Felix Vincent, dia memang selalu haus akan kasih sayang dan percintaan. Karenanya, Luna rajin membuka baju, menyajikan tubuh yang murni agar setiap bagian dari lekuknya, berkesempatan dipandang luas dan memperoleh pujian dari sang suami. Bagi keduanya, permainan yang tak akan pernah usai ini sangat mengasyikan. Walaupun lelah dan berselimut peluh, namun keduanya terus saja tersenyum serta bangkit untuk mengulang cumbu rayu, seakan mereka baru memulainya. Keringat berat mulai menetes dari ujung dagu Felix yang membentuk lubang memesona. Disusul dengan rintik yang saling bersahut, dari lengan kekarnya yang hangat. Ia memejamkan mata untuk menikmati lebih dalam, semua tentang rasa yang tercipta ketika menyentuh istrinya lebih kuat lagi. Hentikan demi hentakan, menjadi saksi kenikmatan dala

