Part 6

717 Words
"Anak gak tau diri!" Plakk! Giska memejamkan matanya begitu sebuah tamparan mendarat di pipi mulusnya. Ia menunduk, menahan perih yang berdenyut di pipinya yang terasa kebas. "Giska salah apa, Ayah?" tanya Giska pelan. "Salah apa? Kamu yakin nanya itu?" Gilang menatap Giska tajam. Pria yang masih mengenakan setelan kantor itu melemparkan kertas-kertas ke wajah Giska. Seketika Giska menelan ludahnya kasar.  Ia menatap kertas-kertas itu nanar. Ini kertas-kertas ulangannya yang ia sembunyikan di kamar, bagaimana bisa Gilang menemukannya? "60, apa itu sebuah nilai?" Gilang meraih pipi Giska kasar. "Jawab saya!" bentak Gilang. "Maaf, Ayah, Giska janji akan belajar lagi," cicitnya. "Halah! Udah dasarnya otak kamu bodoh, bisa nya bikin malu orang tua aja!" bentak Gilang lagi, suaranya sangat keras hingga otot lehernya mencuat. Giska menunduk ketakutan. Ayahnya terlihat menyeramkan. "Sekali lagi saya lihat nilai ulangan kamu hancur seperti ini, habis kamu!" Gilang menghempaskan pipi Giska kasar, lalu berjalan dengan langkah besar menuju kamarnya. Giska menangis. Ia sudah berusaha keras, dan belajar, menurutnya nilai itu sudah lumayan, tapi menurut Gilang itu tidak ada harganya. Padahal Giska sudah belajar semalaman untuk mendapatkan nilai itu. "Mangkanya punya otak jangan bodoh, bisanya jadi beban aja. Udah sukur kamu masih di sekolahin sama Ayah kamu itu," ucap seorang wanita yang muncul dari dapur. "Maaf, Bunda." "Saya bukan Bunda kamu! Bunda kamu sudah mati!" bentak Viona lalu berjalan menaiki tangga. Giska memilin tangannya, hatinya sakit mendengar itu. Ayah dan Bundanya sudah bercerai empat tahun lalu dan menikah dengan pasangan baru masing-masing, namun Bunda kandungnya meninggal dua tahun yang lalu karna kecelakaan mobil. Hak asuh Giska tadinya jatuh ke tangan Bunda kandungnya dan Papa barunya. Namun Gilang malah memaksa Giska untuk ikut bersamanya setelah Ayrish, Bunda Giska meninggal. Jagat, selaku Papa baru Giska tidak bisa melarang, karna Gilang adalah orang tua kandung Giska. Gilang berhak atas Giska. Ini juga alasan Giska tak pernah mengundang teman ke rumahnya. Ayahnya maupun Bundanya itu pasti akan marah, Giska saja sudah beban untuk mereka, bagaimana jika Giska membawa teman ke rumah? Giska memungut kertas ulangannya. Kemudian berjalan ke kamarnya di lantai bawah. Sebenarnya ini kamar pembantu, namun di jadikan kamar Giska. Miris? Sangat, Giska pun menertawakan kehidupan mirisnya. **** "DOR!" Giska tersentak saat bahunya tepuk keras. "Monyet!" Giska menatap tajam Andra yang mengejutkannya. Andra terkekeh, lalu duduk di samping Giska, mereka saat ini sedang berada di taman sekolah. "Bengong aja, mikirin gue ya?" goda Andra mencoel dagu Giska, membuat gadis itu menoleh dan lagi-lagi memelototi Andra. "Gilak, ngapain gue mikirin lo? Bikin otak gue iritasi aja," jawab Giska ketus. Andra tertawa hingga kedua lesung di pipinya terlihat, membuatnya terlihat tampan dan manis sekaligus. Beruntung bukan, Giska pernah menjadi pacar Andra? "Nikah yuk, Gis." Giska menatap Andra tajam. "Lo kayaknya kudu di rukyah deh, idiotnya gak ilang-ilang." Andra mendengus. "Gue gak pengen jauh-jauh dari lo, kalo kita nikah kan bisa tinggal serumah, jadi lo bisa gue kekepin setiap hari." "Halu aja teros, mau sampe kapanpun gue gak bakal mau nikah sama lo." "Ih, kenapa?" tanya Andra setengah merengek. Bibir bawahnya ia majukan beberapa senti. Giska terdiam sebentar. "Gue gak akan mau nikah dan bikin rumah tangga." "Lo mau jadi perawan sampe keriput?" tanya Andra. "Gue gak perduli, gue gak percaya laki-laki, mereka jahat," ucap Giska terkekeh pelan. Seolah-olah ia mengatakam itu untuk gurauan saja. "Gue beda Gis, gue gak jahat sama lo, gue tulus, gue bahkan rela ngasih satu ginjal gue ke lo seandainya lo sakit keras," ujar Andra serius. Ia meraih kedua tangan Giska dan menggenggamnya. Giska memukul lengan Andra. "Lo doain gue sakit?" "Kan seandainya, lo ngerti perumpamaan kan?" "Gak, gue b**o, jadi ga ngerti." "Gak papa b**o, gue tetep sayang kok." "Andra ih!" kesal Giska. "Kenapa sih, babe?" "Najis!" "Astagfirullah, itu mulut minta di cium ya?" "m***m banget sih lo!" Giska memeloti Andra, mambuat pria itu menyengir. "Ini bukan m***m, tapi ungkapan rasa cinta," ujar Andra. "Serah lo, Ndra." "Konon katanya, orang yang udah ciuman bakal jodoh, jadi gue pengen cium lo." "Ngaco! Gak ada kayak gitu! Jodoh itu di atur Tuhan, bukan di atur bibir sange lo!" "Tega banget, gue gak sange padahal." "Halah bacot! Semua cowo itu sange, cuman beda cara nutupinnya." Andra menaikan alisnya. "Kok lo tau banget, jangan-jangan lo cowok lagi." Giska menggeram. "Iya, gue transgender! Puas?" Setelah itu Giska pergi dari sana. Ia bisa gila menghadapi Andra yang i***t itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD