Part 16

843 Words
Giska mengatur nafasnya berkali-kali, ia menuruni tangga dengan seragam sekolah baru yang Jagat belikan. Hari ini Giska memutuskan untuk pergi ke sekolah, ia akan menghadapi semuanya. "Giska, sini sarapan dulu!" panggil Jagat di meja makan. Giska mengangguk lalu menghampiri Jagat. "Selamat pagi, Papa." Giska mengecup sekilas pipi Jagat. "Pagi juga anak Papa," jawab Jagat tersenyum manis. "Papa buatin kamu roti panggang, sarapan dulu sebelum sekolah, biar bisa fokus sekolahnya oke," ujar Jagat. Giska mengangguk lalu segera memakan roti buatan Jagat. Ia tersenyum di sela makannya. Giska tau Jagat sangat sibuk, Papanya itu mempunyai beberapa perusahaan yang harus ia tangani sendiri. Tapi Jagat selalu meluangkan waktu untuk hal-hal kecil seperti ini untuknya. Andai saja Gilang memperlakukannya seperti ini. Giska tersenyum miris. Sampai saat ini saja Giska belum mendapat kabar jika Gilang mencarinya. Mungkin pria itu malah senang Giska tidak tinggal di rumahnya lagi. "Assalamualaikum." "Uhuk!" Giska tersedak dan segera meminum s**u yang ada di meja. "Pelan-pelan sayang," peringat Jagat pada Giska yang minum terburu-buru. Giska tak menjawab, ia menoleh pada seorang pria yang kini sudah sampai di hadapan Jagat. "Selamat pagi, om, saya mau jemput Giska," ucap pria itu mencium tangan Jagat. "Pagi juga, Andra." Giska melebarkan matanya. "Papa kenal Andra?" Jagat mengangguk. "Kemarin dia datang ke Kantor Papa, dan memperkenalkan diri sebagai pacar kamu, dia juga izin pada Papa untuk memacari kamu." "Hah?" Giska menatap Andra tak percaya. Pria itu malah menyengir padanya. "Papa setuju sama hubungan kalian sayang, Andra ini lelaki sejati, dia berani meminta izin langsung pada Papa," ujar Jagat membuat Giska kembali terkejut. Astaga! Ini masih pagi hari, tapi mengapa Andra sudah membuatnya hampir terkena serangan jantung? "Sekarang Andra akan jaga kamu di rumah kalau Papa gak ada." "Ta-tapi Pa, kan udah ada satpam, udah ada--" "Ini perintah Giska, keputusan Papa gak bisa di ganggu gugat." Giska menghela nafas. "Yaudah, aku berangkat sekolah dulu ya," gadis itu mencium tangan Jagat lalu segera menarik Andra dari sana. "Ndra, maksud lo apa?" "Aku cuman pengen hubungan kita sah, dengan minta restu sama Papa kamu." Aku-kamu? Giska bergidik. Mengapa gaya bicara Andra jadi seperti itu? "Lo tau dari mana alamat kantor Papa Jagat?" Andra tak menjawab, ia menarik pelan tangan Giska memasuki mobilnya. Andra memutari mobil lalu memasuki bagian kemudi dan mulai menjalankan mesin mobilnya. "Ndra, jawab dulu!" "Jawab apa sayang?" Giska memalingkan wajahnya, ini bukan kali pertama Andra memanggilnya seperti itu, tapi entah mengapa kali ini berhasil membuat pipi Giska memerah. "Lo tau kantor Papa dari mana," ulang Giska pelan. Andra terkekeh. "Mau tau aja, atau mau tau banget?" "Andra!" Giska menggeplak lengan pria itu. Andra terkekeh lagi, beberapa saat kemudian ia menghentikan mobilnya di jalanan yang terlihat sepi, lalu menoleh pada Giska sepenuhnya. Raut wajah Gadis itu masih terlihat kesal. "Kenapa berent--" Giska menoleh kemudian terdiam, ia melihat raut wajah Andra yang terlihat berbeda, pria itu menatapnya intens membuat Giska meneguk ludahnya. "Gis, maaf," ucap Andra pelan. "Maaf buat apa?" Andra meraih pipi Giska lembut dan mengelusnya. "Maaf gue baru tau kalau ternyata selama ini lo menderita." "Maksud lo?" "Gue udah tau tentang keluarga lo, tentang perlakuan om Gilang ke lo, tentang Bunda tiri dan Kakak tiri lo, dan juga... kejadian lo sama Elang malem itu." Giska terdiam. "L-lo tau dari mana?" Andra menghela nafas. "Gue sewa orang buat cari tau semuanya. Lo kenapa gak pernah cerita sama gue Giska? Gue ngerasa bersalah sekarang." Giska tersenyum tipis. Ia tidak tau Andra seniat itu mencari tau tentang kehidupannya hingga menyewa orang. "Bukan salah lo, itu udah takdir gue. Lagipula gue gak semenderita itu kok, masih banyak di luar sana yang nasibnya jauh lebih parah dari gue." Andra terenyuh melihat senyum Giska. Bahkan Giska masih bisa tersenyum di saat dunia kejam kepadanya. "Gue janji, setelah ini gue akan terus jaga lo dan selalu merhatiin lo supaya orang-orang itu gak bisa nyentuh lo lagi." Andra menatap Giska lembut. "Mulai saat ini, lo tanggung jawab gue sepenuhnya." Andra tersenyum hingga kedua lesung pipinya terlihat jelas. Tangannya berpindah dari pipi ke bibir Giska. Andra sudah menahan dirinya namun sepertinya sudah tidak bisa. "Gis, boleh?" tanya Andra pelan seraya mengelus bibir ranum Giska. Giska tak menjawab. Ia menangkap tangan Andra di bibirnya membuat Andra mendesah kecewa. Namun beberapa saat setelahnya Andra merasa kepalanya di tarik hingga langsung berhadapan dengan wajah cantik Giska. "Lo cowok baik, gue bakal izinin lo jadi yang pertama untuk ini," ucap Giska seraya tersenyum. Andra terdiam sebentar lalu balas tersenyum, kemudian ia mendekatkan wajahnya. Bibirnya sudah berada tepat di depan bibir Giska, tinggal sedikit dorongan maka bibir mereka akan menempel sepenuhnya. Jantung keduanya sama-sama berpacu. Andra tersenyum sekali lagi, lalu ia benar benar mencium Giska. Benda basah dan kenyal itu menempel sempurna di bibir Giska. Hanya menempel beberapa saat lalu Andra menarik kepalanya, dan kemudian mendekap Giska. Giska dapat merasakan bahu pria itu bergetar. "Eh, kok lo nangis?" "Gue terharu, lo ngizinin gue ngambil first kiss lo, semoga setelah ini lo juga rela ngizinin gue jadi yang pertama ngambil yang satunya," ucap Andra sambil terisak. Giska menggeram dan langsung menjambak rambut Andra. "KURANG AJAR! GUE FIKIR LO UDAH TOBAT! TERNYATA MASIH i***t s****n!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD