Part 11

636 Words
Hari ini pelajaran olahraga, Giska dan teman-teman sekelasnya terlihat sedang melakukan pemanasan di lapangan outdoor. Giska yang biasanya sangat menyukai pelajaran olahraga kini terlihat tidak bersemangat. Hal itu tak luput dari penglihatan Andra, pria itu duduk di ujung lapangan, dengan seragam olahraga juga. Kelas Giska dan Andra memang memiliki jam olahraga yang sama. Menurut Andra, menatap wajah Giska sangat menyenangkan, entah mengapa melakukan itu bisa membuatnya bahagia. "Gis, Andra liatin lo mulu," bisik Dara. "Udah biasa." Dara mengangguk. Benar juga sih, bukan hal aneh lagi jika seorang Andra, pria yang belum move-on dari Giska, memperhatikan Giska seperti itu. "Anak-anak, bapak ada rapat dadakan, jadi kalian boleh olahraga bebas." Semua teman-teman Giska bersorak senang. Artinya mereka boleh ke kantin, tidur, atau bersantai setelah ini. Setelah guru itu pergi, Giska memutuskan untuk duduk saja di pinggir lapangan, menolak ajakan Dara untuk ke kantin. Ia malas, Giska kehilangan nafsu makan akhir-akhir ini. Sesuatu yang dingin tiba-tiba berada di pipinya membuat Giska segera menoleh. Gadis itu tertegun, melihat senyum orang di samping nya. "Elang?" Giska tak dapat menyembunyikan ekspersi terkejutnya. "Gue beli minum buat lo," ucapnya menyodorkan minuman yang tadi di tempelkan ke pipi Giska. Giska menerimanya. "Makasih." Elang tersenyum, dan Giska di buat kembali tertegun saat tangan pria itu terangkat mengelus rambutnya pelan. Mengapa Elang jadi semanis ini? "Jangan pernah bilang makasih ke gue." "Kenapa?" "Gue yang harusnya bilang itu ke lo." Giska mengerutkan kening tak mengerti. "Karna lo, gue berani speak up dan bilang dengan tegas kalau bukan gue pelaku yang bikin Erina meninggal, dan sekarang pelaku sebenarnya udah di masukin penjara." Giska tersenyum ikut merasa senang. "Selamat, Elang, lo hebat." Kini berganti, Elang yang di buat tertegun melihat senyum manis Giska. "Lo cantik," ucap Elang. "Hah?" Elang tersenyum. "Lo cantik Giska, gue suka." Pipi Giska memerah. Apa-apaan ini? Mengapa Elang berkata suka seperti itu. Kenapa tidak langsung menembak dirinya saja agar misinya cepat selesai. "Gis, ikut gue." Tangan Giska tiba-tiba di tarik hingga ia langsung berdiri. "Gue--" Belum sempat menolak, ia sudah lebih dulu di tarik menjauh dari tempat itu. Elang hanya diam memandang punggung Giska dan juga pria yang menariknya itu. **** "Kenapa?" tanya Giska pada pria di depannya. Andra menghela nafas. "Jangan Elang." "Hah?" "Lo boleh pacaran sama siapapun, gue gak akan larang, asal jangan Elang," ucap Andra tegas. "Lo gak ada hak larang gue Ndra, ini hidup gue, terserah gue mau ngapain dan sama siapa aja." "Giska, please, Elang itu gak baik buat lo." Andra menunjukan raut serius yang sangat jarang ia perlihatkan pada Giska. "Bukannya Elang temen lo? Waktu itu kalian makan berdua di kantin." "Bukan, gue duduk di sana karna tempat lain udah penuh." "Oh." Giska tersentak saat kedua tangan besar Andra menangkup wajahnya hingga mata keduanya bertatapaan. "Gue mohon sama lo, cari yang lain, jangan Elang." Seolah terhipnotis, Giska mengangguk menurut. Membuat Andra tersenyum lega. Dan kemudian memeluk Giska. Entah mengapa jantung Giska berdebar kuat sekarang, baru kali ini Andra memeluknya seperti ini. Giska merasa tubuh mungilnya sangat pas di pelukan tubuh tinggi Andra. "Silahkan pacaran sama siapapun, tapi gue pastiin di akhir cerita nanti, lo bakal balik lagi ke gue," bisik Andra. Giska sudah tidak asing dengan perkataan Andra itu, ia bahkan sudah bosan mendengarnya dari mulut Andra. Andra sudah terlalu sering mengucapkannya. Tapi Giska yakin ucapan Andra itu tidak akan jadi nyata. Kenapa? Karna Giska tidak mencintai Andra. Dulu, bahkan sampai sekarang. "Maaf, Ndra." Giska melepaskan pelukannya. "Untuk?" Andra mengerutkan keningnya. "Gue serius kali ini," Giska menangkup wajah Andra dengan kedua tangan mungilnya. "Gue bukan cewek baik, gue gak pantes ngedampingin cowok sebaik dan sesempurna lo." "Lupain gue ya? Pasti masih banyak cewek yang nunggu lo di luar sana." "Gue janji gak akan sama Elang atau siapapun lagi, gue bakal berhenti jadi playgirl dan lo juga berhenti suka sama gue. Bisa kan?" tanya Giska menatap Andra tepat di matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD