Part 13

661 Words
"SIAPAPUN TOLONG!" Giska menggedor pintu di depannya, tangisannya sudah pecah sejak tadi. Tidak, Giska tidak akan membiarkan dirinya terjebak di sini. Giska menoleh, mengedarkan pandangannya pada ruangan dengan cahaya remang-remang ini. Terdapat sebuah ranjang, sofa, meja berisi botol minuman keras, dan juga sebuah pintu yang Giska yakini sebagai kamar mandi. Tiba-tiba pintu itu tebuka, menampilkan sosok tegap lelaki yang hanya menggunakan celana pendek dan bertelanjang d**a. Giska semakin memepetkan dirinya ke pintu saat laki-laki itu berjalan menghampirinya. Gadis itu menyatukan tangannya di depan d**a. "Tolong, jangan apa-apain gue," ucap Giska memohon. "Giska?" Giska terdiam, ia mengenal suara ini. Ia mendongak dan saat itu juga kedua bola matanya membesar. "E-Elang?!" Elang terlihat terkejut. "Jadi lo cewek yang gue sewa? Ini kerjaan lo di luar sekolah?" tanya Elang terdengar meremehkan. Giska mengepalkan tangannya. "Jaga mulut lo ya!" Elang menghela nafas. "Oke lah, gak masalah siapa aja, yang jelas lo udah gue bayar, dan gue butuh pelepasan malem ini." Elang berjalan mendekat namun Giska berlari menjauh, membuat Elang terkekeh. Elang suka gadis yang agresif. "Lo jalang, tugas lo muasin gue Giska, jangan bertingkah seolah-olah lo perawan dan juga gadis polos. Lo cuman cewek sewaan." "Gak! Gue bukan jalang! Gue bukan cewek sewaan! Gue di jebak!" teriak Giska. Gadis itu kembali menangis. "Lang, tolong, keluarin gue dari tempat ini, gue gak mau di sini." Elang berdecak. "Dan uang yang gue keluarin sia-sia gitu aja?" "Lo harus tau, gue gak ngeluarin sedikit uang buat nyewa lo," ucap Elang. "Lang, lo orang baik, tolong lepasin gue." Elang menggeleng tak habis fikir. "Setelah ngeliat gue di sini lo masih mikir gitu?" Pria itu tekekeh, ia berjalan mendekati Giska dan mencengkam tangan gadis itu. "Gue b******k bodoh, dan lo harus tau, kalau yang gue ceritain di makam Erina itu bohong." Elang tertawa. Sedangkan Giska menampilkan ekspresi terkejut. "Gue yang merkosa dia sampe hamil, dan karna lo, gue punya ide buat lempar kesalahan gue ke temen gue, kemarin gue berterimakasih ke lo buat itu." Elang tertawa menyeramkan. "Kebetulan lo ada di sini, jadi sekalian aja gue bongkar semuanya." Giska menggeleng tak percaya. "Lang, kita temen, lo gak mungkin ngelakuin hal yang sama kayak Erina ke gue kan?" "Ayolah Giska, gak usah munafik, gue yakin lo bakal suka sama permainan gue." Elang membelai wajah mulus Giska. "Lang--" "Gue janji gak akan kasih tau warga sekolah tentang kerjaan sampingan lo ini, dan lo juga harus bungkam soal Erina, oke?" "b******k!" Giska menendang s**********n Elang membuat Elang berteriak kesakitan. Giska lalu berlari memgambil kunci di atas meja yang sudah ia tatap sedari tadi. Lalu Giska segera keluar dari sana setelah berhasil membuka pintu dengan tangan gemetar. "GISKA! BERHENTI LO s****n!" Giska terus berlari dengan air mata yang kembali turun. Ia menerobos gerombolan orang-orang yang sedang meliukan tubuhnya di lantai dansa. Sesekali Giska menoleh, memastikan Elang mengejarnya atau tidak. Sekarang Giska tau yang di bicarakan Andra benar. Elang tidak baik, pria itu b******k. Giska menyesal pernah mengiranya baik. Giska sudah sampai di depan Club, namun ia melihat mobil Aldo masih terparkir di sana. Giska segera berlari sebelum Aldo melihat nya. Giska tidak mau tertangkap dan kembali di paksa Aldo memasuki tempat laknat itu. Gadis itu menghela nafas setelah berhasil menghentikan sebuah taksi dan menaikinya. Hampir saja, hampir saja dirinya hancur, dan hampir saja hal terpenting dalam hidupnya di renggut. Mungkin Giska tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika tadi Elang berhasil mengambil mahkotanya. Giska mengusap air matanya. Dia tak tau kesalahan apa yang ia perbuat hingga Aldo tega melakukan hal ini padanya. Menjualnya dan menjadikannya seorang jalang. Giska tak bisa bayangkan apa yang akan terjadi padanya, jika tadi ia gagal kabur. Gadis itu menatap ke luar jendela, sejak dulu Giska sudah berfikiran untuk pergi dari rumah Gilang, namun Giska tak tega meninggalkan Gilang. Giska tau Gilang sebenarnya sayang padanya, dan Giska adalah anak kandungnya satu-satunya. Tapi kali ini tekat Giska sudah bulat, ia tidak mau hal seperti ini terjadi untuk yang ketiga kalinya. "Maaf Ayah, tapi Giska gak akan pulang ke rumah lagi," ucapnya pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD