Giska menutup pintu kamarnya dan segera menguncinya dengan tangan bergetar. Ia meraup udara sebanyak-banyaknya. Giska berhasil kabur dari Aldo dengan susah payah.
Air mata sudah memenuhi wajahnya sekarang. Giska meringis kesakitan, punggungnya terasa perih. Sangat perih.
Gadis itu berjalan menuju cermin besar kamarnya, perlahan membuka seragam yang di kenakannya. Giska kembali meringis melihat tubuh belakangnya di cermin itu.
Garis-garis merah dan juga mengeluarkan bercak darah tercetak banyak di sana, rasanya sakit dan perih. Meskipun ini bukan kali pertama Giska merasakannya.
Giska sudah sering mengalami ini sejak ia tinggal bersama Gilang dan keluarga barunya. Tepatnya saat Giska baru memasuki SMA. Cambukan, tamparan, pukulan, semuanya sudah sering Giska rasakan.
Setiap kesalahan kecil yang Giska lakukan akan mendapatkan balasan berkali-kali lipat dari mereka.
Mereka seolah senang membuat Giska menangis dan berteriak kesakitan. Padahal dulu Gilang tidak seperti ini, jangankan memukul Giska, bahkan membentaknya sekalipun tak penah.
Giska tak tau apa yang membuat Ayahnya berubah. Giska juga tidak tau mengapa Viona dan Aldo membencinya.
Aldo maupun Viona selalu menatap Giska benci secara terang-terangan. Bahkan Aldo pernah melakukan hal yang sangat parah saat Giska melakukan kesalahan dan Gilang menyuruh Aldo memberinya pelajaran seperti tadi. Gilang memang sering melempar perbuatan seperti itu pada Aldo, menyuruh Aldo menghukum Giska menggantikannya.
Aldo hampir memperkosa Giska dengan paksa, jika saja saat itu Giska tak berusaha melawan. Namun hal itu hanya Giska yang mengetahui, Viona dan Gilang tak tahu, karna Aldo mengancamnya untuk tetap bungkam.
Itu penyebabnya menjadi sangat takut dengan Aldo, Giska takut kejadian itu terulang lagi.
Awalnya Giska kira ia akan bahagia tinggal bersama Gilang, karna Giska memiliki saudara dan juga Bunda baru. Tapi ternyata semua terjadi di luar ekspektasi Giska. Ia malah merasa menderita dan tersiksa.
Giska memilih berjalan ke ranjangnya dan tidur tanpa mengobati luka di punggungnya. Toh itu sudah biasa, nanti juga kering dengan sendirinya.
****
"Kamu gak boleh sarapan."
Viona berucap dingin melihat Giska yang baru keluar dari kamarnya yang tepat di samping dapur.
Giska mengangguk. Pasti Gilang yang memerintahkan Viona.
Gadis itu berjalan menghampiri Viona, hendak mencium tangannya namun Viona hanya meliriknya datar. Giska menarik kembali tangannya dengan senyum miris.
"Aku berangkat sekolah dulu ya, Bunda," pamit Giska pada akhirnya.
"Gue anter."
Suara itu seolah memiliki sengatan khusus hingga sekujur tubuh Giska langsung bergetar mendengarnya.
"G-gak usah Kak, aku bisa jalan kaki."
"Kamu itu gak bisa bersyukur ya? Udah untung anak saya nawarin kamu tumpangan," ujar Viona sinis.
"Maaf, Bunda." Giska menunduk. Hal itu membuat Aldo tersenyum puas. Entahlah, ia selalu suka melihat gadis itu tertindas.
Akhirnya Giska mengikuti Aldo menuju mobilnya. Pria itu kini mengenakan setelan jas kantor. Giska bisa tebak jika Aldo di suruh Gilang untuk datang ke kantor milik Gilang.
Di dalam mobil hanya terjadi keheningan, Giska sibuk memilin tangannya, meskipun Aldo tak melakukan apapun, namun tubuhnya bereaksi seolah Aldo akan melakukan hal kemarin.
Perjalanan yang tidak sampai 10 menit ini terasa sangat lama bagi Giska. Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan sekolah Giska.
Giska menoleh, menatap Aldo takut. "Ma-makasih, Kak."
Giska hendak turun namun tangannya di cekal, membuat Giska kembali menoleh dengan ekspresi takut.
"Baliknya gue jemput."
Pria tampan itu mendorong Giska keluar mobilnya setelah mengatakan itu.
Giska menghela nafas lega, lalu berjalan memasuki sekolah dengan balutan hoodie pink kebesaran miliknya untuk menutupi bagian lengannya yang ikut tergores kemarin.
"Selamat pagi pacar, Andra!"
Andra sejak tadi menunggu Giska di gerbang dan langsung merangkul gadis itu. Giska meringis kesakitan dan itu membuat Andra keheranan.
"Lo kenapa?" tanya Andra khawatir.
Giska melepaskan tangan Andra dari bahunya, tangan pria itu tak sengaja menyenggol bagian punggungnya yang masih terdapat luka basah.
"Gak papa," jawab Giska lalu berjalan mendahului Andra.
Andra terdiam di tempatnya, ia merasa ada yang aneh dari gadis itu.