Sebuah Ancaman

1968 Words

Adel menoleh menatap Adit dalam diam. Matanya begitu kosong dan sedih, Adit sampai tidak tega melihatnya. “Adel,” Sapa Adit. “Saya sudah bilang saya ingin sendiri.” Ucapnya dengan lemah. “Kamu kenapa?” Adel tidak menjawab, dia kemudian beranjak dari kursi Taman dan berjalan masuk ke kosannya. Untungnya Adit mengikutinya dari belakang, dia bisa melihat kekasihnya begitu rapuh dan lemah, apa yang sebenarnya terjadi? Dia tidak biasanya seperti ini. Gadis ceria yang ia kenal hilang dalam semalam.  Adel melepas tasnya dan duduk di sisi tempat tidur. Kosan Adel memang hanya ada kasur dan lemari, tidak banyak. Uang gaji Adel lebih banyak di tabung dan di berikan untuk keperluan panti. Dia sadar kalau panti asuhan tempatnya tumbuh masih banyak kekurangan dan butuh untuk dibantu. Jadi dia den

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD