"Kamu adalah bidadari nyata yang Tuhan utus untuk memenuhi hidupku yang penuh lubang. Sekarang, menetap dan tinggallah di sini, bersamaku!" pinta Felix seraya meletakkan tangan Luna di dadanya, sesaat setelah percintaan ketiga berakhir. Di atas tempat tidur cinta yang sudah berantakan dan basah, keduanya saling menatap bersama binar mata dan senyum terindah. Siapa sangka, seorang Felix Vincent dapat berkata lembut di hadapan seorang wanita. "Felix ... ," gumam Luna yang tidak mampu berkata apa-apa lagi. Rasanya, ucapan dari suaminya itu, lebih indah daripada purnama. Kini, perasaan Felix sudah tersampaikan dengan sempurna. Ia pun hanya tersenyum di sepanjang pelukan, sebelum memutuskan untuk beristirahat sejenak. Sejenak? Iya. Felix sudah merencanakan malam ini, sebagai waktu lembur te

