Hujan belum juga reda sejak kemarin. Langit mendung, udara lembap, dan dingin menembus dinding rumah besar itu. Arina memeluk tubuhnya saat keluar dari kamar, mengenakan cardigan tipis.
Listrik tiba-tiba mati.
Arina menjerit kecil saat lampu kamar padam, disusul suara detik-detik jam dinding yang kini terdengar jelas. Ia melangkah keluar, koridor terasa lebih gelap dari biasanya.
“Ini rumah besar, tapi sistem listriknya kayak rumah tua,” gumamnya, berusaha menenangkan diri.
Langkah pelannya membawanya ke ruang keluarga, tempat di mana ia melihat cahaya lilin kecil menyala di atas meja.
Dan di sana duduklah Arsen.
Dia mengenakan sweater abu-abu dan celana santai, rambutnya sedikit berantakan. Cahaya lilin membuat bayangan wajahnya tampak lebih lembut dari biasanya.
“Kau takut gelap?” tanyanya pelan.
Arina menggeleng. “Tidak terlalu. Tapi rumah ini terasa lebih besar saat lampunya mati.”
Arsen tidak menjawab. Hanya menatap nyala lilin dengan pandangan kosong. Arina memperhatikan, lalu berkata, “Kalau mau, aku bisa bantu nyalakan lilin-lilin di koridor.”
“Tak perlu,” katanya. “Aku suka gelap. Kadang lebih jujur dari cahaya.”
Arina terdiam. Kalimat itu entah kenapa membuat dadanya terasa sesak.
“Kau kedinginan?” tanya Arsen lagi, menatap cardigan tipis yang dikenakan Arina.
“Sedikit. Tapi tak apa”
Belum sempat ia selesai bicara, Arsen berdiri, melepas selimut wol dari sandaran sofa, dan meletakkannya di pundak Arina.
Jantung Arina hampir berhenti.
Sikapnya cepat, dingin, dan anehnya, hangat.
“Terima kasih” bisik Arina.
Untuk pertama kalinya, jarak mereka hanya sejengkal. Dan saat Arina mengangkat wajahnya, ia mendapati Arsen menatapnya bukan dengan dingin, tapi seolah ia sedang menahan sesuatu.
Arina tahu ini gila. Tapi malam itu, dalam keheningan dan gelapnya ruang tamu, pria itu mengangkat tangannya, menyentuh rambut Arina pelan, lalu memeluknya.
Bukan pelukan penuh gairah. Bukan juga pelukan cinta. Tapi pelukan yang sunyi. Sepi. Seperti seseorang yang terlalu lama sendirian dan butuh kehangatan tanpa harus menjelaskan kenapa.
Arina membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan itu. Ia tidak bertanya. Tidak bicara. Karena ia tahu ini bukan tentang cinta.
Ini tentang dua orang asing yang sama-sama dingin. Sama-sama hancur. Sama-sama sendiri.
Dan malam itu, tubuh mereka mungkin masih jauh.
Tapi hati mereka mulai saling melongok dari balik dinding yang rapuh.