Costa menyetir bak dikejar kuntilanak. Untungnya lalu lintas tidak lagi padat. Keringat dinginnya mengucur deras. Perutnya melilit. Selain belum terisi makanan, juga karena gangguan kecemasan. Ia mengarahkan kemudi ke kantor Thalia. Bila gadisnya tidak berada di rumah atau di kampus, mungkin saja dia kembali ke kantor, entah untuk mengambil berkas atau lembur sampai tengah malam. Semua kemungkinan bisa saja terjadi, bukan? Rasanya ia ingin menghajar anak buahnya yang mengaku kehilangan jejak Thalia di lampu merah. Ia juga menyumpahi diri sendiri yang tidak mengenal Thalia lebih baik. Ia boleh berkata sebagai pacar, tetapi tidak ada yang ia ketahui tentang gadis itu melainkan sekelumit cerita secara garis besar. Ia tidak tahu dengan siapa saja Thalia bergaul. Bukan hanya karena Thalia tak

