Pagi hari datang bersama matahari yang malu-malu muncul di balik tirai awan. Pondok kayu kecil itu masih terasa hangat oleh sisa percakapan dan sentuhan semalam.
Arina terbangun lebih dulu.
Ia menatap wajah Arsen yang masih terlelap di sebelahnya. Wajah dingin itu tampak lebih damai saat tidur. Rambutnya berantakan. Napasnya pelan. Dan senyap itu terasa menenangkan.
“Apa yang sebenarnya terjadi semalam?” batinnya.
Tangan Arina menyentuh bibirnya sendiri. Ciuman itu bukan hanya fisik. Ada rasa di dalamnya. Sesuatu yang perlahan tumbuh, tanpa bisa dihentikan.
⸻
Beberapa jam kemudian – Kembali ke rumah
Sepanjang perjalanan pulang, Arsen nyaris tidak bicara. Hanya sesekali mengangguk atau menjawab pendek. Suasana canggung menggantung di antara mereka.
Arina tahu dia pun merasa hal yang sama.
Ciuman itu mengubah segalanya.
Saat sampai di rumah, Arina bersiap turun dari mobil, tapi suara Arsen menahannya.
“Arina..”
Arina menoleh. Jantungnya berdebar.
Arsen terlihat ragu. Tangannya masih menggenggam kemudi, tapi suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.
“Jangan terlalu berharap..”
Deg.
Kalimat itu jatuh seperti hujan di tengah padang yang mulai berbunga.
“Aku belum bisa memberikan apa yang kau harapkan. Hati ini belum sepenuhnya siap,” lanjutnya.
Arina mengangguk pelan, berusaha tersenyum. “Aku tidak berharap apa-apa.”
Bohong.
Tentu saja ia berharap. Tapi ia tahu, terlalu memaksa Arsen hanya akan menghancurkan keduanya.
⸻
Malam hari
Arina duduk di balkon, menatap langit malam sendirian. Ia memeluk lututnya, mencoba mengatur napas yang terasa berat.
Ia tahu perasaannya sudah mulai berkembang.
Tapi ia juga tahu Arsen masih terikat pada masa lalu yang belum ia pahami.
“Kenapa aku harus jatuh cinta pada pria yang tak bisa kucintai?” bisiknya.
Dan di balik jendela kamar atas Arsen berdiri, memperhatikannya dalam diam.
Matanya menyiratkan satu hal. Dia juga mulai merasakan sesuatu. Tapi dia takut.