Pagi itu, Arina menghabiskan waktunya di taman belakang rumah. Setelah kejadian semalam, ia merasa butuh udara segar dan juga jarak.
Ia masih bisa merasakan hangatnya pelukan Arsen semalam. Pelukan yang tiba-tiba dan tak bisa dijelaskan. Tapi pagi ini, pria itu sudah kembali ke dirinya yang biasa. Dingin. Sibuk. Diam.
Arina menghela napas, lalu menunduk pada bunga mawar yang sedang ia tanam.
Tiba-tiba
“Arina?”
Suara laki-laki asing membuatnya menoleh cepat.
Seorang pria muda, berpakaian kasual rapi dengan kacamata tipis, berdiri di sisi pagar taman. Ia tersenyum ramah, membawa koper kecil di tangannya.
Arina sempat bingung, tapi pria itu cepat memperkenalkan diri.
“Aku Rian. Sekretaris pribadi Pak Arsen. Hari ini aku diminta mengantarkan beberapa dokumen untuk ditandatangani.”
“Oh! Silakan,” jawab Arina gugup. “Maaf, saya tidak tahu jadwalnya.”
Rian hanya tertawa kecil. “Tak apa. Saya malah kaget melihat istri Pak Arsen ada di taman sepagi ini. Biasanya rumah ini sepi banget.”
Mereka tertawa ringan. Arina merasa nyaman. Rian ramah, tidak kaku seperti orang-orang lain di rumah itu. Dan percakapan itu mengalir begitu saja.
Namun dari jendela lantai atas, Arsen berdiri diam, memperhatikan keduanya dari balik tirai.
Mata pria itu menyipit.
Malam Hari
Saat makan malam, Arina duduk seperti biasa. Arsen menatap piringnya, tidak bicara sepatah kata pun. Suasana kembali dingin.
“Terima kasih untuk selimut semalam,” ucap Arina hati-hati.
Arsen tidak langsung menanggapi. Tapi matanya terangkat sebentar.
“Rian datang ke taman hari ini?” tanyanya akhirnya.
“Oh. Iya, dia hanya mengantar dokumen. Lalu kami mengobrol sebentar.”
“Hm.”
Satu kata. Datar. Tapi nadanya berbeda.
Arina menoleh, mencoba membaca ekspresinya.
“Kenapa?” tanyanya pelan.
Arsen tidak menjawab langsung. Ia hanya menusuk potongan daging di piringnya dengan sedikit lebih keras dari biasanya.
“Kau terlihat sangat nyaman berbicara dengannya.”
Arina mengernyit. “Kami hanya berbicara. Apa itu salah?”
Arsen menatapnya, tatapan tajam yang biasanya penuh logika kini berubah. Ada sesuatu di matanya. Bukan marah. Tapi tidak suka?
“Kau tidak tahu banyak tentang orang-orang di sekitarku, Arina. Termasuk Rian.”
Arina merasa ada ketegangan aneh.
“Arsen kau cemburu?”
Arsen memalingkan wajahnya.
“Tidak,” katanya pelan. Tapi Arina bisa merasakan itu bohong.
Malam itu
Arina tersenyum kecil di depan kaca kamar.
Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi antara mereka. Tapi satu hal pasti. Arsen mulai merasa sesuatu.
Dan itu mungkin akan menjadi masalah.
Atau awal dari sesuatu yang baru.