Suara hujan yang turun sejak sore membuat rumah besar itu semakin sepi. Arina duduk di ruang tengah dengan buku di pangkuannya, tapi pikirannya entah ke mana. Suara petir membuatnya sedikit tersentak, dan saat itulah ia menyadari, rumah itu terlalu sunyi tanpa suara manusia lain.
Di lantai atas, Arsen belum keluar kamar sejak pulang kantor. Biasanya, suara langkah kakinya terdengar setiap pukul tujuh malam, menandakan ia turun makan malam sendirian.
Tapi kali ini, tidak ada.
Arina berdiri pelan. Ia ragu. Tapi entah dorongan dari mana, kakinya melangkah ke atas, menyusuri koridor yang panjang dan sepi. Hujan mengguyur jendela dengan keras. Ada perasaan tak nyaman mengendap di hatinya.
Tiba-tiba
“AARRGH!!”
Sebuah jeritan pendek terdengar dari salah satu kamar di ujung.
Arina terkejut. Itu suara Arsen!
Tanpa pikir panjang, ia berlari ke sana dan mendapati pintu kamar utama terbuka sedikit. Sesuatu yang sebelumnya dilarang keras olehnya.
“Arsen?” panggil Arina pelan, mendorong pintu dengan hati-hati.
Kamar itu gelap, hanya diterangi cahaya kilat dari luar jendela. Dan di sana, ia melihat Arsen terduduk di lantai, satu tangan menutup wajahnya, tubuhnya gemetar pelan. Di sekelilingnya, berserakan foto-foto lama. Foto seorang wanita dan seorang anak kecil.
Arina tak berani melangkah masuk.
Namun Arsen menoleh pelan, menyadari kehadirannya. Matanya merah, napasnya berat. Tapi bukan marah lebih seperti luka lama yang terbuka kembali.
“Kau tak seharusnya masuk,” katanya lemah, berbeda dari biasanya.
“Aku mendengar suara” Arina terdiam, ragu. “Aku hanya khawatir.”
Arsen tertawa miris. “Khawatir? Kau bahkan tak mengenalku.”
“Benar,” jawab Arina jujur. “Tapi bukankah sekarang kita hidup di bawah atap yang sama? Aku tidak bisa diam jika seseorang sedang terluka.”
Keheningan menggantung.
Arsen akhirnya bangkit, mengambil semua foto di lantai dan menyimpannya kembali ke dalam kotak kayu tua. Lalu ia menatap Arina.
“Pergilah. Aku tak ingin membicarakan masa lalu.”
Arina mengangguk pelan. Ia paham. Belum saatnya. Tapi setidaknya, ia tahu satu hal. Arsen menyimpan luka. Dan luka itu terlalu dalam hingga membuatnya membangun dinding tinggi di sekeliling dirinya.
Di kamar
Arina menatap langit-langit dengan mata terbuka.
“Aku ingin tahu, siapa wanita dan anak itu dalam foto?”
Namun lebih dari itu, Arina sadar untuk pertama kalinya, ia merasa ingin mengenal pria itu lebih dalam.