Andra menopang dagunya, ia menatap Giska yang terlihat bengong, seperti sedang banyak fikiran.
"Lo ada masalah?"
Giska menggeleng.
"Bohong."
"Gue jujur."
"Gue kenal lo, dan lo gak biasanya kayak gini, biasanya lo langsung ngamuk kalau gue ngapelin lo ke kelas kayak sekarang." Andra menaikan satu alisnya.
"Gue lagi males marah."
Andra menghela nafas. Jawaban Giska sangat singkat dan tanpa nada. Padahal gadis itu adalah Queen Ngegas menurut Andra.
"Cerita sama gue, Gis." Pria itu memegang bahu Giska. Manatap Giska selembut mungkin.
Giska sempat terhanyut oleh tatapan hangat Andra, namun ia segera mengalihkan pandangannya.
"Gak ada yang harus di ceritain."
"Gue akan cari tau sendiri." Andra bangkit dari duduknya karna mendengar bel masuk.
Andra mengelus kepala Giska pelan. "Gue kelas dulu ya, babe."
****
Giska berjalan ke gerbang depan sekolah seraya memilin tangannya. Barusan, Aldo menelponnya dan mengatakan jika ia sudah di depan.
"Gis, lo kenapa?" tanya Dara kebingungan, tidak biasanya Giska sediam ini.
Sepanjang hari ini Giska hanya berbicara seperlunya, selebihnya ia hanya diam. Jelas itu bukanlah Giska, Giska adalah gadis cerewet dan pecicilan.
"Gue gak papa."
Dara hanya mengangguk percaya meski dia tidak yakin.
"Giska?" Seorang lelaki menghampiri mereka.
Dara membuka mulutnya kagum. "Ganteng banget," gumamnya.
Berbanding terbalik dengan Giska yang langsung menunduk, tubuhnya lagi-lagi bereaksi berlebihan jika berhadapan dengan Aldo.
"Masuk mobil," suruh Aldo datar.
Giska mengangguk dan segera memasuki mobil Aldo. Dara menahan tangan Aldo yang akan menyusul Giska.
"Hallo, aku Dara, temennya Giska." Dara mengulurkan tangannya.
Aldo tersenyum miring. Ia membalas uluran tangan Dara. Gadis ini terlihat manis di matanya, namun bukan itu alasan Aldo tersenyum. Ia memiliki suatu rencana di otaknya.
"Aldo, Kakaknya Giska," ucap Aldo.
Mereka berbincang sedikit dan di akhiri dengan Dara yang meminta nomor Aldo, gadis itu melambai pada mobil Aldo yang mulai menjauh.
Dara tersenyum lebar. Mimpi apa dia bisa bertemu dengan pria setampan Aldo.
"Gue baru tau Giska punya Kakak, kenapa dia gak bilang dari dulu sih, tau gitu kan gue bakal maksa terus buat maen ke rumahnya," gumam Dara.
Dara memang teman terdekat Giska, namun hanya di sekolah, di luar rumah mereka jarang bertemu, bukan karna Dara tidak mau, tapi Giska yang selalu menolak. Dua tahun berteman dengan Giska, Dara belum pernah ke rumah gadis itu sekalipun. Atau bertemu di luar rumah selain karna kerja kelompok untuk tugas.
Alasannya pun Dara tidak tau, yang jelas gadis itu selalu menolak jika di ajak keluar. Dara sendiri sebenarnya merasa ada yang aneh dari Giska. Tapi sayang sekali Giska tak mau bercerita.
Dari luar Giska terlihat ceria dan friendly, namun sebenarnya gadis itu tertutup. Tidak ada yang tau bagaimana kehidupannya. Giska tak pernah bercerita pada siapapun.
Gadis yang di kenal playgirl itu ternyata tidak sebahagia yang terlihat.
****
Giska sedang tiduran di kamarnya. Ia meringkuk memegangi perutnya yang terasa sakit. Sejak pagi Giska belum makan, dan sekarang magh-nya kambuh.
Giska tak di beri uang jajan untuk makan di kantin, bahkan ia tak di bolehkan makan di rumah sebagai hukuman karna kemarin pulang terlambat. Jadi sejak tadi Giska hanya minum air mineral.
Di sela ringisan kesakitannya, ponsel Giska bergetar tanda pesan masuk. Giska kemudian membukanya dengan perlahan, lalu mulai mengetik untuk membalas.
Andra:
Lagi apa pacar Andra?
Giska:
Nfs
Andra:
Cuek banget sih, gemes, pengen cium
Giska:
Y
Andra:
Aku sabar kok (emot malaikat tersenyum)
Giska:
O
Andra:
Babe, laper (emot memelas, haus belaian)
Giska:
Makan lah b**o, ngapain chat gue
Andra:
Gak mau makan itu
Maunya makan kamu (emot salim, tersenyum lugu)
Boleh gak?
Giska:
Gila lo, idiot
Andra:
This i***t guy, your boyfriend babe
Giska:
Astaga, Najis
Andra:
Iya, aku juga sayang kamu
Giska:
Tobat Ndra, sadar
Andra:
Aku sadar kok, sadar kalau cinta kamu hehe
Nikah yuk?
Ntar kita buat anak
Bikin Andra junior
Pasti seru
Giska:
Andra:
Bikin 12 anak aja cukup kok Gis
Gue gak minta banyak-banyak
Giska:
Anjing, lo fikir perut gue penampungan, ngelahirin manusia sebanyak itu?!
Tanpa sadar Giska terkekeh, tertawa pelan hingga melupakan rasa sakit di perutnya.
Andra memang menyebalkan, tapi terkadang ia juga bisa menjadi moodboster untuk Giska.