Cinta

1860 Words
"Maaf saya nggak sengaja." Tutur Adel setelah selesai membereskan barang bawaannya "Mba tidak apa-apa?" Tanya Irwan menatap Adel. "Saya nggak papa,” Ucap Adel sambil tersenyum menatap Irwan.  “Bu Sella?" Ucapnya kaget melihat Sella di sana, Sella sendiri berusaha untuk menutupi kepanikannya dengan tersenyum tipis.             "Del, kenalin ini papah saya Pak Irwan." Ucapnya ragu-ragu. "Aah salam kenal, maaf ya Pak saya bener-bener tidak sengaja. Biar saya bersihin." Seru Adel yang melihat pakaian Irwan kotor karena terkena tumpahan sirup obat. "Nggak usah, nanti biar saya laundry saja. Kamu kenal sama anak saya? Nama kamu siapa tadi?" Tanya Irwan ramah. "Bukan kenal lagi, dia cucu yang kamu buang Pah." Gumam Sella dalam hati. "Oh saya Adel, saya Apoteker di RS ini. Bu Sella pernah jatuh dan berobat di sini." "Oh ya?" Tanya Irwan menaikkan alisnya tersenyum sambil menoleh ke arah putrinya, "Pasien?" Wajah Sella langsung pucat dan panik. Tapi dia harus tenang, papahnya tidak boleh tahu kalau dia berhubungan dengan Adel. "Iya Pah, Sella kemarin jatuh tertabrak motor lalu dia yang bawa ke IGD." Tutur Sella menjelaskan. "Wah saya berhutang budi dong sama kamu. Terima kasih ya." Ucap Pak Irwan. "Sama- sama Pak itu sudah tugas saya." "Adel ...Adel." Teriak Mba Lia yang mulai kerepotan dengan banyaknya pasien. "Maaf Pak, saya permisi dulu sudah di panggil." Seru Adel. "Silahkan silahkan.” Ujar Irwan. Adel dengan cepat berlari menghampiri teman kerjanya. “Baik sekali dia menolong kamu Sel sampai di bawa ke IGD lagi." Tutur Pak Irwan "Ehhmm, iya Pah dia memang baik. Ayok Pah kita kesana, ada Pak Nando yang sedang menunggu." Sengaja Sella mengalihkan perhatian Pak Irwan dengan hal lain agar tidak membahas soal Adel lagi. “Maaf mba, tabletnya pada berantakan. Tadi saya jatuh.” Ucap Adel sambil memasukkan obat-obatan tersebut ke tempatnya. “Jatuh? Kamu nggak papa?” Tanya Mba Lia. “Nggak papa kok.” Setelah selesai membereskan, Adel kembali melayani berbagai pasien. “Neng, cantik banget. Seneng ngeliatnya.” Ujar ibu-ibu dengan jilbab dan pakaian seadanya. “Terima kasih, ibu ini tekanan darahnya tinggi. Ibu makan apa biasanya?” “Saya hampir tiap hari makan ikan asin. Hehe.” Ucap Ibu sambil tersenyum merasa bersalah. “Oh, pantesan. Kurangin ya bu, tadi dokter sudah memberitahu pantangannya kan ya?” “Sudah-sudah.” “Ini untuk obat darah tingginya, sehari sekali saja. Tapi ibu jaga makannya ya, percuma kalau dikasih obat tapi tidak menjaga makan.” “Iya neng ibu mau hidup sehat deh. Suka puyeng ini pala haduh, mau ngapa-ngapain jadi susah.” “Tuh kan, yasudah di minum rutin ya Bu.” “Makasih ya neng, oh iya. Ini ada sedikit makanan. Dodol buat neng sama yang lainnya juga. Ini saya buat sendiri.” “Aduh nggak usah repot-repot atuh Bu.” “Nggak papa, saya terima kasih banget sudah bisa berobat. Saya kayak mau mati neng kadang puyeng badan nggak enak. Tapi nggak punya uang buat berobat.” Adel kemudian tersenyum, “Saya senang bisa membantu. Terima kasih ya bu.” “Iya.” Ucap Ibu itu lalu pergi bergantian dengan pasien berikutnya. Mba Lia yang melihat hal itu hanya tersenyum. Pukul dua siang, acara berobat gratispun berakhir. "Lumayan juga banyak warga yang antusias." Ucap Mak Yanti. "Iya untung juga waktunya terbatas kalau nggak, bisa tepar kita." Seru Mba Lia. Adel hanya tersenyum geli sambil membagikan dodol yang tadi dia terima. “Dari siapa ini?” Tanya Mak Yanti. “Tadi pasien yang ngasih.” Ucap Adel. ****             “Semalam, kamu bilang saya dimana?” Tanya Adit sebal pada dirinya sendiri.             “Di Bar, Bapak mabuk dan bersama seorang…”             “Diem kamu, awas kalau sampai ada yang tahu kalau saya mabuk. Argh, kenapa saya tidak ingat sama sekali.”             Adam kemudian melirik Adit dengan tatapan menilai, Adit yang melihatnya tidak mau kalah. Dia menatap Adam dengan penuh peringatan.             “Acara sudah selesai?”             “Sudah, semua orang sedang berbenah. Dan tim dari PT. I.B juga sudah pulang.” Tutur Adam, “Besok Bapak akan berangkat ke Kalimantan untuk menjadi nara sumber salah satu start-up yang dibangun di sana.” Lanjutnya sambil membaca layar tab yang ada di tangan.             “Oh iya, saya lupa. Sudah siap pemaparannya?”             “Sudah Pak.”             “Bagus, gaji kamu saya naikkan.”             “Terima kasih.” Tutur Adam begitu senang mendengar gajinya akan dinaikkan.             Adit lalu berdiri dari kursinya melangkah menuju jendela dan melihat ke tempat parkir yang dijadikan posko berobat gratis. Ternyata benar, semuanya sedang berbenah. Melihat Adel di sana, dia langsung mengambil jas dan kunci mobilnya. **** "Cie Adel." Ledek Mba Lia yang sedari tadi melihat seseorang di depan pintu utama Rumah Sakit menatap tajam ke arah mereka. "Hah? Kenapa mba?" Tanya Adel bingung. "Tuh udah di jemput." Tutur Mak Yanti yang ternyata juga melihat kehadiran Adit di sana. Semuanya orang jadi tahu dengan jelas sekarang. Ssrrttt. Saat Adel menoleh Adit pura-pura membuang wajahnya tidak melihat. Adel menghela napasnya heran dengan lelaki satu itu. Sudah ditolak masih saja terus menggangunya. Semua orang lalu bersiap untuk pulang, begitu juga dengan Adel. Sedangkan Adit yang sudah menunggunya sejak tadi di depan lobby melambaikan tangan tersenyum pada Adel. Adel mau tidak mau berjalan malu menunduk menghampiri Adit. "Bapak ngapain disini?" Bisik Adel gemas. "Mau jemput kamu, ayuk pulang." Ucapnya dengan polos, dia bahkan tidak ingat semalaman menangis karena ditolak wanita di depannya itu. "Bapak ini keras kepala sekali ya." Tutur Adel. "Tentu saja, selama ini saya tidak pernah gagal apalagi urusan wanita." seru Adit bangga hingga membuat Adel memutar bola matanya. Sepertinya dia benar benar sudah tergila-gila, akal sehatnya hilang. Adel yang risih, berjalan cepat meninggalkan Adit di belakang. Tapi dia tidak mau menyerah, dia mengikuti Adel kemanapun dia pergi. Adel yang tahu dirinya diikuti akhirnya berhenti melangkah, atasannya ini kalau tidak dia marahi maka tidak akan berhenti. "Bapak pulang saja, saya bisa pulang sendiri gih... giih." Adel yang kesal mendorong Adit menyuruhnya untuk pulang. Itu membuat Adit bertambah kesal dengan penolakannya dan menantangnya untuk terus mengejar Adel. Adel akhirnya pulang sendirian berjalan kaki, sedangkan Adit hanya melihatnya dari belakang. Semakin Adel menolaknya, semakin dia tertantang untuk meluluhkan hati wanita tersebut. Namun mereka berdua sama-sama keras kepala. Adel takut memulai hubungan karena statusnya yang ia khawatirkan akan membawa Adit jatuh. Dan kalau dia ternyata mencintai Adit, maka dia tidak akan sanggup melihatnya menderita. ****             Sampai di kosan, Adel merasakan perutnya tidak enak. Karena tadi terlalu sibuk dan begitu banyak pasien, dia akhirnya telat makan. Dan Adel sudah sejak lama punya pencernaan yang buruk. Baru meletakkan tasnya di atas nakas, tiba-tiba saja Tika masuk ke dalam kamarnya dan menatap Adel dengan penuh pertanyaan.             "Haaahhh, lo di tembak sama Pak Adit itu?" Bola mata tika seperti ingin keluar dari lubangnya, suaranya meninggi. "Ssstttt, iya tiba-tiba saja dia nembak gue. Gue belum yakin untuk berhubungan Ka apalagi sama dia, jadi gue tolak aja" Jawab Adel tengil. "Luar biasa Adel, nolak durian runtuh. Bisa-bisanya lo nolak cowok tajir ganteng begitu. Tapi gue sudah menerka dari awal kalau dia suka sama lo. Kalau nggak, mana mungkin dia nganterin lo pulang. Gue mau menginterogasi lo sebenarnya dari beberapa hari lalu, tapi karena lo sibuk dan gue juga. Jadi gue langsung aja terror lo ke kamar." Tika geregetan melihat temannya yang terlalu sulit untuk didekati. "Temen kayak lo gini nih yang bikin gue tetep waras Hahah. Gue juga baru kenal dia kan, nggak tahu deh gue bingung." "Gue nggak tahu harus ngomong apa, tapi gue rasa lo harus cari tahu perasaan lo ke Pak Adit itu gimana. Biar lo ga nyesel." "Caranya??" "Lo harus cari tahu sendiri kalau itu." Sungguh nasehat yang tidak berfaedah, membuat Adel bertambah pusing tujuh keliling "Tika makan, sudah siap tuh makanannya, ajak Adel sekalian." Teriak ibu Tika yang terdengar dari lantai bawah. Adel memang sejak SMA dekat dengan keluarga Tika, dulu dia sering sekali menginap di rumahnya. Namun semenjak kuliah, karena jarak yang jauh mereka jadi berpisah. Dan sekarang setelah bekerja, mereka ternyata dipersatukan kembali karena Adel dan Tika sama-sama bekerja di Jakarta. Dan keluarga Tika membangun kos-kosan yang kebetulan dibutuhkan Adel. Jadi dia memutuskan untuk tinggal di sana, lagipula lumayan kan, Adel bisa makan gratis juga. Keluarga Tika memang sangat baik kepadanya dan mengaggapnya seperti saudara, tapi Adel kadang merasa tidak enak dengan kebaikan mereka. "Iya Mah, bentar.” Teriak Tika pada Ibunya, ‘”Del ayok makan." "Lo makan duluan aja, perut gue lagi nggak enak. Nanti gue kebawah kalau udah enakan." Perutnya tiba-tiba terasa mual. “Yaudah, lo pasti telat makan deh tadi. kebiasaan.” “Hehe.” Adel hanya bisa tertawa. Tika kemudian keluar dan makan malam bersama keluarganya. Tidak bisa dipungkiri kadang Adel merasa iri pada keluarga yang Tika miliki. Mereka sangat harmonis dan kompak. Beberapa saat kemudian, Whatssap masuk ke handphone Adel. "Besok saya akan pergi ke luar kota tiga hari, saya ingin ajak kamu pergi sekarang. Saya ada di depan kosan kamu." Tulisan di w******p yang bernama Pak Adit ini, isinya selalu pemaksaan. "Walah, ini orang nggak ada kapoknya." Namun saat itu juga senyum tersimpul dari bibir mungilnya, tanpa sadar Adelpun selalu memberikan apa yang diminta oleh Adit. Dia melihat jam ditangannya dan langsung buru-buru dandan juga memakai pakaian yang bagus. Ternyata dia sudah mulai menyambut Adit dengan baik walau dia sendiri tidak menyadarinya. "Benar-benar keras kepala. Tadi bukannya sudah saya tolak, eh malah kesini. " Tutur Adel kesal. "Saya lupa kalau saya akan pergi besok, jadi saya ingin ngajak kamu jalan sekarang." Ucap Adit kaku. Adel terdiam tanpa berkata apapun. “Sebagai teman, anggap saya sebagai teman.” Ucap Adit. "Baiklah kalau memaksa, kita mau kemana?" Adit yang baru tersadar ada yang aneh, memindai penampilan Adel dari ujung kepala sampai ujung kaki, “Jangan bilang kamu dandan karena ingin bertemu saya. Wah, kamu licik.” “Yasudah kalau tidak mau.” Ancam Adel yang berbalik ingin meninggalkan Adit, namun buru-buru lelaki itu menahan tangannya. "Tunggu tunggu, oke oke. Jangan marah, kita nonton , makan dan jalan-jalan deh pokoknya." Adel tersenyum mendengar kata-kata Adit, dia lalu masuk ke mobil dan memicingkan matanya. "Ini sepertinya sama saja dengan kencan, Bapak tidak mau mundur ya walau sudah saya tolak." "Namanya juga usaha, saya tidak akan mundur sebelum mendapatkan apa yang saya inginkan." Ya, Adit tidak pernah kalah. Dia akan selalu mengejar apa yang dia inginkan. Mereka pergi nonton film horror, Adit ternyata takut nonton film horror. Sepanjang penayangan dia teriak dan ketakutan membuat Adel yang di sebelahnya terus tertawa. Dia tidak menyangkan kalau atasannya ini seperti anak kecil, buat apa dia memintanya nonton film horror kalau dia sendiri takut.  Selesai menonton Adel yang melihat tempat permainan lalu meminta pergi ke timezone. Mereka bermain bola basket bersama dan banyak permainan lainnya. Sampai mereka keringetan dan mendapat banyak kupon tiket hadiah, akhirnya hadiah itu ditukarkan dengan boneka beruang yang Adit persembahkan untuk Adel. Terakhir, mereka makan di Restaurant all you can it sampai kekenyangan. Mereka berdua ternyata sama-sama pemakan berat. Saat mereka keluar dari Mall, ada kembang api menyala di atas mereka membuat semuanya menjadi romantis. Adit yang menggenggam tangan Adel kemudian menatapnya dengan dalam, perlahan namun pasti dia mendekatkan bibirnya dan menciumnya dengan hangat. Adel yang terhentak tidak menolaknya, dia malah menikmati bahkan membalas ciuman tersebut. Perasaan Adel sudah jelas. Dia juga cintai dengan Adit. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD