Part 7

630 Words
Hujan tiba-tiba turun, membuat Giska terpaksa meneduh di warung kecil pinggir jalan. Gadis itu menatap langit yang menjadi gelap. Ia melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 4 sore, Giska mengigit bibirnya ia pasti akan di marahi karna pulang terlambat. Pulang sekolah tadi Giska kerja kelompok di rumah Dara, dan baru bisa pulang sekarang. "Terabas aja kali ya," gumam Giska. Gadis itu mengangguk menyetujui idenya sendiri, lalu berlari menembus hujan, air hujan yang dingin langsung mengenai kulitnya. DUARRR! Petir yang menggelegar membuat Giska merasa takut dan memilih meneduh di bawah pohon mangga. Giska tak sengaja menoleh, seketika ia tersenyum tipis. Kakinya sendiri yang membawanya ke sini, mungkin itu pertanda untuk Giska mengunjungi tempat ini. Pemakaman umum. Ia melangkah ke sana. Menuju makam Bundanya. Ia berjongkok, mengelus pelan nisan sang Bunda, lalu memejamkan matanya dan mengirimkan do'a untuk orang yang paling ia sayang itu. Giska membuka matanya karna samar-samar mendengar suara tangis. Meskipun suara hujan lebih mendominasi namun Giska masih bisa mendengarnya. Gadis itu mengedarkan pandangannya, seketika matanya berhenti menatap punggung seseorang yang membelakanginya. Punggung tegap itu menggunakan seragam yang sama seperti Giska. Mengetahui jika orang itu satu sekolah dengannya membuat Giska segera menghampirinya. "Hei," panggil Giska hingga pria itu menoleh sekilas. Giska terlihat kaget. "Elang?" Elang diam, pria itu menunduk, ia tak mau ada orang yang melihatnya menangis. "Lo gak papa?" Giska berjongkok di samping Elang, lalu mengelus bahu bergetar pria itu. "Pergi," ucap Elang datar. Giska menggeleng. "Lo bisa sakit kalau hujan-hujanan di sini." "Jangan perduli." Giska mendongak, melihat hujan yang semakin lebat dengan angin yang bertiup kencang. Susana makam semakin gelap dan menyeramkan. "Lang, ayo, lo bisa ke sini lagi nanti, sebentar lagi malem." Elang menepis tangan Giska di bahunya. "Udah gue bilang jangan perduli!" sentaknya. "Lo lihat makam ini? Lo akan bernasip kayak dia kalau terus-terusan ada di deket gue, jadi silahkan pergi." Giska melihat makan yang Elang tunjuk. "Dia siapa, Lang?" Elang menghela nafas. "Lo pasti udah tau gosip di sekolah kalau gue di keluarin karna ngehamilin cewek." "Dan dia cewek itu, dia sekarang udah meninggal." Giska terkejut. Ia tak menyangka jika gosip yang Dara beritahu tempo hari adalah sebuah fakta. "Jangan suka sama gue, gue bahaya, gue jahat. Lo bisa bernasip buruk kayak dia." Elang menunduk, ia kembali menangis, menyesali perbuatannya. Giska menatap makam bertuliskan. 'Erina Salim' di depannya. "Erina pasti cantik yah, Lang?" tanya Giska membuat Elang mendongak. Ia melihat senyum tulus Giska, seketika ada debaran aneh di d**a Elang. "Dia udah jadi bidadari surga sekarang, dia udah bahagia, terus apa yang bikin lo nangis?" "Gue penyebab kematian dia." "Salah, itu takdir, bukan salah lo." Giska menatap mata tajam Elang yang kini memandangnya intens. "Jangan salahin diri lo sendiri, semua udah di garisin sama Tuhan. Gue juga yakin lo gak sejahat itu, gue bisa liat di mata lo," ujar Giska tersenyum. "Gue selalu ganggu lo beberapa hari ini, tapi lo gak pernah marah, lo juga nolong gue waktu gue jatoh, padahal waktu itu gue nabrak lo. Lo cowok baik, gue tau itu." Elang mengalihkan pandangannya dari mata teduh Giska. Sekarang rasa tertarik Elang sejak awal pada Giska, semakin bertambah. "Gue gak merkosa dia, gue di jebak, gue di jadiin kambing hitam sama temen gue, Erina pacar gue, gue sayang dia, gak mungkin gue macem-macemin dia." Giska diam mendengarkan. "Erina gak cerita sama gue kalau temen gue ngelakuin itu ke dia, tiba-tiba kabar kematian Erina sampe ke telinga gue, bahkan gue gak tau apapun." Giska tersenyum. Benar bukan? Elang pria baik. Terjadi keheningan beberapa saat. Tangan mungil Giska masih setia mengelus bahu Elang di bawah hujan yang mulai mereda. "Makasih," ujar Elang. "Untuk?" "Mau dengerin cerita gue, selama ini gue frustrasi karna gak bisa cerita sama siapapun, mereka nganggep gue salah tanpa mau denger penjelasan gue." Giska mengangguk. "Lo bisa cari gue kapanpun kalau mau cerita."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD