"Giska! Lo harus ke lapangan sekarang!"
Dara tiba-tiba nemasuki kelas sambil berlarian, gadis itu membungkuk, bertumpu pada lututnya, ia sedang mengatur nafas.
"Kenapa?" tanya Giska menghampiri Dara.
"Itu... " Dara masih menormalkan nafasnya yang terputus-putus.
"Itu apa? Jangan bikin penasaran!"
"Andra berantem sama Elang!"
"Hah?!" mata Giska melotot sempurna.
Kemudian dengan cepat Giska berlari menuju lapangan diikuti dengan Dara di belakangnya. Dan benar saja, lapangan outdoor kini sangat ramai, dari sini Giska bisa melihat jelas sosok Andra yang sedang memukul Elang.
Tinggi Andra di atas rata-rata murid lain, Jadi Giska dengan gampang dapat mengenalinya. Segera Giska menembus kerumunan orang-orang itu untuk melihat secara langsung.
Giska menutup mulutnya terkejut, melihat keadaan Elang yang sudah sangat parah, wajahnya babak belur, Elang bahkan sudah tidak bisa menahan beban tubuhnya sendiri.
Seketika ada rasa takut yang muncul melihat Andra memukul Elang dengan membabi buta. Bayangan-bayangan saat ia di pukuli oleh Aldo dan Gilang, terlintas di kepala Giska, membuatnya merasa pusing.
"Ini buat lo yang kurang ajar hampir nyentuh cewek gue!"
Brugh!
Andra memberikan pukulan di perut Elang, ia tidak memberikan kesempatan untuk Elang melawan.
"Andra stop!" Giska memberanikan diri mendekati Andra dan menarik tangan Andra, hingga kepalan tangan yang akan mendarat di wajah Elang itu melayang di udara.
Andra langsung berhenti, amarahnya tiba-tiba berkurang hanya karna mendengar suara Giska.
"Lepas," ujar Andra penuh penekanan.
Giska menggeleng. "Lo gak liat Elang udah sekarat? Lo bisa bunuh dia Ndra!"
"Apa perduli lo? Harusnya lo biarin aja gue mukulin si b*****t ini sampe mati!"
Andra tak sadar membentak Giska. Giska sangat sensitif dengan bentakan, ia langsung terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.
Giska menunduk. "Tapi, gue gak mau lo masuk penjara karna bunuh dia," ucap Giska pelan bahkan terdengar seperti bisikan.
Andra menghela nafas. "Maaf, gue gak maksud bentak lo," ucapnya melembut.
Tatapan Andra beralih pada Elang yang sudah tersungkur di lantai lapangan. "Urusan kita belom selesai!" ujarnya tajam.
Nada bicara Andra sangat menyeramkan, tatapannya juga sangat tajam. Selama mengenal Andra, Giska baru kali ini melihat pria itu seperti ini. Giska hanya tau Andra si i***t yang selalu menampilkan raut wajah konyol.
Giska tidak tau jika pria itu juga memiliki sisi menyeramkan seperti ini, bahkan sangat menyeramkan.
"Ikut gue!" Andra manarik tangan Giska keluar dari kerumunan orang-orang yang sejak tadi menyaksikan perkelahian dirinya dan Elang.
Dara yang sedari tadi berada di belakang Giska berjongkok, menatap Elang prihatin. Dara sudah tau semuanya dari Andra, dia tau Elang hampir menghancurkan Giska.
Dara benci Elang yang ingin merusak temannya, namun ia juga masih punya sisi kemanusiaan untuk tidak membiarkan Elang tergeletak begitu saja di sini dengan keadaan yang mengenaskan.
"Lo gak papa?"
Pertanyaan bodoh. Dara mengutuk dirinya sendiri. Jelas Elang sedang babak belur dan hampir kehilangan kesadarannya, namun ia malah bertanya seperti itu.
Elang terbatuk, Dara memekik terkejut, Elang memuntahkan darah. Sekarang Dara jadi ngeri membayangkan sekuat apa pukulan yang Andra berikan tadi.
Dara baru tau jika Andra yang bucin pada temannya itu, sangat handal berkelahi hingga membuat lawannya sakarat seperti ini.
"Gue bantu!" Dara membantu Elang yang berusaha berdiri lalu membopongnya ke UKS.
****
"Aldo!"
Aldo yang sedang berjalan menuju mobilnya menoleh. "Kenapa?"
"Lo harus bawa Giska balik ke rumah secepatnya, sebelum om sama tante balik dari liburan."
Aldo menatap Sania kesal. Sania adalah adalah sepupu jauhnya yang kebetulan sedang berkunjung di saat yang tidak tepat seperti ini.
Di saat Giska kabur dan di saat orang tuanya sedang berlibur, Aldo dan Viona merencanakan liburan mereka supaya Gilang tidak ikut campur dengan rencana yang Aldo buat untuk Giska.
Namun ternyata Aldo gagal, dan Giska lari hingga Aldo harus mengganti rugi pada pria yang sudah menyewa Giska. Yang tak lain adalah Elang.
Aldo sudah pusing mencari Giska, namun kehadiran sepupu cerewet nya ini membuatnya semakin sakit kepala. Aldo sudah berulang kali mencari Giska di sekolah, namun gadis itu tak ada. Aldo tidak tau di mana keberadaan Giska sekarang.
"Lo tenang aja, gue akan temuin dia secepatnya."
"Bagus, setelah itu gue akan bantu lo hancurin dia. Buat dia retak dan terbelah berkeping-keping, bahkan kalau bisa sampe dia ngerasa gak kuat dan mutusin bunuh diri."
Aldo tersenyum mendengar ucapana Sania. Sania memang cerewet namun gadis itu punya sisi s***s dan kejam yang tak bisa di ragukan.