Part 12

746 Words
"Aku mau lanjut kuliah di Indonesia ,Ma." Viona menoleh, menatap anaknya terkejut. "Tapi sayang--" "Ma, aku gak betah di Singapura, aku mau di sini aja. Boleh kan?" Aldo menggenggam tangan Viona. Menatap mamanya dengan tatapan memohon. Viona akhirnya mengangguk pasrah, ia tidak bisa menolak keinginan putra tersayangnya itu. Aldo tersenyum. Akhirnya, ia sudah tidak betah tinggal di Negri Singa itu. Di sana sangat berbeda dengan Indonesia, terlalu banyak aturan dari pemerintah yang harus di patuhi, dan itu membuat Aldo tertekan. Secantik dan semaju apapun negara orang, Aldo tetap hanya betah di negaranya sendiri. "Makasih Ma, aku janji akan bales kebaikan Mama." "Dengan?" "Balesin dendam Mama ke gadis kecil itu." "Tapi, kenapa tiba-tiba?" "Aku udah gak tahan liat dia bahagia, aku benci liat senyum di wajahnya, Mama juga rasain hal yang sama kan?" "Ya, tapi Mama gak yakin, ada Ayah kamu yang pasti ngelindungin dia." "Dia bukan Ayah aku, dia cuman ladang uang buat kita," ucapnya tersenyum miring. "Mama tenang aja, Mama cukup ajak Ayah keluar rumah, dan sisanya aku yang akan urus." Viona tersenyum samar lalu memeluk putranya. "Kamu anak terbaik, Mama gak nyesel melahirkan kamu." "Kita akan mulai kapan?" tanya Viona. "Sekarang." **** "Ganti baju pake itu." Aldo tiba-tiba membuka pintu kamar Giska dan melemparnya paper bag yang langsung di tangkap saat itu juga. "Buat apa?" "Lo temenin gue pergi." "Ke mana?" "Gak usah banyak bacot! Cepetan ganti." Giska menggeleng. Ia tak mau di jebak untuk yang kedua kalinya. Dulu Aldo hampir memperkosanya dengan mengajaknya pergi seperti ini. Giska tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. "Tapi--" "Lo mau gue yang gantiin?" Giska meneguk ludanya kasar. Ia menggeleng takut lalu segera menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Membuat Aldo tersenyum senang dan segera berlalu dari sana. "Ini bukan baju! Dia gilak!" Giska menatap dress merah yang di beri Aldo tadi. Dres tanpa lengan dengan belahan d**a yang sangat rendah. Bisa Giska pastikan jika dress ini akan sangat membentuk lekuk tubuhnya jika ia gunakan. Giska memilih menaruh dress itu dan mengganti bajunya dengan baju biasa, kaus kebesaran berwarna hitam dan juga jeans. Setelah itu Giska segera menyusul Aldo ke mobil. Aldo menoleh karna pintu mobilnya di buka Seketika ia menatap Giska tajam. "Apa-apaan lo? Kenapa gak make baju tadi?" "Itu bukan baju, terlalu terbuka," cicit Giska pelan. Aldo mendengus kasar, ia memukul stir mobil nya kuat, membuat Giska tersentak. "Oke, gak masalah lo gak make baju itu, dengan gini pun lo masih keliatan menggoda." Giska mengerutkan dahi. "Maksud kak Aldo?" Aldo tak menjawab, ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sepanjang perjalanan Giska terus menerka-nerka akan di bawa kemana dirinya. Semoga saja kejadian dulu tidak terjadi lagi, Giska tidak mau. Mobil Aldo berhenti di depan sebuah gedung yang asing di mata Giska. "I-ini di mana?" Aldo diam, ia keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Giska dan menarik paksa gadis itu keluar mobil. "Ikut!" Giska hanya pasrah saat tangannya di cengkram kuat dan di tarik paksa oleh Aldo memasuki gedung itu. Begitu mereka sampai ke dalam, Giska langsung merasa pening. Sekilas kejadian muncul di kepalanya. Kejadian di mana Aldo hampir memperkosanya di tempat seperti ini. Sebuah club, namun dulu bukan di club ini. Giska masih ingat jelas. "Kak, aku mau pulang!" Giska menarik tangannya, namun Aldo malah mencengkamnya semakin kuat. "Gue akan anter lo pulang, setelah lo ngehasilin uang buat gue." Aldo tersenyum sinis. Giska langsung menggeleng. Ia mengerti maksud perkataan Aldo. Giska berusaha berontak, ia mengigit tangan Aldo hingga Aldo memekik dan langsung berlari dari sana. Namun naas, Aldo kembali manarik tangannya dengan cepat dan melayangkan tamparan di pipi Giska, hingga gadis itu menangis. "Gak usah kurang ajar anjing! Tau diri! Lo selama ini di biayain sama Ayah, sekarang waktunya buat lo bales budi dengan ngehasilin uang! Jangan kerjaanya jadi beban terus!" bentak Aldo dengan otot leher yang mencuat. Kamudian Aldo kembali menyeret Giska, membuat Gadis itu berontak dan berteriak. "TOLONG! TOLONG!" Sayang sekali, suara Giska kalah kuat oleh musik yang mendentum di penjuru Club. Aldo menarik Giska menuju tangga tanpa memperdulikan teriakan gadis itu. Giska semakin ketakutan saat mereka. berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan VVIP. "Selamat menikmati pekerjaan baru, Adiku," ujar Aldo dengan lembut. Ia terkekeh melihat Giska yang menggeleng takut. "Tenang aja, kerjaan lo gampang, cuman ngangkang, dan duit bakal ngalir sendirinya." "Kak, aku mohon," ujar Giska sudah berlinang air mata. Aldo membuka pintu itu dan mendorong Giska memasuki pintu itu, setelah itu Giska mendengar suara pintu di kunci. Aldo tersenyum. "Gadis itu hancur malam ini, Mama pasti seneng dengernya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD