Giska memencet bel di depannya, tak lama kemudian gerbang tinggi di hadapannya di buka, menampilkan seorang laki-laki yang mengenakan seragam khas security. Pak Maman, satpam rumah yang ia datangi saat ini.
"Neng Giska? Yaampun saya kira siapa bertamu malam-malam," ujar pria itu.
Giska tersenyum tipis. "Papa ada kan Pak?"
Pria itu mengangguk. "Silahkan masuk Neng, Tuan Jagat ada di dalam." Maman membukakan gerbang untuk Giska.
Giska segera memasuki rumah mewah di depannya. Sampai di depan pintu utama, ia segera membukanya dan mengedarkan pandangannya. Tatapannya terhenti pada seorang pria yang sedang duduk di sofa dengan laptop di depannya.
Entah mengapa Giska kembali menangis, ia mengigit bibirnya. Teringat kejadian mengerikan tadi. Kejadian yang jika benar-benar terjadi, mungkin akan membuat Giska bunuh diri.
"Papa Jagat!" Giska berlari dan memeluk pria itu. Ada kerinduan juga yang membucah di dadanya, Giska ingat terakhir kali mereka bertemu adalah dua tahun lalu, di mana Gilang membawanya pergi untuk tinggal bersamanya.
Setelah hari itu, Jagat selalu menghubungi Giska dan menyuruhnya untuk datang ke sini sekedar untuk berkunjung, tapi Gilang dan Aldo melarangnya, dan jika Giska memaksa maka pukulan atau cambukan yang akan ia terima.
Jagat terlihat terkejut, ia menatap Giska. "Giska kenapa sayang? Kenapa gak bilang dulu sama Papa kalau mau ke sini?"
Jagat mengelus pelan kepala putri dari almarhum istrinya itu. "Ada apa? Giska ada masalah?" tanyanya lembut.
"Giska mau tinggal di sini, boleh kan Pa?" Giska mendongak dengan wajah sembabnya.
"Papa gak akan melarang, rumah Papa selalu terbuka untuk kamu. Tapi bagaimana dengan Ayah kamu? Dia pasti marah kalau tau kamu balik lagi ke sini."
"Giska mohon, Giska gak mau balik ke rumah itu lagi."
Melihat tatapan memohon Giska membuat Jagat luluh, ia mengangguk. Jagat tau Giska sedang ada masalah, namun ia tak akan memaksa Giska untuk cerita.
Jagat akan menunggu Giska bercerita dengan sendirinya.
"Iya sayang, kamu boleh tinggal di sini, tentang Ayah kamu, biar Papa yang urus," ujar Jagat lembut.
Giska kembali memeluk Jagat. Jagat memang bukan Ayah kandungnya, tapi berada di samping Jagat membuat Giska merasa jauh terlindungi dari pada bersama Gilang.
Jagat lemah lembut dan sangat menyayanginya begitu berbeda dengan Gilang, yang notabenya adalah Ayah kandungnya sendiri.
"Makasih, Papa."
"Jangan bilang Makasih, seharusnya Papa yang bilang gitu, Papa gak akan kesepian di rumah besar ini lagi karna ada kamu."
****
Giska menghela nafas, ia sedang tiduran di kamarnya di rumah Jagat. Bukan kamar pembantu seperti di rumah Gilang. Ini adalah kamar yang mewah, kamar yang Jagat buat khusus untuk Giska.
Terlihat jelas perbedaan cara memperlakukan dari dua ayahnya itu bukan?
Giska menatap ponselnya yang berdering untuk ke sekian kalinya. Sejak kemarin benda pipih itu tak berhenti memberikan nontifikasi,entah itu pesan atau telpon. Gadis itu berdecak kesal. Kapan Andra akan menyerah?
Sebal, akhirnya Giska mengangkat panggilan itu.
"Giska! Kurang ajar banget! kemana aja lo hah?!"
"Ngapain bentak-bentak sih?!" balas Giska ikut berteriak.
Terdengar helaan nafas dari sebrang sana.
"Sorry, gue cuman khawatir sama lo, dua hari lo ngilang gak ada kabar, gue nyari lo ke rumah tapi rumah lo kosong, gue takut lo kenapa-kenapa."
Suara Andra melembut. Giska hanya diam, ia memang sudah dua hari tidak pergi ke sekolah, untuk menghindari Elang, dan juga Aldo yang kemungkinan mencarinya ke sekolah.
"Ndra?" panggil Giska pelan.
"Apa sayang?"
"Kalau seandainya gue pergi, apa yang lo lakuin?"
Andra berdehem pelan, di sebrang sana pria itu merasa lega yang luar biasa seolah beban di pundaknya lenyap karna mendengar suara Giska, dan juga mengetahui jika gadis itu baik-baik saja. Beberapa hari ini Andra di buat overtingking karna tak mengetahui keberadaan gadis itu.
"Gue bakal susul lo lah, emang lo mau pergi ke mana?"
"Kalo gue mati, lo juga bakal nyusul gue?" tanya Giska.
"Ngomong apa sih Gis! Gue tabok lo ya!"
Giska terkekeh. "Kok lo jadi kasar?"
"Sharelock!"
Giska menipiskan bibirnya. Kenapa nada bicara Andra jadi dingin. Giska jarang sekali mendengar pria itu berbicara seperti ini.
"Ndra--"
"Sharelock sekarang Giska!"
"Jangan bentak gue!"
Giska menghela nafas. Ia benci di bentak, tapi Andra malah membentaknya.
"Kirim lokasi lo sekarang!"
"Oke!"