Hari ini, Arina harus menghadiri acara amal dari yayasan milik keluarga besar Arsen. Meskipun Arsen tidak ikut, dia menyuruh supir untuk mengantar Arina ke lokasi di luar kota.
Tapi yang tidak direncanakan adalah mobil mereka mogok di tengah jalan pedesaan, dan hujan deras mengguyur tanpa ampun. Supir berusaha memperbaiki mesin sementara Arina menunggu di dalam, menggigil karena dingin dan panik.
Beberapa menit kemudian..
Sebuah mobil hitam mewah berhenti di belakang mereka. Dari dalam mobil itu.. Arsen turun dengan wajah dingin dan basah kuyup.
“Masuk!” katanya pendek, membukakan pintu belakang untuk Arina.
Arina kaget. “Kau.. datang?”
“Supirmu melapor padaku. Aku tak bisa membiarkanmu terjebak di sini.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arina masuk ke mobil. Bajunya sudah basah sebagian. Dan Arsen duduk di sebelahnya, tangan menggenggam kemudi dengan kuat, rahangnya mengeras.
Hujan semakin deras, hingga jalanan hampir tak terlihat. Tapi entah bagaimana.. Arsen menyetir dengan tenang.
“Kenapa kamu repot-repot datang sendiri?” tanya Arina akhirnya.
“Karena aku suamimu,” jawabnya tanpa menoleh.
Deg.
Untuk pertama kalinya, kata itu terasa nyata.
⸻
Beberapa menit kemudian
Mobil berhenti di sebuah rumah kayu kecil di pinggir jalan pondok darurat milik keluarga Arsen untuk keperluan perjalanan darurat.
“Tempat ini lebih aman sampai hujan reda,” jelas Arsen.
Arina hanya mengangguk, menggigil karena pakaian basah. Melihat itu, Arsen langsung membuka koper darurat di sudut ruangan dan melemparkan selimut serta pakaian ganti.
“Ganti bajumu. Nanti kau sakit,” katanya dengan nada tenang tapi tegas.
⸻
Malam itu
Mereka duduk berdua di dekat perapian yang kecil. Udara masih dingin, tapi suasananya berbeda. Hangat. Dekat. Sunyi.
Arina melirik Arsen dari samping. Cahaya api membuat wajahnya terlihat lebih lembut. Lelaki itu diam saja, namun matanya menatap api dengan pandangan penuh kenangan.
“Aku.. berterima kasih karena kau datang,” bisik Arina.
Arsen menoleh. Mata mereka bertemu.
Lalu..
Arsen perlahan meraih tangan Arina. Tangannya hangat, besar, dan kuat.
“Aku tak suka melihatmu bersama pria lain. Bahkan Rian sekalipun,” katanya pelan.
Arina terpaku. Hatinya berdetak kencang.
“Aku juga.. tidak tahu kenapa aku merasa seperti itu,” lanjut Arsen. “Tapi saat aku tahu kau terjebak hujan, aku tak bisa duduk diam.”
Hening.
Detak hujan. Napas berat. Tatapan yang tak berpaling.
Dan saat itu juga tanpa aba-aba, Arsen perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Arina.
Mata mereka bertaut.
“Kalau kau tak nyaman.. aku akan berhenti,” bisik Arsen.
Tapi Arina tidak menolak. Ia tidak menjauh. Justru sebaliknya, ia memejamkan mata pelan dan dalam hitungan detik.
Bibir mereka bertemu.
Lembut. Hangat. Perlahan. Tapi.. intens.
Sebuah ciuman yang tidak penuh nafsu tapi penuh rasa.
Pertama kalinya mereka melepas tembok.
Pertama kalinya mereka saling mengizinkan untuk merasa.