Perhatian Tak Terduga

1871 Words
Keesokan paginya badan Adel makin tidak enak, dia demam, pusing dan mual. Sepertinya dia kelelahan karena sejak kemarin tidak mendapat istirahat yang cukup. Namun dia tetap masuk kerja karena merasa masih kuat, dia juga kasihan. Kalau tidak masuk maka yang dinas akan berkurang dan mereka akan keteteran. "Udah Del ke dr umum gih, berobat atau ke IGD gih." Seru Mba Lia. "Nggak mba, ntar aja. Saya masih kuat kok." "Terserah lah Del kamu yang ngerasain." Mba Lia akhirnya menyerah, sejak tadi dia menyuruh Adel untuk berobat karena wajahnya pucat dan dia demam. Tapi sama sekali tidak digubris, dia juga memaksa untuk bekerja padahal jika sakit dan dipaksakan akan menambah parah keadaannya. Setelah selesai dinas Adel langsung pulang untuk istirahat. Dia minum parasetamol untuk menurunkan demamnya. Dia tidur sampai malam karena badannya lemas, kepalanya juga sangat pusing. Dan saat dia bangun demamnya tidak turun juga, dia benar-benar tidak punya tenaga. Tika masih di kantor dan belum pulang. Adel tidak enak jika harus merepotkan keluarga Tika, sedangkan Adit baru sampai di Kalimantan. Lalu tanpa diduga tiba-tiba handphonenya berbunyi dan Bu Sella yang menelpon dia. "Hallo Adel." Tutur Sella menyapa dengan ramah. "Hhheeehh, iya Bu kenapa?" Suara Adel lemas dan serak. Dia juga terbatuk beberapa kali. "Kamu kenapa Del, sakit?" Sella yang awalnya menelpon hanya ingin menanyakan kabar ternyata mendapati kalau Adel sedang sakit. Firasat seorang Ibu memang tidak pernah salah. "Iya, Adel lagi nggak enak badan Bu." Tangannya begitu lemas, sampai-sampai ponsel yang ia pegang terjatuh. "Sudah berobat? Del hallo Adel..." Tiba-tiba telpon terputus. Demam Adel semakin tinggi dia bener-benar tidak kuat. Sella sangat khawatir dengan keadaan anaknya. Tanpa berpikir lagi, dia langsung pergi ke kosannya, dan benar saja Adel sudah sangat lemas badannya penuh keringat. Dia hampir saja pingsan. Adel akhirnya langsung di bawa ke rumah sakit, dan di infus di IGD. "Sepertinya Adel kelelahan Bu, dari gejala yang tumbul kemungkinan tifus dan ada radang tenggorokan juga. Kita tunggu hasil lab dulu untuk lebih pastinya." Tutur dokter tersebut, dokter yang sama yang menangani Sella di IGD kemarin "Iya makasih ya Dok, tuh Del kamu kecapekan." Seru Sella pada Adel yang masih tergolek lemas. "Del, mau di rawat ya?" Tanya Dokter tersebut pada Adel. Adel menggelengkan kepala, "Gausah Dok rawat jalan saja." Tutur Adel yang tidak suka dirawat. Dia lebih baik di rumah dari pada harus di rawat. "Yaudah, minum obatnya makan yang bener ya. Ini saya kasih surat izin untuk tiga hari." Ucap sang Dokter. "Oh ya, Dok Adel alergi antibiotik golongan sefalosporin." Tutur Sella keceplosan. Dia sudah panik dan tidak memikirkan hal lain lagi. Adel mengerutkan dahi bingung mendengarnya, karena masih lemas hal itu diabaikan oleh Adel. Setelah dua jam di IGD, Adel akhirnya diijinkan pulang. Sella begitu khawatir dengan keadaan anaknya karena di kosan sendirian. Dia akhirnya memutuskan untuk menemani Adel sampai pagi. "Makasih banyak Bu, kalau Ibu mau pulang nggak apa-apa saya bisa sendiri." "Kamu ini masih sakit juga, sudah Ibu menginap di sini malam ini. Anggap saja kita impas." “Saya biasa sendiri kok Bu, sejak kecil kalau saya sakit saya hanya tinggal minum obat lalu sembuh.” Deg….. Rasanya itu bagai tamparan keras untuk Sella, dia tidak pernah ada saat Adel membutuhkannya. Matanya berlinang untuk sesaat, namun dia menahannya dengan sekuat tenaga. Semoga dengan begini dia bisa memperbaiki kesalahannya. “Jangan keras kepala, tubuhmu itu butuh istirahat.” Adel lalu Tersenyum "Hmm,” Hanya itu jawaban yang ia berikan, sebelum akhirnya dia tertidur dengan pulas setelah meminum obat. Sella menghela napas melihat Adel, dia tersenyum lalu membelai rambut anaknya lembut. Tapi dia tidak bisa larut dalam kesedihan, ini semua salahnya. Dia yang telah membuat anaknya menderita, dia tidak pantas untuk mendapatkan maaf darinya. Memindai seisi ruangan, kamar Adel sedikit berantakan. Karena mungkin dia tidak sempat merapikannya. Sella lalu mencoba merapikan kamar sang anak, buku, baju-baju semua ia bereskan. Kamarnya ia sapu dan sampah ia buang keluar. Setelah selesai, baru ia tidur di sebelah Adel. ****             Irwan beberapa kali menghubungi Sella namun tidak diangkat. Dia menghela napasnya sambil berpikir, sejak kemarin anaknya itu bersikap sangat aneh. Dia sering pergi dari kantor tanpa alasan dan sering pulang telat. Dia juga terlihat gugup.             “KARIM,” Teriak Irwan pada anak buahnya.             “Iya Pak.”             “Di mana Sella?”             “Saya kurang tahu Pak, tadi dia pergi terburu-buru.”             “Bodoh. Kamu cari sekarang dimana dia.”              “Baik.” Karim langsung pergi. ****             Pagi-pagi sebelum Adel bangun, Sella sudah membuatkan bubur untuk Adel yang tertidur lelap. Bubur itu sepenuh hati ia buat dengan segala rasa yang ia tahu. Wajah Adel persis seperti ayahnya, andaikan saat itu dia tidak bodoh pasti mereka sudah hidup bersama dan bahagia sekarang. Wangi bubur tersebut ternyata sukses membuat Adel terbangun dari tidurnya. "Hhooaaammm," Adel membuka matanya dan menguap dengan dalam. Dia begitu menikmati tidurnya malam itu. Rasanya tubuhnya kembali bugar dan dia sudah tidak merasakan mual atau pusing. Hanya tinggal lemas dan perutnya saja sakit. "Udah bangun? Gimana udah enakan? Masih mual?" Tanya Sella bertubi-tubi khawatir. "Udah enakan kok, Ibu masak apa?" "Bubur, buat kamu nih, Biar perutnya nggak sakit." "Hhmmm, baunya enak banget. Adel cobain ya." Disendoknya bubur tersebut ke mulutnya. "Gimana enak nggak?" Tanya Sella antusias, jarang-jarang dia masak dengan sepenuh hati seperti ini. "Hhhmm enak bu, seger. Wah langsung sembuh ini kayaknya Adel." "Bagus deh, “ Ujar Sella. Adel kemudian melontarkan pertanyaan dengan ragu-ragu, “Semalam, Ibu tahu dari mana kalau saya alergi antibiotik golongan sefalosporin?” “Oh itu, kemarin Ibu sempat ke farmasi dan mereka yang memberitahunya.” Sella sedikit panik, “Memangnya kamu tidak pernah berobat di sana Del, sampai di status medis kamu tidak tercantum?” Adel menggeleng, “Ini pertama kalinya saya masuk ke IGD RS tempat saya bekerja, kalau sakit biasanya ke klinik atau tinggal minum obat sembuh.” “Dasar, yasudah kalau gitu Ibu pulang dulu ya mau kerja juga. Tadi Ibu sudah bilang sama teman kamu, Tika buat jagain kamu. Jaga kesehatan." Tutur Sella lega.           "Oh iya Bu, maaf sudah ngerepotin sampai bikin bubur begini." Ucap Adel sambil tersenyum. Dia kemudian bangkit ingin mengantar Sella menuju pintu. "Sudah kamu istirahat saja. Assalamualaikum." Sella dengan cepat pergi, takut telat sampai kantor. "Walaikumsallam." Tika yang heboh lalu datang ke kamar Adel dan memeluknya. "Adel cayaanngg, unncch atit ya sini sini." Ledeknya pada sang teman. "Ih apaan sih lo." Seru Adel geli melihat kelakuan temannya itu. "Udah nggak demam kan? Perutnya masih sakit?" "Masih mual sedikit." Ucap Adel sambil meneruskan makan buburnya. Ponsel Adel tiba-tiba berdering, Tika yang melirik melihat nama Adit muncul di sana. "Eh Pak Adit ya, sini gue angkat." Tika dengan cepat merampas handphone Adel. "Hallo Pak Adit." Jawab Tika dengan manis manja. "Hallo ini siapa ya? Adelnya mana?" Suara Adit tegas dan terdengar kebibungan. "Adelnya lagi sakit  nggak bisa di ganggu." Seru Tika "Hah sakit apa??" Tanya adit terkejut, pantas dia susah sekali menghubungi kekasihnya itu "Sini," Adel akhirnya mengambil handphonenya kembali. "Nggak kenapa-napa kok Pak udah enakan." "Eh kamu sakit apa? Udah berobat?" "Iya semalem sudah berobat, saya sudah mendingan kok" Mendengar itu Adit baru mendesah lega, "Yasudah istirahat saja makan yang benar saya akan langsung kesana setelah sampai Jakarta." "Nggak usah repot-repot pak..." Belum selesai Adel bicara, Adit sudah memotongnya. "Sampai ketemu." Handphonenya langsung di matikan. "So sweet banget ya Pak Adit itu, tunggu-tunggu. Lo udah jadian ya sama dia?" Tanya Tika yang baru sadar kalau mereka saling perhatian seperti orang yang berpacaran. "Ahuh.” Ucap Adel sambil mengangguk "Beneran?" Seru Tika yang tidak sabar mendnengar penjelasan temannya. "Iya." "Argghh gue seneng deh, bener kan lo cinta juga sama dia?" Tutur Tika kegirangan. Adel mengangguk "Jangan iri ya." Ledeknya. "Enak aja nggak iri gue woy. Eh ngomong-ngomong Ibu tadi baik banget sama lo yak? Siapa sih?" "Iya, gue kenal dia pertama kali karena dia pernah gue bawa ke IGD waktu tertabrak motor. Dia juga sering ngasih hadiah buat panti asuhan dari gue kecil " "Bisa kebetulan gitu ya Del." Seru Tika asal ceplos. "Iya juga ya." Perkataan Tika membuat Adel berpikir panjang dan kemana-mana. Panti asuhan, Rumah Sakit dan sekarang ketika dia sakit Sella juga ada bersamanya. Apa iya kebetulan? Kalau tidak, kenapa dia selalu ada disekitar Adel? ****             Adit yang panik setelah mendengar Adel sakit langsung menghentikan rapat dan membeli tiket penerbangan tercepat ke Jakarta. Seluruh dewan Direksi tercengang karena Adit meninggalkan ruang rapat begitu saja. Untungnya Adam yang sigap selalu siap ketika atasannya membutuhkannya. Adit beruntung punya asisten seperti Adam. ****             Sella yang langsung berangkat ke kantor tidak sempat bertemu Irwan di rumah. Sampai di kantorpun banyak pekerjaan yang menunggunya sampai-sampai ia lupa kalau Irwan menghubunginya semalam. Tiba-tiba saja pintu ruangan Sella dibuka dengan kasar oleh Ayahnya.             “Sudah pintar ya kamu minggat dari rumah.” Tutur Irwan marah.             Sella yang kaget mencoba menenangkan Ayahnya, “Tenang Pah, Sella nggak minggat.”             “Semalam Sella bertemu klien lalu karena kemalaman, saya menginap di Hotel.”                “Ah, kamu juga sekarang sudah pintar berbohong.”             “Sella tidak bohong Pah, periksa saja kalau papah tidak percaya.”             Irwan terdiam menatap anaknya dalam.             “Benar kamu jujur?”             Sella lalu menghampiri Irwan dan menggenggam tangannya mengajaknya untuk duduk.             “Sella jujur kok, saya bukan anak kecil lagi Pah. Saya tidak akan kabur dari rumah seperti dulu. Papah tenang saja.”             Irwan akhirnya tenang setelah mendengar perkataan anaknya, “Papah takut kamu kembali bersama Faris itu.”             Sella tersenyum memandang sang Ayah, “Saya dan Faris sudah selesai sejak lama. Tidak ada lagi yang dapat dipertahankan. Saya bahkan tidak tahu dia masih hidup atau tidak.” Sella mencoba membuat Ayahnya percaya dengan semua ucapannya. Dia tidak bisa berkata jujur kali ini.             “Tapi kalian….”             Sella berdiri dari sofa, “Jangan bahas masa lalu Pah, saya sudah melupakan semuanya.” Ucapnya dengan tersenyum manis, “Sebenarnya saya masih ingin berbincang banyak dengan Papah, tapi gimana dong. Pekerjaan saya menumpuk.”             “Baiklah, Papah pergi kalau begitu. Teruskan pekerjaanmu. Papah minta maaf karena meragukanmu.” Ucap Irwan sebelum pergi keluar dari ruangan itu.             Setelah Irwan pergi, Sella langsung menopang tubuhnya di meja kerja lemas. Untung saja dia bisa mengecoh sang Ayah. Kalau tidak bisa berabe. ****             Keesokan harinya Adit datang dengan membawa banyak oleh- oleh dan makanan sehat untuk Adel. Adel sampai bingung harus di simpan di mana semua makanan itu. Kosannya sempit, tidak muat jika harus menaruh makanan dan vitamin sebanyak itu. "Bapak nggak salah? Ini banyak banget." Melihatnya saja Adel sudah kenyang duluan. "Udah makan semuanya ini sehat kok. Biar kamu cepet sembuh." Tutur Adit yang sedari tadi menyodorkan semua makanan ke hadapan Adel. "Buahahhaha Bapak perhatian banget. Saya sudah sehat kok Pak, tapi makasih ya." Wajah panik Adit yang lucu membuat Adel tertawa cekikikan, walau sebenarnya dia tidak tega melihatnya. Tapi Adit sungguh menggemaskan. "Ayok dimakan, kamu sakit nggak ngomong sih. Pantes di w******p nggak dibales.” “Iya untungnya ada Bu Sella yang datang dan membawa saya ke IGD.” “Bu Sella? Dia yang kemaren kita ketemu di panti asuhan kan?" Tanya Adit penasaran. "Iya dia baik banget terus sampe nginep dan bikinin saya bubur lagi. Saya bingung harus menghubungi siapa, kebetulan dia menelpon saya waktu itu." "Bagus dong." Adit mengerutkan dahinya sedikit curiga dengan Bu Sella yang sampai menginap dan membuatkan bubur? sepertinya bukan hal biasa untuk seorang teman kerja yang bahkan baru dikenal. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD