Kiara

3285 Words
Bab 1 "Aku pamit pergi ya." Kata-kata itu teriang dalam benak Kiara, sungguh dia tak akan sanggup jika membiarkan Dani pergi. Namun Kiara juga tidak bisa mencegah Dani untuk pergi, apalagi Dani berniat mengejar impian terbesarnya. Kiara menarik napas, mencoba tersenyum dan menguatkan dirinya, dia yakin pasti bisa walau nantinya Dani tak selalu ada di sampingnya lagi. Kiara tersenyum menatap rembulan, hari ini adalah malam bahagia bagi dirinya diajak jalan oleh sang kekasih adalah salah satu hal yang paling Kiara dambakan sejak kemarin-kemarin. Pasalnya kekasihnya, Dani selalu sibuk dengan pelatihan fisik yang dia lakukan, dengan alasan ingin mewujudkan impiannya menjadi seorang Tentara Negara Indonesia tercinta, selain daripada itu dia juga berjanji akan bisa membahagiakan dirinya kelak. Kiara memegang janji itu. "Hari ini jadikan?" tanya Dani dari balik telefon. Kiara menghela napasnya, bagaimana bisa acara ini tidak jadi sedangkan dirinya sudah menyiapkan outfit-nya sejak seminggu yang lalu, ya masa gagal? Tidak mungkin sekali. "Ya jadi dong!" Kiara terdengar sangat bersemangat. Malam itu mereka jadi pergi, Dani menjemput Kiara dan mereka jalan bersama, mulai awal menaiki motor jalan-jalan ke sana kemari dan berhenti di sebuah kafe. "Laparkan? Aku tadi dengar suara perut kamu," ujar Dani. Kiara menggeleng. "Kamu ngasal, orang aku nggak lapar, cuman haus aja soalnya teriak pas naik motor kamu bawanya kekencangan." Kiara memberikan jaket milik Dani kepada pemiliknya. "Kenapa kita enggak makan di tempat biasa?" tanya Kiara, biasanya Dani membawa dirinya untuk makan gado-gado kesukaannya, sekarang malah ke kafe yang lumayan besar dengan lampion di ujung-ujung sana membuat siapa saja melihatnya pasti terpukau. "Karena malam ini bukan malam biasa. Tapi malam luar biasa, emang nggak boleh kalau hari ini spesial? Soalnya kangen juga main sama kamu, kalau emang di sini nggak nyaman kita bisa ke tempat lainnya kok," ujar Dani. Kiara menggeleng. "Di sini pemandangannya cantik, siapa yang mau nolak?" Mereka duduk di ujung, sambil melihat sebuah danau yang lumayan besar di ujung sana dengan ditemani lampion, dengan cahaya yang terbilang redup. Dani memandang wajah Kiara lama, sedangkan Kiara hanya sibuk menatap danau tersebut, menurutnya itu sangatlah cantik dan menawan ditambah dengan lampion. "Cantik," gumam Dani terdengar jelas di telinga Kiara. Kiara menghela napasnya dan tersenyum. "Apa sih kamu ...." Gadis itu menunduk malu. "Maksudnya lampionnya cantik kan? Soalnya kamu natap ke sana mulu, sampai aku nggak ditatap, apa kalah sama visual aku?" tanya Dani. Kiara tertawa. "Jadi kamu cemburu sama lampion itu karena aku cuman natap ke dia doang? Kamunya enggak? Dasar." "Bisa dibilang kayak begitu, eh kamunya mau pesan apa?" Kiara menatap menu, dia seperti tak tertarik dengan apa pun selain gado-gado. Dirinya juga jarang ke tempat seperti ini karena menurutnya ini terlalu boros uang. Namun kata Dani lagi, ini hanya sesekali dengan tujuan ingin menyenangkan hati Kiara. Kiara senang, atas perlakuan manis itu. Setelah menghabiskan makanan, cerita banyak hal dan juga curhat soal masalah-masalah yang terjadi Kiara mencoba tetap tegar saat Dani curhat masalah dirinya yang akan pindah dalam 2 bulan ini. Kiara terdiam lama saat Dani membuka sebuah topik itu. "Keputusannya udah ada?" tanya Kiara pelan. "Kata ayah harus ada sebelum bulan 5 mendatang, soalnya mau persiapan sebelum naik kelas. Di sini susah jangkauannya Ra, kalau aku sekolah di sini kemungkinan besar susah buat aku lulus menjadi TNI," ujar Dani. Kiara terdiam, dia mengangguk. "Tapi ... kita, hubungan kita?" Dani memegang tangan Kiara. "Tetap berjalan kan? Kamu takut soal itu? Kita cuman beda provinsi, bukan beda negara, aku bisa kembali saat libur, weekend," ujar Dani. Kiara tak bisa berkata-kata lagi, dia mencoba menenangkan pikiran yang menganggu, jujur ada doa yang jahat buat Dani dari dirinya, berharap kalau Dani tak akan pergi, dia tetap berada di sini menemani dirinya. Dia sudah terlanjur cinta dengan Dani, tak mau sampai lelaki itu pergi ... walau Kiara sadar ini semua demi impian Dani. Kenapa Kiara begitu egois? "Ini masih lama Kiara, kenapa kamu begitu takut? Aku tak akan mungkin melupakan semua kenangan kita, apalagi sampai memutuskan hubungan kita." "Kamu taukan apa saja impian yang pengen banget aku wujud-in? Ini juga demi kamu dan aku, kalau impian ini tercapai kamu dan aku bisa membangun masa depan yang lebih baik kan?" tanya Dani. Kiara mencoba tenang, dia mengangguk dan tersenyum bukannya kebahagiaan Kiara itu juga terletak pada kebahagiaan Dani? Memang kalau Kiara sudah jatuh cinta dirinya terlihat sangat bodoh dan b**o. * Kiara membereskan barang-barangnya, dia berniat untuk ke sekolah, gadis itu menatap dirinya di pantulan cermin menata rambutnya dan juga roknya. "Kiara udah selesai siap-siapnya?" tanya Anita—ibu dari Kiara. "Udah Ma!" "Kiara berangkat sama Dani kan? Soalnya sopir udah pergi anterin adek kamu ke sekolah," ujar Anita. Kiara duduk di samping ibunya, mengecek handphonenya. "Iya Dani otw ke sini mah," ujar Kiara. "Tanya coba dia udah sarapan apa belum? Kalau belum sekalian aja sarapan bareng kita." Anita memberikan piring dengan 2 biji roti dicampur selai itu kepada Kiara. Kiara mengambil air dan meminum susunya. "Belum katanya. Tapi tau Dani kan? Pasti bakal nolak kalau mau sarapan bareng, udah jadi kebiasaan," ujar Kiara. "Nanti Mama paksa." Tak lama setelah itu ada suara klakson motor, Anita dengan cepat berjalan ke luar memanggil Dani, mengajaknya untuk sarapan. Dan kini mereka berada di bulatan meja makan, Kiara tersenyum saat Dani dengan santainya masuk tanpa malu-malu lagi. Biasanya dia ragu ingin masuk dan duduk bersama dengan ibunya. Ayah Kiara sudah pergi ke surga, salah satu hal dan alasan kenapa Kiara tak mau ditinggal oleh Dani. Apalagi ... kasus meninggalnya papanya itu saat berjuang untuk perang, tewas dalam peperangan menjadi seorang tentara Indonesia. Sakit, Kiara tak bisa membayangkan lagi kalau dia kehilangan orang yang dia sayang untuk kedua kalinya. "Jadi kamu bakal pindah?" Pertanyaan yang dikeluarkan Anita membuat jantung Kiara menjadi tak karuan, dirinya mencoba menahan lagi gejolak rasa ingin menolak persetujuan itu, namun sadar dirinya hanya sepasang kekasih yang bahkan belum sah. "Kemungkinan besar jadi tante, doain Dani ya semoga bisa wujudin mimpi Dani dan segera melamar Kiara." Anita tersenyum, mendengar itu ada makna yang sangat besar bagi dirinya. Mengingat almarhum suaminya dahulu, sama seperti kejadian ini. Suaminya dulu bertekad menjadi tentara Indonesia, dan anaknya sekarang pasti sedang bimbang. Terlihat sekali dari raut wajah Kiara yang mencoba tenang dengan garpu yang dia genggam erat. "Semoga ya, tante tunggu kamu. Dan Kiara pun sama akan menunggu kamu, tante doakan kalian akan bertemu di lain kesempatan dan menjalin kembali hubungan dengan tercapainya impian masing-masing," ujar Anita dia mengelus pelan pucuk kepala Kiara. Seolah tau apa keraguan yang ada di dalam dirinya. "Udah selesai sarapannya, ayo berangkat!" Kiara mencoba bersemangat kembali. Mencoba hari-hari tanpa menjadikan kepergian Dani sebagai alasan dirinya terus bersedih apalagi sebagai beban pikiran. "Janji jangan sedih?" tanya Anita berbisik. Kiara menatap ibunya dan tersenyum. Bab 2 Kiara memeluk Dani dari belakang, dia menghirup udara segar yang ada di sepanjang perjalanan, juga bau parfum khas yang sering dikenakan oleh Dani membuat dirinya menjadi sangat candu bila di dekat kekasihnya ini. "Tumben nempel banget? Mau apa, hm?" tanya Dani melihat wajah Kiara dari kaca spion. Kiara tertawa lalu menggeleng. "Nggak ada cuman pengen gini aja," ujar gadis itu lalu menyandarkan kepalanya di pundak Dani. "Hari ini sibuk apa? Mau pergi pelatihan fisik abis pulang sekolah?" tanya Kiara seolah tahu apa yang menjadi kebiasaan Dani bepergian setelah sepulang sekolah. "Hem, nggak sih 3 hari mendatang aku cuman fokus sama kesehatan tubuh, pola makan teratur, olahraga juga olahraga biasa doang," ujar Dani sambil melirik raut wajah Kiara di balik kaca spion. Sebenarnya kalau boleh jujur, Dani pun juga kadang kasian dengan pikiran yang pasti selalu menganggu Kiara. Dani tau akan hal itu, apalagi gadis di belakangnya ini sempat bercerita soal ayahnya yang mati-matian membela bangsa Indonesia dan berakhir mempertaruhkan nyawanya. Dani ... bimbang, namun dia membulatkan tekadnya untuk mencapai mimpi itu. Dirinya tak boleh lengah hanya karena ini, impian sedari kecil yang dia dambakan harus dia capai semaksimal mungkin, dia harus menunjukkan bakat sesungguhnya apalagi kepada sang ayah. Ayahnya sempat meragukan dirinya, hingga Dani merasa kecewa. Namun kata ibunya, ejekan ayahnya itu justru menyuruh Dani untuk bangkit. Dani memegang tangan Kiara yang melingkar di pinggangnya. "3 hari ini mau ngapain? Mau ngabisin waktu sama aku apa kamunya punya kesibukan lain?" tanya Dani. Kiara tak menjawab, dia masih tak tau pasalnya sebentar lagi akan ada ujian akhir semester, dia akan naik ke kelas 12. Dan nilainya juga harus lebih daripada sebelum-sebelumnya, Kiara selain daripada fokus dengan organisasinya, dia juga fokus mengejar SNMPTN, dia berharap lulus karena mengingat ibunya sibuk mengurusi dirinya dan adiknya, walau ada harta peninggalan sang ayah namun Kiara tak boleh membuang kesempatan ini, bukan? Kuliah gratis. * Sama-sama punya impian, Dani terpaksa harus pindah ke luar provinsi karena beberapa alasan, keluarganya di Maluku juga jauh lebih banyak daripada di sini. Tingkat kesempatan buat masuk menjadi anggota TNI di sana lebih terjangkau buat dirinya, daripada di sini. Dani meneguk airnya hingga abis, menatap Kiara yang kini berjalan ke arahnya, Kiara duduk di samping Dani. Dia menatap kekasihnya lama lalu tersenyum. "Mau olahraga siang-siang bolong gini, gurunya salah atur jadwal banget sih, masa orang olahraga jam 1 siang, nggak etis banget." Kiara mengomel-omel seperti biasa. Dani tertawa, lucu sekali jika dia melihat wajah Kiara yang sedang marah seperti itu. "Izin aja, bilang aja lagi nggak enak badan nanti aku temenin di UKS, gimana?" tanya Dani menyingkirkan poni Kiara yang menganggu pandangannya. Kiara menatap Dani lalu menggeleng. "Nggak, masa kamu bolos sih? Jangan deh aku bisa kok olahraga, cuman ngeluh karena panas aja. Walau emang lapangannya ada lapangan khusus tapi ... malas aja gitu," ujar Kiara. "Mau aku temenin biar nggak malas?" Perhatian itu, selalu membuat hati Kiara berbunga-bunga entah dengan cara apa dia berhasil membuat Kiara menjadi senang, Dani adalah separuh dari kebahagiaan Kiara. Kiara tersenyum dia memegang tangan Dani. "Kamu tuh baik banget sih, tumben banget bucinnya ampe kecium di sini." Kiara menatap Dani. Dani mengacak-acak rambut Kiara. "Emang salah ya? Aku kan pengen ngabisin waktu sama ayangku," ujar Dani. Kiara benar-benar merasa senang untuk sekarang, memang benar ya merasakan jatuh cinta itu adalah perihal yang sangat indah buat manusia. Mereka berdua mengobrol bebas di kantin. *** Sekarang Kiara berada di ruang ganti, dia merapikan rambutnya saat setelah mengganti pakaian menjadi pakaian olahraga. Kiara mengusap wajahnya pelan, sepertinya dia harus terbiasa dengan hari-hari jika tiada Dani berada di sisinya, kenapa dirinya begitu tidak rela? "Lama banget sih Ra!!" Seseorang sedang menggedor-gedor pintu ruang ganti baju mengangetkan Kiara yang sedang menatap dirinya di cermin. "Oh ya soryy." Kiara mengambil baju batiknya dan keluar dari ruangan. Biasanya dia bersama dengan Shela, sahabatnya namun ... gadis itu izin ke rumah sakit mengantar kakaknya yang sedang sakit parah. Kiara tidak ada mood di sepanjang pelajaran, karena dirinya tidak ditemani oleh sahabatnya, Shela. Namun sikap Dani tadi cukup membuat dirinya menjadi mood kembali. Kiara berjalan menuju lapangan, melihat teman-temannya sedang berkumpul melempar-lempar bola basket dan saling tangkap menangkap, Kiara duduk di tangga tempat biasa orang menonton menunggu pak guru yang datang memberikan materi dan praktek. "Hari ini prakteknya apa bu ketua?" tanya Radit. Kiara adalah ketua kelas di kelasnya, dia menduduki jabatan itu juga karena pilihan langsung dari gurunya, dengan alasan Kiara adalah orang yang cocok untuk memimpin, Kiara heran namun dia tak menolak permintaan itu, dia menjalankan sebaik mungkin saat dirinya merasa diremehkan oleh seseorang, teman kelasnya sendiri. Jiwa untuk membuktikan bahwa dirinya layak sangatlah besar. Dan akhirnya, dia berada di posisi di mana dirinya dihargai sebagai ketua kelas. Walau di kelasnya masih sering terjadi masalah yang seperti anak-anak, namun dirinya berusaha untuk mengembalikan semuanya pada kendalinya. "Ah kurang tau, pak Ridwan juga nggak kasih tau aku," ujar Kiara. "Ra, ini Jakarta Ra, kenapa sih pake aku-kamu? Udah dari kelas 10 sampai sekarang masih aja gitu?" tanya Angel tiba-tiba mempermasalahkan logat bahasa Kiara. "Eh lo kayak nggak tau aja! Kiara kan asli bandung, dia bukan orang sini. Ke sini juga karena ibunya yang mau," sela salah satu siswa yang cukup dengan Kiara. Kiara sepertinya tak harus berkata-kata lagi, sudah ada yang mewakili dirinya untuk mengungkapkan apa yang dia ingin katakan. "Bukan nanya lo, gue nanya ke Kiara. Aneh aja gue dengarnya kayak alay," ujar Angel. "Dasar sewot jadi orang, kalau udah jadi kebiasaan nggak usah nuntut orang buat jadi apa yang lo suka," ujar Radit. "Iya deh kalian berisik amat, gue baru bersuara aja udah digituin, males gue di kelas ini. Gue kayak dipojokin semenjak dia jadi ketua kelas," ujar Angel. "Perasaan lo aja gila," ujar Radit membalas. Biasanya akan banyak lagi orang yang membuka suara baik membela Angel atau membela Kiara. Keduanya memang terlihat sedikit tidak akur, mungkin ada masalah, susah untuk mengetahuinya karena Kiara termasuk tipikal orang yang tidak pedulian, dia hanya fokus sama kebahagiaannya dan hal yang sudah menjadi tujuan hidupnya. Priut ... Pak Ridwan datang, dia menepuk beberapa kali tangannya untuk membuat anak-anak kumpul di lapangan dengan barisan yang biasa ditentukan. "Karena bapak hari ini ada kepentingan di ruang komputer untuk proses ujian kalian nanti, maka olahraga untuk hari ini tidak ada, kalian bisa kembali ke kelas kalian," jelas pak Ridwan. Bak seperti hadiah bagi Kiara, dia tersenyum dengan hati yang sangat bahagia. Dia sekarang sedang tidak bersemangat karena Shela, tidak datang ke sekolah. Semoga saja besok adalah hari yang baik, Shela datang dan mood Kiara kembali. **** "Jadi hari senin bakal diadakan ujian? Omg! Malas banget deh, aku belum belajar banyak," ujar Shela dari balik telfon. Kiara hanya mendengarkan sahabatnya itu. "Oh ya, gimana? Dani jadi pindah ya?" Kiara memberhentikan aksi menulisnya di atas ranjang king miliknya. Dia memperbaiki posisinya. "Nggak tau." Kiara hanya mengucapkan itu, walau dia tau betul bahwa Dani benar-benar akan pindah meninggalkan dirinya di Jakarta. "Hem gitu, semoga nggak deh. Btw aku udah mau pulang dari rumah sakit, besok aku ke sekolah, aku tau kamu rindu ...." Terdengar suara menggoda dari balik telfon membuat Kiara tertawa. "Tau aja deh, yaudah hati-hati deh. Aku mau tidur, ayang nggak ngechat jadi nggak semangat," ujar Kiara lemas. "Dasar bucin!" Shela mematikan telfon sepihak, Kiara hanya tertawa. Menunggu notif Dani malam ini cukup membosankan baginya, dia memilih untuk menonton drama Thailand kesukaannya, Kiara menatap layar laptopnya dengan drama yang terputar di sana. Kiara menguap beberapa kali baru kali ini dirinya mengantuk saat sedang menonton. "Kamu udah makan?" Suara Anita terdengar, Kiara menoleh ke samping pintu kamarnya terlihat ibunya yang berdiri di ujung pintu. "Nggak ma, lagi nggak mood makan." "Jangan gitu, liat badan kamu udah kurus gitu, enggak sayang sama tubuh kamu apa? Kalau lagi sedih cerita sama Mama, jangan sampai mogok makan gitu," ujar Anita. Kiara menghela napasnya pelan. "Kiara lagi nggak pengen makan, Ma." "Dikit aja, makan kalau kamu masih sayang sama Mama. Jangan sampai sakit, Mama masih banyak kerjaan buat ngurusin 3 anak, kerja dan segala macam, adikmu ada 2 kamu harus bisa jaga kesehatan buat tetap bertahan hidup ... kalau tiba-tiba Mama udah nggak ada kamu yang gantiin posisi mama," ujar Anita. Kiara menggeleng, dia tiba-tiba takut mendengar penuturan ibunya, ditinggal Dani saja dirinya tak sanggup apalagi ditinggal sang Mama, orang yang menjadi belahan jiwanya. "Oke ma, jangan ngomong gitu ... Kiara makan sekarang," ujarnya turun dari ranjang miliknya mematikan laptopnya dan keluar dari kamarnya melewati ibunya yang masih menatap dirinya. Kiara berjalan ke dapur dia membuka tudung saji, dia melihat makanan yang sudah disiapkan ibunya, masih ada, keluarganya sudah makan, hanya dirinya saja yang belum. "Kakak aku ada tugas matematika, tapi susah ... mau bantuin?" tanya Revan—anak kedua dari saudaranya. Dia adalah adik tertua Kiara, umurnya masih 8 tahun. "Iya nanti kakak bantu kalau abis makan, kamunya kerja aja dulu kalau salah nanti kakak bantu benerin deh," ujar Kiara. Revan dengan semangat mengangguk, lelaki kecil itu berlari menuju ruang tamu. Kiara melanjutkan makannya, setelah selesai makan dia pergi menyusul adeknya sudah lama dia tak pernah membantu adeknya untuk mengerjakan tugas, dikarenakan dirinya juga sibuk dengan sekolahnya. Bab 3 Cerahnya hari ini membuat Kiara mengembangkan senyumnya. Langkah kakinya terhenti di depan toko roti, aroma manisnya menggoda dia untuk sarapan roti di hari Minggu ini. Kali ini dia harus bisa terbiasa tanpa Dani, tanpa lelaki yang biasanya perhatian dengan dia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kinu Kiara berusaha untuk tersenyum bahagia walau Dani sudah tak ada di sampingnya lagi. Kiara masuk ke dalam toko roti, begitu banyak pilihan roti yang menggugah seleranya, matanya terjatuh pada kue muffin coklat. "Mau beli yang mana?" tanya salah seorang pramuniaga kepada Kiara. Dia mendongak, mendapati seorang lelaki tinggi dengan baju chef, kacamata dengan frame bulat menghiasi wajahnya. "Ini, muffinnya satu," ucap Kiara tersenyum. "Hanya muffin saja? Ada menu yang baru, mau coba kak?" ucapnya lagi. Dia menawarkan roti menu baru yang ada di barisan paling depan. "Silahkan," ucapnya tersenyum ramah kepada Kiara. Sebagai pelanggan baru, Kiara benar-benar merasa dilayani sepenuh hati. Sungguh dia begitu bahagia saat ini. Rasa kesepiannya sedikit terusir dengan beberapa kue coklat di hadapannya. Kiara lalu membayar kue itu, dia berdiri di kasir dan ternyata lelaki tadi itu juga menjabat sebagai kasirnya. "Berapa mas semuanya?" tanya Kiara sembari mengeluarkan dompetnya. "Khusus untuk kakak cantik yang pertama kali mengunjungi toko baru saya, semuanya gratis kak." Kiara menaikkan alisnya, dia cukup terkejut mendengarnya, seperti dijatuhi durian runtuh, dia beruntung dua kali. "Benar mas?" tanya Kiara meragu. "Iya, khusus untuk pelanggan pertama hari ini, semua kuenya gratis." Kiara seketika menjadi sumringah, terlihat jelas wajahnya menjadi cerah mendengar kata gratis. "Wah, benar? Makasih lo mas," ucap Kiara "Tapi ada syaratnya," ucap lelaki di hadapannya. Kiara melirik ke arah name tag yang ada di baju chefnya. Dia melihat ada nama Reno Rahmad Algheza. "Syaratnya apa?" jawab Kiara penasaran. "Rotinya harus dimakan di sini, dan kalau boleh mbak aku foto ya buat feed ig, tenang, nanti aku kasih feenya," ucap Reno dengan senyum manisnya. Lesung pipinya terlihat jelas, membuat Kiara sejenak terpaku. "Oh gitu, boleh deh," ucap Kiara. Kiara lalu duduk di bagian samping toko roti, cukup luas dan memang cocok jika cafe dengan toko roti disatukan. Reno lalu masuk ke dalam, melepas baju chefnya dan dia tinggal memakai kemeja kotak-kotak berwarna biru lalu mengambil kameranya yang ada di atas meja pribadinya. Reno lalu sedikit berlari kecil untuk segera menemui Kiara yang sedang memakan kue, dia tersenyum kepada Kiara lalu mengangkat kameranya dan Kiara mengangguk setuju bahwa dia akan diambil fotonya Kiara. Hasil foto Reno sangat bagus, apalagi Kiara juga cantik, sangat pas dan Reno langsung mengupload di instagramnya. Selang beberapa menit, beberapa orang menyukai foto Reno, apalagi karena hastag yang dia gunakan membuat beberapa orang langsung tertarik mendatangi cafe baru Reno. Kiara sangat senang melihat banyak pengunjung, bahkan sampai Reno kewalahan. Baru pertama kali Reno membuka toko roti ini dan dia belum ada pegawai. Kiara yang sedang libur akhirnya dia berdiri di samping Reno, membantu membungkus roti pelanggan. Setelah lima jam lamanya melayani, akhirnya toko roti milik Reno mulai agak sepi, roti buatan Reno pun sudah hampir habis. "Wah habis rotinya, hanya tersisa lima." Kiara berbinar menatap roti yang laris itu. Padahal semalam Reno membuat dua ratus roti sendirian. Cafe dan toko roti ini adalah rumah milik keluarganya yang dia renovasi semenjak orang tuanya meninggal. Awalnya lulus kuliah Reno memilih bekerja di perusahaan, namun kini dia memberanikan diri untuk membangun usaha toko roti impiannya. "Yaampun, makasih banyak ya, atas bantuan kamu rotinya laris." Kiara mengangguk, dia membantu Reno karena melihat Reno kewalahan melayani ratusan pelanggan. Berkat Kiara, toko rotinya menjadi laris. Memang Kiara gadis manis yang sangat cantik, siapapun yang melihatnya pasti akan terpikat olehnya. "Makasih," ucap Reno. Dia memberikan amplop berisi uang ratusan ribu, dengan senang hati Kiara menerimanya. "Kamu masih sekolah?" tanya Reno. "Iya, sekolah di SMA Garda Nusa," ucap Kiara. "Kelas berapa?" tanya Reno "Kelas tiga kak," ucap Kiara. Reno pun membungkus lima roti sisanya dan menyuruh Kiara membawanya pulang. Dia bahkan menawarkan Kiara untuk bisa bekerja di sini saat Kiara sudah pulang sekolah. Dengan senang hati Kiara menerimanya. Seolah dia membuka kehidupan baru tanpa Dani, dia memberanikan diri untuk hidup lebih mandiri, berani untuk bekerja sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD