Pagi itu, Arina bangun lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena tidurnya tak pernah benar-benar nyenyak sejak menempati rumah ini. Rumah yang terlalu besar, terlalu sunyi dan terlalu dingin.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian santai, ia berjalan pelan ke dapur. Niatnya hanya ingin membuat secangkir teh untuk diri sendiri. Tapi langkahnya terhenti saat melihat sosok Arsen berdiri di dekat taman belakang rumah, menatap ke arah pepohonan.
Dia tak mengenakan jas seperti biasanya. Hanya kaus abu-abu polos dan celana panjang kain. Tanpa sepatu. Tanpa jam tangan mahal. Seperti manusia biasa.
Dan lebih mengejutkan lagi..
Seekor kucing kecil berbulu oranye sedang duduk di dekat kaki Arsen, menggosokkan tubuhnya ke kaki pria itu.
Arsen jongkok perlahan, lalu mengulurkan tangan, menepuk kepala kucing itu dengan lembut. Hampir seperti senyum kecil muncul di wajahnya. Sekilas. Sangat tipis. Tapi cukup untuk membuat Arina terdiam di ambang pintu.
Dia tersenyum?
Arina tak sadar bahwa ia memandangi pria itu cukup lama, sampai akhirnya Arsen berdiri dan berbalik.
Tatapan mata mereka bertemu.
Kaku. Canggung. Dan diam.
“Sejak kapan kamu di situ?” tanya Arsen dengan nada datar, tapi tak setegang biasanya.
Arina tergagap. “A-aku.. baru saja keluar. Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu.”
Arsen tidak berkata apa-apa. Ia hanya menoleh sebentar ke arah kucing itu yang kini bergulung di sudut teras.
“Namanya Bumi,” katanya singkat. “Dia datang sendiri dua minggu lalu. Aku suka dia karena dia tidak berisik.”
Arina hampir tersenyum mendengarnya. Bumi. Nama yang indah.
“Kau suka binatang?” tanyanya pelan.
Arsen menatapnya sebentar. “Tidak juga. Tapi.. dia tidak mengganggu.”
Lalu ia masuk ke rumah begitu saja.
Arina berdiri di sana, memandangi pintu yang tertutup di belakang pria itu.
Malam Hari
Arina duduk di balkon kamarnya, menatap bintang-bintang yang jarang terlihat dari kota. Ia memikirkan Arsen. Bukan CEO dingin dan keras itu, tapi pria yang tadi pagi menyentuh seekor kucing dengan penuh kasih.
Ada sisi lain dari dirinya.
Sisi yang tersembunyi. Terkunci rapat.
Dan entah kenapa.. Arina ingin melihat lebih banyak.