Aira bantu bunda juga ya?"
"Iya bun, Aira bantuin."
"Bentar, itu tangan kamu kenapa Vino?"
"Ini tante tadi kena pecahan beling."
"Itu bun tadi ada yang mau maling terus malingnya pecahin jendela tapi Vino memukulnya tapi sayangnya maling itu melukai Vino."
"Astaga tapi luka kamu masih sakit?perlu dibawa ke dokter?" Khawatir bunda membuatnya seperti mengingat-ingat siapa lelaki ini.
"Saya sudah tidak apa-apa dan sudah diobati oleh anak tante."
"Makasih ya sudah melindungi anak tante, Aira itu suka gak sadar kalau ada orang yang intip rumah."
"Dia terlalu fokus nonton drama untungnya saya datang pas liat ke samping rumah ada orang yang bobol kaca tapi saya langsung cegah dan berakhirlah saya seperti ini." Jelas Vino menjelaskan saat kejadian.
Setelah itu bunda Aira tersenyum mendengarnya dan dia tau persis seperti apa Vino.
"Bunda juga bakalan suruh orang perbaiki jendelanya."
"Bunda mau masak apa?" Tanya Aira agar dia bisa membantu bundanya.
"Bunda akan membuat makanan Indonesia, kalian mau?"
"Wah sudah lama sekali saya tidak pernah memakan makanan Indonesia."
"Aira mau bun."
"Baiklah, bunda mau masak rendang dan kimchi jadi tambahanya. Kalian mau?"
"Mau." Kata Aira dan Vino secara serempak, membuat mereka berdua saling menoleh. Apalagi Vino tersenyum tipis, membuat Aira membuang mukanya ke arah lain.
"Bunda bakalan buatin dan Aira kamu memotong dagingnya."
"Oke bunda."
"Bunda mau keluar beli kimchi sebentar, karena pas bunda buka kulkas sudah habis dan Vino tolong jaga Aira ya."
"Siap tante."
"Aira udah besar gak di perlu dijagain."
"Tapi tetep aja bunda kahwatir sama kamu karena sendiri di rumah tadi aja ada maling kamunya gak tau, untung aja ada Vino."
"Iya-iya bunda." Aira memutar bola matanya malas.
Setelah itu barulah Aira mengambil daging yang berada di kulkas dan memotongnya, Vino memperhatikan Aira yang sedang memotong daging.
Aira yang merasa risih saat dilihat oleh Vino akhirnya kesal dan melihat ke arah Vino.
"Jangan melihatku."
"Siapa yang melihatmu? saya hanya memperhatikan kupu-kupu yang terbang dan hinggap di bunga mawar merah itu." Kata Vino menunjuk bunga mawar yang berada di dekat jendela.
Aira diam dan melanjutkan memotong tapi saat ia potong jarinya kena pisau, membuat Aira merintih kesakitan.
"Aww.."
"Kamu kenapa?" Tanya Vino saat melihat tangan Aira yang berdarah.
Dengan begitu Vino menghisap jari Aira yang mengeluarkan setetes darah dan saat itu juga Aira melepaskan tangannya dari genggaman tangan Vino.
"Jangan di potong lagi dagingnya, biar saya saja yang memotongnya." Kata Vino dan Aira duduk di tempat makan memperhatikan Vino yang sedang memotong daging.
"Makasih vin."
"Iya, eh ini dagingnya di rebus?"
"Di bakar."
"Mana alat bakarnya?"
"Bukan-bukan dagingnya gak di bakar tapi di rebus."
"Kamu ini."Kesal Vino dan Aira hanya cengengesan.
"Hehe, maaf vin itu dagingnya di rebus abis itu tunggu bunda dateng bawain kimchi jadi tambahan."
"Baiklah."