Arina melirik pantulan dirinya di cermin panjang kamar. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membenarkan letak kerah blus putih yang sederhana tapi sopan. Tak ada alasan untuk berdandan berlebihan. Ini hanya makan malam bersama suaminya sendiri. Tapi anehnya, d**a Arina terasa berat.
Tadi sore, salah satu asisten rumah tangga menyampaikan pesan dari Arsen:
“Bersiaplah pukul tujuh. Kita akan makan malam bersama tamu dari keluargaku.”
Itu saja. Dingin. Formal. Tanpa penjelasan.
Dan sekarang, Arina melangkah ke ruang makan dengan langkah pelan, seperti seseorang yang hendak masuk ruang ujian. Ruang makan itu sangat besar, dihiasi lampu gantung kristal dan meja panjang berisi tiga kursi yang ditata rapi.
Arsen sudah duduk di ujung meja. Wajahnya tanpa ekspresi, seperti biasa. Namun kali ini, ada seorang wanita anggun bergaun biru duduk di sebelahnya, seorang wanita paruh baya dengan perhiasan mewah dan tatapan tajam.
“Selamat malam,” Arina menyapa pelan sambil menunduk sopan.
Wanita itu menatapnya dari atas ke bawah, lalu tersenyum kecil, tapi bukan senyum hangat. Lebih seperti senyum menilai.
“Jadi ini istrimu, Arsen?” tanya wanita itu. “Kau tak bilang dia masih sangat muda.”
Arsen hanya mengangguk kecil. “Ini Arina. Istriku.”
Arina nyaris menahan napas saat mendengar kata itu dari bibir Arsen. “Istriku.”
Tapi suaranya terlalu datar, seperti menyebutkan status pegawai.
“Aku Tante Livia,” ujar wanita itu akhirnya. “Adik dari mendiang ibunya Arsen.”
Arina mengangguk. “Senang bertemu dengan Tante.”
Mereka mulai makan dalam diam. Sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Arina berusaha tidak membuat suara. Tapi entah kenapa, setiap gerakannya terasa salah. Ia bahkan tak bisa menikmati sup krim hangat di depannya.
“Jadi, bagaimana rasanya menikah dengan pria sepertinya?” tanya Tante Livia tiba-tiba sambil melirik ke arah Arsen yang tetap diam.
Arina tersedak sedikit, buru-buru meneguk air putih. “Eh, kami… baru mulai beradaptasi, Tante.”
Tante Livia tersenyum sinis. “Pasti sulit. Arsen ini terlalu banyak aturan sejak kecil.”
“Aku hanya tidak suka keributan,” jawab Arsen dingin.
“Justru itu. Kau butuh istri yang bisa melembutkan sudut tajammu.”
Tatapan Tante Livia berpindah ke Arina. “Kau harus kuat. Jangan lari sebelum waktu kalian habis.”
Waktu habis? Apa dia tahu soal kontrak itu?
Arina hanya mengangguk kecil, berusaha menyembunyikan gugup yang mulai merayap di dadanya. Makan malam itu berakhir tanpa kehangatan, hanya formalitas dan tatapan-tatapan tajam yang seolah menguji ketulusan Arina.
Tapi saat ia bangkit dari kursi dan hendak kembali ke kamarnya, Arsen tiba-tiba berbicara.
“Arina,” katanya pelan.
Arina menoleh.
“Mulai besok, kamu tak perlu menunggu perintah untuk makan. Anggap rumah ini… rumahmu juga.”
Arina terdiam.
Itu bukan kalimat romantis. Tapi.. untuk pertama kalinya, suara Arsen terdengar lebih hangat dari biasanya.
Mungkin hanya satu derajat. Tapi itu cukup untuk menggetarkan sesuatu dalam dirinya.