Part 15

669 Words
Jangan jawab pertanyaan cinta gue, kecuali lo udah rasain yang sama. -Andra- ***** "Lo beneran ke sini?" Giska terlihat mematung setelah membukakan pintu untuk Andra. Pintu rumahnya tiba-tiba di ketuk, Giska fikir itu Jagat, jadi dia segera membukanya. Andra membuka kupluk hoodienya dan tersenyum lebar. "Gue kan udah bilang, khawatir sama lo." "Lo bolos?" Giska menelisik penampilan Andra yang masih memakai celana abu-abu. Sekarang Giska paham, lelaki itu mengenakan hoodie untuk menutupi seragamnya, ia pasti menghindari razia pelajar yang akhir-akhir ini sering terjadi. Beberapa anggota polisi sedang melakukan razia besar-besaran untuk pelajar yang membolos sekolah. Di kota mereka sedang marak aksi tawuran, jadi untuk mencegah nya, polisi melakukan razia untuk para pelajar, dan mengamankan mereka sementara di kantor polisi sampai orang tua masing-masing menjemput. "Gue gak bolos, gue cuman pulang lebih cepet." Giska memutar matanya mendengar ucapan Andra. "Sama aja!" Tanpa menunggu persetujuan Giska, Andra berjalan masuk menerobos gadis itu. Andra mengedarkan pandangannya lalu duduk di sofa. "Ini rumah siapa? Kenapa lo ada di sini?" Giska yang masih berada di ujung pintu segera mengjampiri Andra. "Sana pulang, gue gak terima tamu." Andra mendengus. "Gak di rumah lo, gak di sini, selalu gak terima tamu. Padahal gue kan pengen kenalan sama keluarga lo." Andra memajukan bibir bawahnya. Giska hanya memutar matanya jengah. "Ini rumah siapa Gis? Lo belum jawab pertanyaan gue." "Rumah Papa gue," jawab Giska seadanya. "Gue sering anterin lo pulang ke rumah satunya, itu rumah siapa?" "Rumah Ayah gue." Andra terdiam. "Mama lo punya suami dua?" "Kurang ajar!" Giska menggeplak kepala Andra. Andra meringis. "Gue kan cuman nanya, lagian lo gak pernah cerita tentang keluarga lo ke gue." "Buat apa gue cerita ke lo? Emang penting buat lo?" sinis nya. Andra terdiam. Pria itu memutar badannya menghadap Giska. Tangannya terangkat menangkup wajah gadis itu. "Lo harus cerita sama gue, tentang apapun. Gue harus tau itu," ujar Andra tegas. "Kenapa?" "Gue calon suami lo." "Ndra!" Giska memelotoi Andra. Andra terkekeh. Ekspresi Giska sangat menggemaskan. Andra mencium kedua pipi Giska secara bergantian membuat mata Giska kembali melebar. Tangan Giska sudah melayang hendak menampar Andra, namun gerakannya kalah cepat. Andra menahan tangan Giska lalu memeluk Giska erat, membuat Giska terdiam. "Gue kangen, jangan ngilang lagi," ucap Andra seperti merengek. Kepala Giska yang menempel dengan d**a Andra membuat Giska dapat mendengar jelas degupan jantung Andra yang sangat kuat. "Jangan juga bilang pengen pergi, gue gak akan izinin lo, gue pasti akan kejer lo kemanapun lo pergi, meski itu ke ujung dunia sekalipun." "Andra--" "Perasaan gue ke lo serius Gis, gue gak maen-maen. Bahkan kalau lo minta, gue bakal nikahin lo detik ini juga." Tanpa sadar Giska tersenyum. Ucapan Andra terdengar sangat tulus. Giska merasa menyesal. Kenapa dia tak bisa menyukai pria sebaik Andra? "Maaf di telpon tadi gue bentak-betak lo, gue gak bermaksud, gue cuman gak suka lo bahas kematian." ucap Andra. "Mati itu urusan Tuhan, lo jangan ungkit-ungkit atau berencana buat mati ngeduluin gue ya?" ujar Andra. "Kenapa?" "Gue gak mau lo mati duluan, lebih baik gue dulu yang pergi dari pada lo, karna gue yakin gak akan bisa hidup kalau sumber kehidupan gue pergi," ujar Andra. Jika biasanya Giska menganggap ucapan seperti itu sebagai ucapan buaya, namun kali ini berbeda, Giska merasa ada keseriusan dari perkataan Andra barusan. Andra melepaskan pelukannya, ia tersenyum tulus, menatap wajah imut Giska dengan tatapan yang menghanyutkan. "Gue tau lo gak ada perasaan apapun sama gue, tapi tolong kasih gue kesempatan buat bikin perasaan itu muncul secara perlahan di hati lo," Andra menatap Giska dalam. "Jangan hindarin gue, atau nyuruh gue buat ngejauh lagi, bisa kan?" "Ndra--" "Kasih gue satu bulan untuk buat lo jatuh cinta ke gua Gis, kalau gue gagal, gue akan menghilang sendiri dari kehidupan lo, gue janji!" "O-oke." Andra tersenyum. Ia memeluk Giska lagi, mendekap tubuh mungil itu erat. Andra merasa nyaman memeluk Giska. Dan ia ingin lagi dan lagi, Giska selalu menjadi candu untuk Andra. "Gue cinta sama lo, Giska Arabella." "Gue--" "Hm, gua tau, tolong jangan jawab kecuali lo udah cinta juga sama gue." Andra memotong ucapan Giska. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD