Part 8

670 Words
Sekujur tubuh Giska bergetar ketakutan saat sosok Gilang menghadangnya yang baru membuka pintu rumah. Tubuhnya yang sudah menggigil karna terkena hujan, jadi semakin menggigil sekarang.  "Bagus, makin binal kelakuan kamu!" ucap Gilang dengan nada dingin dan datar yang mampu menggores hati Giska.  Gilang menatap Giska tajam. "Dari mana saja kamu pulang malam hari seperti ini hah?!" bentaknya keras.  "Giska habis dari makam Bunda, Yah," jawab Giska menunduk.  "Bohong itu Yah, aku tadi lihat dia di antar cowok," ucap seseorang yang muncul dari ruang keluarga.  Giska menengang, suara itu?  Gadis itu mendongak dan mendapatkan pria tampan berperawakan gagah, berdiri menjulang di depannya. Giska memilin tangannya, rasa takut berlebihan tiba-tiba menyerangnya. Membuat Giska merasa pusing dan gemetar di saat yang bersamaan.  "Kak Aldo, aku gak bohong, aku berani sumpah," ujar Giska menatap pria itu takut. Ia adalah kakak tiri Giska, anak dari Viona, istri Ayah nya.  Giska sejujurnya kaget melihat Aldo ada di sini, seingatnya pria itu masih berada di Singapura. Aldo berkuliah di NUS (National University of Singapore)  Aldo sangat pintar hingga bisa masuk ke Universitas terbaik ke-11 di dunia itu dengan mudah. Itu juga penyebab Gilang terus menuntut Giska untuk memiliki nilai yang bagus. Ia tak mau menanggung malu karna anak tirinya lebih pintar di banding Giska, anak kandungnya. Gilang selalu membangga-banggakan Aldo, ia sangat menyayangi Aldo bahkan melebihi Giska sendiri. Gilang bahkan memberikan separuh saham perusahaannya kepada Aldo. "Halah, bilang aja lo habis pacaran kan? Pake alesan ngunjungin makan Bunda lo segala." Giska menatap Aldo memohon, meminta Aldo untuk tidak mengompori Ayahnya lagi. Namun yang Giska dapat hanya senyum miring di bibir pria itu. Senyuman maut yang semakin membuat Giska merasa takut. "Saya sudah bilang berulang kali pada kamu untuk fokus sekolah, bukan pacaran! Kenapa kamu tidak pernah dengar, Giska!" bentak Gilang membuat Giska memejamkan matanya. Ini memang bukan pertama kalinya, tapi bentakan Gilang selalu berhasil membuatnya sakit dan juga takut.  "Ayah, Giska gak pacaran--" "Berhenti panggil saya Ayah! Saya tidak akan menganggap kamu anak jika kamu terus-terusan seperti ini," ujar Gilang dingin.  Giska ingin menangis, ia menggigit bibirnya dan menunduk dalam. Hal itu malah membuat Aldo tersenyum puas.  "Aldo, beri pelajaran pada gadis nakal ini, Ayah mau melanjutkan pekerjaan di kamar," ujar Gilang lalu pergi dari sana. Jantung Giska mencelos mendengar itu, dadanya langsung berdebar kuat. Ia memundurkan langkahnya seraya menggeleng keras melihat Aldo yang berjalan mendekat.  Aldo tersenyum miring, ia suka melihat Giska yang ketakutan seperti ini. Tangannya sekarang mencengkam pipi Giska kuat.  "Lama gak ketemu, Adik?" ujarnya membuat Giska semakin ketakutan.  "Pasti menyenangkan yah 1 tahun hidup tanpa gue? Bahagia kan? Tapi sayang banget, sekarang lo gak akan rasain itu lagi," Aldo terkekeh sinis.  "Gue udah kembali, yang artinya penderitaan lo juga balik lagi," ucapnya menatap Giska tajam.  "Kak, jangan," cicit Giska pelan.  "Jangan? Lo pengen gue jadi anak durhaka? Lo gak denger perintah Ayah barusan yang nyuruh gue ngasih lo pelajaran?" Aldo mencengkram pipi Giska semakin kuat.  Giska menggeleng, ia mulai menangis. Ada dua orang di dunia ini yang paling Giska takuti, yang pertama Gilang, dan yang kedua adalah Aldo.  Dua pria itu sering menyiksanya membuat Giska merasa trauma, hingga akhirnya melampiaskan dengan memacari banyak lelaki dan memutuskan mereka begitu saja. Ya, itu salah satu alasannya menjadi seorang playgirl dan memainkan hati para lelaki. Giska tau itu salah, tapi dia hanya ingin merasa senang dan tidak tertekan dengan cara melakukan itu.  Aldo menghempaskan pipi Giska kasar membuat Giska meringis. Sekarang mereka akan memasuki sesi yang paling Aldo sukai. Pria itu membuka ikat pinggangnya dan mencambukannya ke lantai, membuat tubuh Giska semakin bergetar.  "Kak Aldo," Giska menyatukan tangannya di depan d**a, memohon agar Aldo tak melakukannya.  Aldo malah tersenyum remeh. Dan dua detik kemudian sebuah cambukan mengenai punggung Giska, membuat teriakan kesakitan Giska kian melengking.  Bukan hanya satu, tapi berkali-kali, hingga Giska terduduk di lantai tak mampu menopang tubuhnya sendiri, dalam keadaan itu pun Aldo masih mengayunkan sabuknya ke tubuh Giska.  Baik Aldo, Viona, maupun Gilang, sama sekali tidak ada yang peduli dengan teriakan Giska. Penghuni rumah itu bahkan menutup telinganya mendengar suara Giska yang mengganggu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD